Jalan saja yang lurus ! Seru doktrin sejak kecil hingga kini.
Aaahh.. Saya sudah bosan soal itu. Kamu saja sana, aku mau jalan berkelok atau buka yang baru.
Sepertinya, sudah lama aku diminta berjalan lurus. Buat apa, ya agar benar saja perjalanan dan katanya bisa sampai tujuan dengan selamat.
Kemana? Aku tak tahu akhirnya ada di mana. Belum pernah aku tiba di titik akhir. Mungkin sebagian orang pernah kesana lantas hidup lagi.
Pernah satu kali aku tunggangi Vespa melintasi jalur Pantura. Kurang lebih 10 jam perjalanan dan lurus saja tak berkelok sampai tiba di persimpangan Tegal, Jawa Tengah. Iramanya, tak lebih dari 40 kilometer perjam.
Cukup lambat memang, ya mesin hanya mampu berlari segitu menuju Yogyakarta yang cukup digemborkan sebagai kota seni sekaligus wisata. Sepulangnya, jalur selatan kupilih.
Jalan berkelok, menanjak, menurun, kadang datar dan rusak, kujajaki tiap centi-nya. Aku riang, meski lebih lelah namun tak sengantuk melintasi Pantura yang lurus saja sepanjang 1.316 kilometer antara Merak-Ketapang, Banyuwangi yang dibuat pertama kali dibuat oleh Daendels.
Oke, aku mau selaras. Tapi kalau untuk menempuh jalan lurus saja selama 60 tahun jika dipatok rata-rata, sepertinya aku lebih senang kadang lewat alternatif dan kembali menepuh jalur utama tadi.
Aaahh.. Saya sudah bosan soal itu. Kamu saja sana, aku mau jalan berkelok atau buka yang baru.
Sepertinya, sudah lama aku diminta berjalan lurus. Buat apa, ya agar benar saja perjalanan dan katanya bisa sampai tujuan dengan selamat.
Kemana? Aku tak tahu akhirnya ada di mana. Belum pernah aku tiba di titik akhir. Mungkin sebagian orang pernah kesana lantas hidup lagi.
Pernah satu kali aku tunggangi Vespa melintasi jalur Pantura. Kurang lebih 10 jam perjalanan dan lurus saja tak berkelok sampai tiba di persimpangan Tegal, Jawa Tengah. Iramanya, tak lebih dari 40 kilometer perjam.
Cukup lambat memang, ya mesin hanya mampu berlari segitu menuju Yogyakarta yang cukup digemborkan sebagai kota seni sekaligus wisata. Sepulangnya, jalur selatan kupilih.
Jalan berkelok, menanjak, menurun, kadang datar dan rusak, kujajaki tiap centi-nya. Aku riang, meski lebih lelah namun tak sengantuk melintasi Pantura yang lurus saja sepanjang 1.316 kilometer antara Merak-Ketapang, Banyuwangi yang dibuat pertama kali dibuat oleh Daendels.
Oke, aku mau selaras. Tapi kalau untuk menempuh jalan lurus saja selama 60 tahun jika dipatok rata-rata, sepertinya aku lebih senang kadang lewat alternatif dan kembali menepuh jalur utama tadi.
Komentar
Posting Komentar