Budayaku Budayamu

Hubungan RI-Malaysia, seringkali memanas akibat saling klaim wilayah teritorial dan produk budaya.
Semua orang tahu. Malaysia-Indonesia, tergolong satu rumpun bangsa Melayu yang berbeda kedaulatan dan doyan ribut. Perebutan kesenian dan wilayah teritorial, mewarnai kehidupan bertetangga dua negara ini.
Bukan hanya dua negara tadi. Brunei Darussalam, Singapura, Thailand, Srilanka, Myanmar, Filipina, juga termasuk ke dalam bangsa beretnis Melayu. Produk-produk budayanya pun, tak dapat dielakkan lagi banyak kemiripan.
Kemiripan tersebut, terjadi akibat akulturasi di seluruh wilayah etnis Melayu sejak manusia mengenal perdagangan hingga penjajahan. Sebagai contoh, ketika menjabat sebagai Patih di Kerajaan Majapahit yang menguasai hampir separuh lebih daratan Asia Tenggara, termasuk teritorial Indonesia saat ini, Gajah Mada tak hanya melakukan ekspansi politik. Pada sendi budaya, dia juga kerap memperkenalkan kesenian Jawa dengan turut serta membawa rombongan seniman ke setiap tanah jajahan kala berkunjung.
Luasnya wilayah Kerajaan Majapahit, membuat warganya dengan leluasa berpindah dari satu daerah ke daerah lain. Tiap pulau, dikangkangi menggunakan kapal layar. Akibatnya, bukan tak mungkin jika sebuah kesenian tersebar baik sengaja maupun tidak dan membawa pengaruh besar bagi keberadaan serta perkembangannya.
Beberapa tahun lalu secara berentet, Malaysia sempat mengklaim batik, reog serta wayang kulit, sebagai kesenian aslinya. Orang Indonesia pun segera kebakaran jenggot dan ramai-ramai berdemo di depan Kedubes Diraja Malaysia.
"Malaysia, MALINGSIA!" Kira-kira begitu bunyi salah satu poster yang dibentangkan demonstran.
Salah satu stasiun televisi swasta di Indonesia yang ingin sekali mencitrakan dirinya paling benar dengan cara memojokan sumber berita, sempat menelusuri. Hasilnya, diketahui ada Dalang wayang kulit yang telah bermukim di Malaysia sejak empat generasi sebelum dia dan memasyarakatkan aktifitas seninya kepada warga negeri persemakmuran Inggris itu secara turun-temurun pula.
Dalam pergaulan sehari-hari, si Dalang dengan logat kentalnya menggunakan bahasa Melayu Malaysia. Bahkan, dia pun telah mengantongi kewarganegaraan setempat. Namun ketika beraksi memainkan sebuah lakon di pentas wayang kulit, bahasa Jawanya terucap sangat fasih.
Bukan cuma wayang. Saat batik juga diklaim, Pemerintah RI dan warganya kembali seperti kecabut rambut di jempol kakinya. Semua marah. Semua menghujat. Dan penguasa, segera menetapkan tanggal 10 Oktober sebagai hari batik nasional. Beruntung, seluruh jawatan negeri dan swasta menyambut baik dengan menghimbau pegawainya menggunakan batik tiap Jumat.
Isyu tersebut, mengundang kegeraman bangsa Indonesia yang sebenarnya memiliki andil besar hingga budaya direbut tetangga. Tukang somay, guru, wartawan, pelajar, hingga pengangguran ikut aksi dengan memakai batik tiap Jumat. Hasilnya, batik semakin dicintai dan omzet penjualannya makin meningkat. Sejahteralah pengrajinnya.
Reog Ponorogo dan kesenian lain yang pernah diklaim Malaysia, bernasib serupa batik. Tiap digelar perayaan, selalu ditampilkan kesenian-kesenian tersebut hingga akhirnya segera didaftarkan ke UNESCO sebagai warisan leluhur.
Orang bijak bilang, jika ingin melihat perkembangan Indonesia, tengok saja Jakarta. Di situ, semua persoalan dari politik, ekonomi, agama, budaya hukum hingga ke soal senggama, dikumpulkan di satu ruang. Sumpek.
Lantaran semua terpusat di Jakarta, budaya yang ada pun saling berinteraksi, berakulturasi atau bahkan menyingkirkan budaya asli.
Asal tahu saja, Indonesia menempati peringkat ke-39 sedunia dalam World Cultural Heritage. Menurut World Economic Forum, ini berpotensi besar yang dapat dikembangkan para pelaku ekonomi kreatif di bidang seni-budaya.

Gusur atau kawin
Sejak Nusantara masih diperintah seorang Raja, pengenalan, percampuran hingga tersingkirnya budaya asli sudah terjadi. Prosesnya, terjadi melalui perdagangan.
Angin modernisasi, bertiup kencang ke Indonesia sejak masyarakatnya mulai mengenal industri modern. Satu per satu, alat-alat kerja tradisional dianggap kuno dan segera ditinggalkan. Begitu pun kebudayaan.
Beberapa tahun setelah peralihan dari era Orde Lama ke Orde baru, pintu kebebasan seolah begitu lebarnya dibuka. Para seniman, dipersilahkan berekspresi sebebas-bebasnya. Asal, tidak berisik di kuping penguasa. Akibat dari hal ini, budaya asing menabrak produk lokal sehingga timbul kekhawatiran baru.
Tahun 1970-an, merupakan masa-masa genting bagi keberadaan musik Melayu di Jakarta sebagai pusat segala perubahan masyarakat Indonesia. Led Zeppelin, Deep Purple, Rolling Stone, The Beatles dan lain sebagainya, menjadi musisi paling diagungkan pada masa itu. Mereka, didudukkan di atas kepala bangsa Indonesia sebagai dewa baru. Sedangkan Mashabi, cukup sampai pos hansip paling banter warung kopi atau warteg.
Bukan hanya Mashabi sebagai musisi Melayu yang harus tarik nafas dalam-dalam. Hiburan sekelas Jaipong pun, harus menyingkir digantikan disco atau tari 'cha cha cha' demi meraih predikat modern karena budaya baru ini sangat menjanjikan kebebasan berekspresi sebebas-bebasnya. Sedangkan budaya lokal, tak mengiming-imingi itu.
Rhoma Irama, sebagai anak komandan tentara gerilyawan asal Tasikmalaya, muncul sebagai penyelamat. Musik Melayu yang populer di kalangan masyarakatnya dan mulai tersingkir, dirombak tatanan dan segala pakemnya dengan cara dikawin dengan jenis musik dari India, Arab dan Rock n Roll sebagai pertahanan dan pengembangan identitas budaya bangsa Indonesia terhadap gerusan arus negatif modernisasi. Hasilnya, masyarakat musik dunia berdecak kagum.
Keberhasilan Rhoma, ditiru para penerusnya. Didi Kempot yang memulai karir sebagai pengamen jalanan, sukses menggabungkan Dangdut dengan musik Karawitan hingga melahirkan kesenian baru bernama Campur Sari.
Album rekaman Didi laku keras. Jadwal manggung pun makin padat dan kondisi keuangan mencapai puncaknya. Tercatat, Dia telah menjejakkan kaki dengan menggelar konser hingga ke manca negara termasuk negara bagian Suriname, di Amerika yang nenek moyangnya juga berasal dari jawa.
Upaya-upaya seniman yang berimajinasi layaknya Rhoma dan Didi, bukan tidak ada. Hanya, porsi apresiasinya saja sangat minim. Akibatnya, jangankan menyelami kesenian tradisional. Kenal saja belum tentu.
Kenyataan saat ini yang nampaknya tak dihiraukan adalah, bukan hal tabu lagi jika orang Indonesia lebih suka metal-metalan ketimbang dangdutan. Lebih suka Disco-disco-an dari pada jaipongan. Lebih cinta dancing ketimbang 'Manortor' yang akhirnya, identitas asli tergerus dengan sendirinya.
Ketika ada orang lain yang mau merawat, melestarikan dan mengembangkannya namun 'lebay' dengan mengaku-aku sebagai miliknya, baru semua teriak marah.
Lantas, siapa yang salah jika Malaysia terus mengklaim beberapa produk budaya Indonesia sebagai miliknya ?

Komentar