Dunia ini lucu sekali. Hakim berbalik menjadi maling, pemuka agama menyembah setan, serta dukun menyematkan predikat Ustadz atau Kyai Haji di pundaknya.
Isi kitab suci agama apapun, datangnya dari Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan pedoman bagaimana cara menjalani hidup agar selamat dunia-akhirat. Namun akibat kepentingan-kepentingan busuk, isinya diselewengkan baik secara langsung atau dalam praktek keseharian. Dan lebih parah lagi, kini menjadi mantera yang seolah bisa membenahi masalah cukup dengan membacanya tanpa usaha.
Ketika si anu jatuh sakit, pihak keluarga malah sibuk membacakan al Qur'an untuk kesembuhannya. Padahal, kitab suci itu mengatur bagaimana cara berobat atau menghalau penyakit yang bersumber dari hati, pikiran dan perut. Dan berdoa, adalah pelengkap ikhtiar karena Tuhanlah pemberi hidup, penyakit dan rezeki serta maut.
Beberapa hari lalu, tepat pukul lima sore di hari Minggu, 20 Agustus 2012, pamanku yang dianggap tak waras menghembuskan nafas terakhir dan kembali ke Penciptanya. Beberapa jam sebelumnya, muncul spekulasi-spekulasi sesat akibat terlalu mendengarkan dukun yang menyematkan predikat Ustadz atau Kyai Haji di awal namanya. Dia dianggap 'punya pegangan' hingga akhirnya gila dan sulit mati karena di badannya menempel ratusan jin yang entah datang dari mana.
Lucu sekali spekulasi itu. Padahal, jelas malaikat pencabut nyawa hanya mendengarkan perintah Allah SWT dan tak perlu takut dihalang-halangi jin atau setan ketika menjalani tugasnya. Karena memang, dua makhluk yang diciptakan dari api itu tak memiliki kepentingan atas nyawa manusia. Kepentingannya hanya menggoda. Titik.
Menurut riwayat yang dituturkan orang-orang tua, pamanku sempat mengecap bangku perguruan tinggi dan membuat otaknya encer, namun masih kalah jauh jika dibandingkan dengan BJ Habibie. Singkat cerita, sekolahnya putus dan tak sampai menyandang predikat insinyur atau arsitek.
Setelah kegagalan terbesar itu, perlahan namun pasti perangainya berubah dan bertingkah tak lazim bagi kebanyakan orang. Sering ngomong sendiri, mengamuk membabi buta dan jarang mandi. Sebutan gila pun, disematkan di belakang namanya. Ojak Gile.
Aku punya teori yang kupungut di jalanan soal sebutan gila. Lantaran bertingkah tak lazim, ngomong sendiri hingga tak mandi, seseorang akhirnya dibilang gila. Sebab, pakem hidup bagi kebanyakan orang kalau berbicara paling sedikit harus berdua. Setiap hari, wajib mandi dan tak boleh mengamuk. Padahal, adakalanya yang merasa waras pun berlaku demikian sewaktu-waktu.
Kembali ke soal spekulasi sesat. Menurut seseorang yang mengaku sebagai Kyai dan memimpin sebuah pondok pesantren di salah satu area Jakarta, di tubuh pamanku menempel ratusan jin hingga akhirnya dia susah mati. Dan, segelas air putih yang sudah dibaca-bacain ayat al Qur'an pun harus diminum dan di basuh ke beberapa bagian tubuhnya.
Mendengar penjelasan itu, aku tertawa kecut hampir sinis dalam hati. "Apa urusannya jin bikin susah kerjaan malaikat yang mau nyabut nyawa?" Kataku dalam hati. "Malaikat yang dapat mandat langsung dari Allah, kok takut ya sama jin ?" Lanjutku menggumam sendiri.
Lantas, di mana obat dari dokter atau tabib yang harusnya diminum untuk kesembuhan ? Aku tak melihatnya sama sekali.
Ya, di Jakarta orang punya seribu satu cara cari makan. Di atas mimbar khotbah, di pinggir jalan atau iklan pengobatan alternatif di televisi, ayat suci diperlakukan tak lebih mahal dan mulia dari ramuan tangkur buaya pendongkrak vitalitas pria. Sementara khalayak yang maunya serba instan pun, termakan bujukan lantaran tak mau berijtihad.
Isi kitab suci agama apapun, datangnya dari Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan pedoman bagaimana cara menjalani hidup agar selamat dunia-akhirat. Namun akibat kepentingan-kepentingan busuk, isinya diselewengkan baik secara langsung atau dalam praktek keseharian. Dan lebih parah lagi, kini menjadi mantera yang seolah bisa membenahi masalah cukup dengan membacanya tanpa usaha.
Ketika si anu jatuh sakit, pihak keluarga malah sibuk membacakan al Qur'an untuk kesembuhannya. Padahal, kitab suci itu mengatur bagaimana cara berobat atau menghalau penyakit yang bersumber dari hati, pikiran dan perut. Dan berdoa, adalah pelengkap ikhtiar karena Tuhanlah pemberi hidup, penyakit dan rezeki serta maut.
Beberapa hari lalu, tepat pukul lima sore di hari Minggu, 20 Agustus 2012, pamanku yang dianggap tak waras menghembuskan nafas terakhir dan kembali ke Penciptanya. Beberapa jam sebelumnya, muncul spekulasi-spekulasi sesat akibat terlalu mendengarkan dukun yang menyematkan predikat Ustadz atau Kyai Haji di awal namanya. Dia dianggap 'punya pegangan' hingga akhirnya gila dan sulit mati karena di badannya menempel ratusan jin yang entah datang dari mana.
Lucu sekali spekulasi itu. Padahal, jelas malaikat pencabut nyawa hanya mendengarkan perintah Allah SWT dan tak perlu takut dihalang-halangi jin atau setan ketika menjalani tugasnya. Karena memang, dua makhluk yang diciptakan dari api itu tak memiliki kepentingan atas nyawa manusia. Kepentingannya hanya menggoda. Titik.
Menurut riwayat yang dituturkan orang-orang tua, pamanku sempat mengecap bangku perguruan tinggi dan membuat otaknya encer, namun masih kalah jauh jika dibandingkan dengan BJ Habibie. Singkat cerita, sekolahnya putus dan tak sampai menyandang predikat insinyur atau arsitek.
Setelah kegagalan terbesar itu, perlahan namun pasti perangainya berubah dan bertingkah tak lazim bagi kebanyakan orang. Sering ngomong sendiri, mengamuk membabi buta dan jarang mandi. Sebutan gila pun, disematkan di belakang namanya. Ojak Gile.
Aku punya teori yang kupungut di jalanan soal sebutan gila. Lantaran bertingkah tak lazim, ngomong sendiri hingga tak mandi, seseorang akhirnya dibilang gila. Sebab, pakem hidup bagi kebanyakan orang kalau berbicara paling sedikit harus berdua. Setiap hari, wajib mandi dan tak boleh mengamuk. Padahal, adakalanya yang merasa waras pun berlaku demikian sewaktu-waktu.
Kembali ke soal spekulasi sesat. Menurut seseorang yang mengaku sebagai Kyai dan memimpin sebuah pondok pesantren di salah satu area Jakarta, di tubuh pamanku menempel ratusan jin hingga akhirnya dia susah mati. Dan, segelas air putih yang sudah dibaca-bacain ayat al Qur'an pun harus diminum dan di basuh ke beberapa bagian tubuhnya.
Mendengar penjelasan itu, aku tertawa kecut hampir sinis dalam hati. "Apa urusannya jin bikin susah kerjaan malaikat yang mau nyabut nyawa?" Kataku dalam hati. "Malaikat yang dapat mandat langsung dari Allah, kok takut ya sama jin ?" Lanjutku menggumam sendiri.
Lantas, di mana obat dari dokter atau tabib yang harusnya diminum untuk kesembuhan ? Aku tak melihatnya sama sekali.
Ya, di Jakarta orang punya seribu satu cara cari makan. Di atas mimbar khotbah, di pinggir jalan atau iklan pengobatan alternatif di televisi, ayat suci diperlakukan tak lebih mahal dan mulia dari ramuan tangkur buaya pendongkrak vitalitas pria. Sementara khalayak yang maunya serba instan pun, termakan bujukan lantaran tak mau berijtihad.
Komentar
Posting Komentar