Permisi agan-agan, baik yang berprofesi sebagai priyayi, petugas keamanan, pengusaha, pegawai biasa, wartawan, guru atau yang masih setia pada profesi pengangguran. Bukan sok aktivis atau ngajakin demo. Cuma, sedikit mengajak merenungi soal jamban.
Di setiap moll, rumah sakit, sampe rumah warga yang baru ketiban kaya, semua jamban pake model duduk. Ga ketinggalan, satu selang air yang ada semburannya buat cebok. Bahkan, ada juga wc yang cuma sediain tisu doang buat bersihin sisa hajat. 'Standart America' tulisan di senderan jamban skaligus wadah penampungan air itu.
Masing-masing, punya kelebihan tersendiri. Namun, kecewa rasanya lantaran model anyar makin diminati sedangkan yang kuno jarang terlihat lagi. Kecuali, di SPBU, wc satpam gedung, atau MCK yang mengutip tarif ga lebih dari dua ribu perak dan sangat jorok serta bau pete.
Model jongkok, sudah kuno katanya. Ga modern, sebab orang di barat diikuti negara-negara di benua lain sudah memakai model duduk. Tapi, rasanya begitu nyaman dan mampu memberikan kelonggaran ketika si hajat permisi numbang lewat liang dubur hingga hasilnya, plong tak cuma di perut.
Banyak orang yang ditemui, lebih menyukai model klasik ketimbang gaya bule.
"Plong dan jadi lebih tau diri dan sadar kalo ada yang mao pake juga bro," begitu komentar koresponden berinisial B soal model klasik ini.
Pendapat itu, diperkuat pernyataan seorang pakar yang biasa habiskan waktu di wc sambil mengisi TTS bahwa durasi pemakaian model klasik akan dibatasi diri sendiri, paling lama sampe kaki kesemutan.
Model modern, juga memiliki kelebihan tersendiri. Sebab, pemasangannya yang mahal juga diikuti kenyamanan ketika menggunakan dan membuat si pemakai betah berlama-lama di sana.
"Saya pernah bang, ketiduran pas lagi be'ol," kata salah satu koresponden yang diambil secara acak-acakan dan tak memakai kuisioner selembar pun.
"Untung saya ngerokok, jadi pas rokok abis jari kesundut dan saya bangun," lanjut koresponden berinisial R ini.
Menggunakan jamban modern, liang terasa sempit dan kalau perut lagi fit, tinja yang mengeras akan membuat sakit dubur.
"Kecuali mencret, ga perih dah," kata pakar bernama Jabeg tadi.
Belum lagi, kebanyakan pengguna yang ditemui mengaku sudah tak mampu lagi jongkok sebab uzur dan tulang mulai empuk.
Tua-muda, jelas beda. Sebab tampang sudah klasik dan sebentar lagi mati akibat uzur.
Tapi jangan salah. Sebab yang klasik, punya pengalaman segudang dan kenyamanan tersendiri ketika didekapnya. Bagaimana menurut kamu?
Di setiap moll, rumah sakit, sampe rumah warga yang baru ketiban kaya, semua jamban pake model duduk. Ga ketinggalan, satu selang air yang ada semburannya buat cebok. Bahkan, ada juga wc yang cuma sediain tisu doang buat bersihin sisa hajat. 'Standart America' tulisan di senderan jamban skaligus wadah penampungan air itu.
Masing-masing, punya kelebihan tersendiri. Namun, kecewa rasanya lantaran model anyar makin diminati sedangkan yang kuno jarang terlihat lagi. Kecuali, di SPBU, wc satpam gedung, atau MCK yang mengutip tarif ga lebih dari dua ribu perak dan sangat jorok serta bau pete.
Model jongkok, sudah kuno katanya. Ga modern, sebab orang di barat diikuti negara-negara di benua lain sudah memakai model duduk. Tapi, rasanya begitu nyaman dan mampu memberikan kelonggaran ketika si hajat permisi numbang lewat liang dubur hingga hasilnya, plong tak cuma di perut.
Banyak orang yang ditemui, lebih menyukai model klasik ketimbang gaya bule.
"Plong dan jadi lebih tau diri dan sadar kalo ada yang mao pake juga bro," begitu komentar koresponden berinisial B soal model klasik ini.
Pendapat itu, diperkuat pernyataan seorang pakar yang biasa habiskan waktu di wc sambil mengisi TTS bahwa durasi pemakaian model klasik akan dibatasi diri sendiri, paling lama sampe kaki kesemutan.
Model modern, juga memiliki kelebihan tersendiri. Sebab, pemasangannya yang mahal juga diikuti kenyamanan ketika menggunakan dan membuat si pemakai betah berlama-lama di sana.
"Saya pernah bang, ketiduran pas lagi be'ol," kata salah satu koresponden yang diambil secara acak-acakan dan tak memakai kuisioner selembar pun.
"Untung saya ngerokok, jadi pas rokok abis jari kesundut dan saya bangun," lanjut koresponden berinisial R ini.
Menggunakan jamban modern, liang terasa sempit dan kalau perut lagi fit, tinja yang mengeras akan membuat sakit dubur.
"Kecuali mencret, ga perih dah," kata pakar bernama Jabeg tadi.
Belum lagi, kebanyakan pengguna yang ditemui mengaku sudah tak mampu lagi jongkok sebab uzur dan tulang mulai empuk.
Tua-muda, jelas beda. Sebab tampang sudah klasik dan sebentar lagi mati akibat uzur.
Tapi jangan salah. Sebab yang klasik, punya pengalaman segudang dan kenyamanan tersendiri ketika didekapnya. Bagaimana menurut kamu?
Komentar
Posting Komentar