Rokok, Bahaya Bagi Jalannya Pertunjukan Dangdut

Baru saja, aku membaca artikel tentang bahaya asap rokok yang pasti ditulis orang bukan perokok dan mungkin sangat membenci salah satu komoditas penyumbang devisa Indonesia terbesar ini. Tak tercengang sedikit pun, aku malah mencibirnya. 
Sejak lulus SD tahun 1996 lalu hingga kini, aku merokok. Jika dikategorikan, aku sudah menjadikan rokok sebagai benda pemenuh kebutuhan hidup untuk menjaga kesehatanku. Sangat bertentangan memang dengan apa yang dikatakan ahli kesehatan, bahwa di dalam sebatang rokok terdapat jutaan jenis racun dari mulai nikotin, tar, hingga salah satu zat yang terkandung dalam bahan bakar roket. 
Saat bekerja, aku merokok. Setelah makan, aku merokok. Saat buang hajat, wajib aku mengepulkan asap tembakau. Ketika belajar, aku merokok. Bertukar pikiran pun, aku merokok. Menurutku, rokok sudah menjadi teman paling setia dan tak pernah sekalipun melancarkan protes seperti mahasiswa yang sebentar-sebentar demonstrasi. 
Menurutmu, aku pasti pecandu berat rokok. Salah besar itu. Aku merokok, demi menjaga kesehatan pikiran, hati dan jasmani. Satu hari tak merokok, pasti hidupku kacau balau. 
Jika aku memutuskan berhenti merokok, bisa dibayangkan. Berapa banyak perut buruh pabrik rokok yang harus rela menahan lapar karena produknya tak kubeli. 
Menurut ahli kesehatan, seperti yang tercantum dalam setiap bungkusan rokok, merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan serta janin. Salah besar itu. 
Ketika menguji kesehatan di salah satu rumah sakit yang tak terlalu mewah, dokter memastikan bahwa aku sehat wal'afiat. Paling-paling, cuma pilek, sakit gigi atau meriang yang rajin menyerangku setiap kali cuaca berubah. 
Soal impotensi, jika berzinah tak diharamkan, bolehlah menguji keperkasaanku. Kalau soal gangguan kehamilan apalagi janin, tak tahulah aku. Sebab aku, tak dikaruniai rahim layaknya perempuan. 
Dalam sebuah tulisannya, Taufik Ismail, seorang penyair besar Indonesia saat ini, mengatakan. Republik yang kita duduki sekarang, adalah surga firdaus bagi para perokok. Memang benar. Anggota DPRD DKI Jakarta yang pertama kali menelurkan Perda Nomor 75 tahun 2005 tentang larangan merokok di tempat umum seperti yang diamini Gubernur Fauzi Bowo, merokok di ruang sidang. Anggota DPR RI juga begitu. Satpol PP sebagai penegak Perda, juga merokok di teras kantor Camat, walikota bahkan Gubernur. Polisi, sama saja. 
Ada yang paling kurang ajar selain anggota dewan terhormat tadi. Salah seorang calon penumpang angkutan umum berjenis kelamin laki-laki, tiba-tiba saja menyetop Kopaja 616 jurusan Blok M-Cipedak, di halte kolong jalan layang TB Simatupang. Di sela antara jari telunjuk dan tengahnya, terselip sebatang rokok yang ujungnya membara. Naiklah dia ke dalam bus yang sudah penuh sesak, jauh sebelum memasuki kawasan Pasar Minggu. 
Beberapa perempuan, nampak mengibas-ngibaskan selembar kertas untuk mengusir asap rokok yang tiap detik mencoba mendekatinya, hingga akhirnya : "Mas, rokoknya tolong dimatiin dong," ujar salah seorang wanita. 
Pria tersebut, tak mau menghiraukan dan malah semakin jadi mengepulkan asap tembakaunya. Lagaknya yang sok parlente, membuatnya harus merasakan bogem mentah dari penumpang lain setelah bara diujung rokoknya menyundut lengan kiri si pemukul. 
Kejadian seperti tadi, tak hanya terjadi di dalam angkutan umum. Gara-gara rokok, tawuran massal pun kerap terjadi di tengah jalannya pertunjukan Orkes Dangdut. 
Malam Minggu yang lalu, tetanggaku menggelar hajatan perkawinan anak pertamanya. Orkes Gambus Arrominia yang juga mampu menghibur dengan musik Melayu, didaulat sebagai satu-satunya penghibur malam itu. 
Beberapa kuli jalan yang sedang melaksanakan pekerjaan galian kabel fiber optik milik PT PLN, tak mau ketinggalan. Bergeraklah mereka menuju lokasi pertunjukan musik dangdut tersebut. Sementara Haji Abdul Azis, sang sohibul hajat, tersenyum ramah menyambut tamu. 
"Ahlaan wasahlaaan, Haji," ujarnya menyambut Abdul Wahab yang 20 tahun lalu berangkat ke tanah suci Mekah dan kini menduduki posisi sebagai Imam Masjid al-komariah. 
Keramahan Abdul Azis, dirasakan semua tamu dari seantero Jabodetabek. Bahkan, kuli jalan tadi pun ikut menikmatinya dengan dipersilahkan mencicipi semangkuk bakso gratis racikan Ngademin Supardi yang sudah dicharter untuk dua gerobag. 
Selesai mencicipi nikmatnya bakso, alunan musik Melayu rasanya sayang sekali jika tak dinikmati dengan bergoyang badan. Turun melantailah, kuli-kuli tadi. 
Sebatang rokok, belum selesai dihisap dan diajak ikut menari penuh semangat. Singkat kata, leher penuh tato milik Udin Jabeg, preman setempat yang juga anggota Ormas Anarkis FBR, kesundut bara rokok milik Taryono si kuli jalan. Pertengkaran pun terjadi, dan berujung tawuran antara kuli jalan melawan FBR. 
Kembali ke soal bahaya rokok bagi kesehatan. Menurutku, asap knalpot bajaj, kopaja, metro mini dan truk angkutan barang jauh lebih berbahaya ketimbang asap rokok. Jadi, kenapa Pemda tak mengeluarkan saja larangan knalpot ngebul. 
Bagi bukan perokok, cobalah untuk merokok dan menimkatinya sebelum mencibirkan bibir ke depan hidung perokok. 
Rokok, hanya berbahaya bagi jalannya pertunjukan Orkes Dangdut dan kenyamanan kala berdesakkan di dalam bis kota. 

Komentar

  1. Salam,
    Boleh tanya donk... Tulisan-tulisan yg dimuat dlm blog ini memang tulisan karya Pak Mahbub Djunaedi, kolumnis almarhum, yang saya kenal itu atau bukan? Ataukah kebetulan nama pengelola blog ini kebetulan sama dengan beliau?
    Atau sebagiannya karya beliau atau bagaimana?
    Soalnya beberapa tulisannya tak saya kenal sebelumnya.
    Anyway, saya suka tulisan-tulisan dalam blog ini.
    Barangkali berkenan mohon jawabannya, bisa juga dengan link ke blog saya:
    toenks.blogspot.com

    Tks.

    BalasHapus
  2. wa'alaikum salam Pak Untung. iya, nama yang diberikan bapak saya ini memang sama persis dengan almarhum. Karena kebetulan, bapak saya penggemar Haji Mahbub Djunaidi

    Oiya, semua isi blog ini tulisan saya sendiri yang mungkin lebih tepat disebut sebagai unek-unek pribadi.

    Terima kasih banyak Pak Untung mau memperhatikan isi blog ini

    BalasHapus

Posting Komentar