Belajar Dari Riwayat Masa lalu (Tjong a Fie)

Ancaman pecahnya suatu bangsa, bukan hanya berasal dari luar. Dari dalam pun, kesatuan negara masih diobok-obok dengan isu suku, agama, ras dan antar golongan.

Semua orang tahu, Indonesia kerap dirundung duka lantaran isu terkait kepercayaan kerap melahirkan perseteruan antar umat beragama. Namun, provokasi tersebut tak pernah berlaku di Medan, Sumatera Utara.

Adalah Tjong A Fie, saudagar asal Tionghoa yang melegenda di tanah Melayu Deli sebagai seorang dermawan dan keberhasilannya merangkul seluruh lapisan masyarakat yang heterogen. Kebaikan hatinya, terkenal hingga seantero Sumatera Utara tanpa membedakan suku, agama dan ras.

Ketika pertama kali menginjakkan kaki di Sumatera Utara tahun 1880, Tjong A Fie berusia 20 tahun. Dia datang ke Tanah Melayu Deli menyusul abangnya, Tjong Yong Hian yang sudah hijrah 5 tahun sebelumnya.

Meski Tjong Yong Hian sudah mendapat kedudukan terhormat sebagai Letnan pemimpin kaum Tionghoa di Sumatera Utara, A Fie tak mau menggantungkan dirinya kepada orang lain terutama pada kakaknya sendiri. Dia, bekerja serabutan sebagai administrator di toko kelontong Tjong Sui Fo, melayani pelanggan serta menagih hutang.

Memang, A Fie tak pernah mendapat pendidikan setingkat Sarjana. Namun kecerdasannya berhasil membawa usaha keluarga ketika masih tinggal di Tionghoa mendapat kemajuan dengan cepat. Ya, dia turun tangan langsung mengelola perusahaan kecil milik keluarganya.

Nama asli Tjong A Fie yang memiliki peran penting dalam pembangunan di Sumatera Utara ini, adalah Tjong Fung Nam. Dia, lahir tahun 1860 di desa Sungkow, di daerah Meixiena, Guangdong, Tiongkok dan berasal dari suku Khe atau Hakka.

Ketika terjadi perselisihan di antara orang-orang Cina di Sumatera Utara atau dengan pihak lain, A Fie sering memposisikan dirinya sebagai penengah. Bahkan, ketika kerusuhan kerap terjadi di kalangan buruh perkebunan Belanda, Tjong sering diminta bantuan untuk menjadi mediator. Hasilnya, bentrokan mereda berkat pendekatan persuasifnya.

Seiring waktu, A Fie diangkat menjadi Letnan Tionghoa karena bakatnya meredam rusuh di Deli. Dan, dia pun hijrah ke Medan untuk mengembang tugas sebagai Kapten.

Lantaran kedudukan sebagai Kapten Cina, keluwesan dalam bergaul dan mengembangkan bisnis, Tjong menjalin hubungan baik dengan Raja Deli, Sultan Ma'moen al-Rasjid Perkasa Alamsjah dan menjadi orang kepercayaan pemimpin masyarakat Deli itu. Jadilah, dia mendapat hak konsesi penyediaan atap daun nipah untuk keperluan kebun tembakau dan pembuatan bangsal.

A Fie, merupakan orang Tionghoa pertama yang memiliki perkebunan tembakau di Medan hingga Bandar Baru, ketika masa pendudukan Pemerintah Kolonial Belanda.

Selain bisnis tembakau, A Fie juga menyentuh bisnis kelapa, pertambangan, hingga mendirikan perusahaan kereta api dengan nama The Chow-Chow & Swatow Railway Co.Ltd. bersama kakak dan pamannya Tio Tiauw Siat alias Chang Pi Shih yang memiliki kedudukan sebagai konsul Tiongkok di Singapura.

Perusahaan kereta tersebut, beroperasi di Tiongkok Selatan dan meraih kesuksesan pada masa itu. Karena dianggap berjasa, wajah kakak- beradik Tjong Yong Hian dan Tjong A Fie menghiasi uang kertas Tiongkok pecahan 20 sen.

Lantaran lihai memadukan kekuatan ekonomi, politik dan kedermawanannya, dia menjadi orang paling disegani masyarakat pribumi, Tionghoa, orang Eropa, Pemerintah Belanda, bahkan Sultan Deli. Tercatat, kerjaan bisnisnya meliputi perkebunan, pabrik minyak sawit, perusahaan kereta api, pabrik gula, serta bank. Jumlah pegawainya saat itu, mencapai lebih dari 10 ribu orang.

Tahun 1911, Tjong Yong Hian meninggal dunia. Kedudukannya sebagai Mayor Tionghoa di Medan pun segera digantikan Tjong A Fie sambil terus melakukan pekerjaan sosial. Banyak lembaga pendidikan baik yang dikelola Umat Kristen, Islam maupun orang-orang Tionghoa sendiri mendapat perhatian besarnya. Bahkan, tanah pembangunan sekolah methodist dia yang menyediakan.

Tjong, tidak hanya menyumbangkan harta pada berbagai Klenteng, Masjid dan Gereja. Konon, dia juga punya andil besar dalam pembangunan Kuil Agung Shri Mariamman yang dibangun tahun 1884 dan terletak di Kampung Madras atau Kampung Kling, di Jalan Teuku Umar nomor 13, Medan.

Guna menghormati kedermawanannya, di Klenteng Kek Lok yang terletak di Ayer Itam, Penang, berdiri dengan megahnya patung Tjong A fie. Bahkan, namanya juga diabadikan sebagai nama jalan di Kota Medan dan Tebing Tinggi.

Rasa hormatnya terhadap Raja Deli, Sultan Ma'mun al-Rasyid, diwujudkan dengan mendirikan Masjid Raya Medan dengan menyumbang sepertiga dari seluruh biaya pembangunan. Bahkan, ongkos pendirian Masjid Gang Bengkok yang terdapat di Jalan Kesawan, ditanggung sepenuhnya oleh A Fie. Sedangkan tanah, diwakafkan oleh Datuk Kesawan Haji Muhammad Ali.

Nama Masjid Gang Bengkok sendiri, dipilih lantaran masjid ini menjadi muara pertemuan antara dua gang yang melengkung setengah lingkaran.

Dari segi arsitekturnya, Masjid Gang Bengkok mencirikan perpaduan budaya Cina, Persia dan Romawi. Sementara unsur Melayu, terdapat pada atapnya yang melengkung dan ornamen bermotif lebah bergantung.

Menurut penuturan Haji Muhammad Ihsan Tanjung, Sekertaris pengelola masjid ini, perpaduan gaya arsitektur tersebut merupakan simbol kerukunan antar umat beragama dan etnis di Medan sejak zaman penjajahan.

Memang, kerukunan tersebut bukan hanya isapan jempol atau sekedar simbol di Masjid Gang Bengkok saja. Hingga kini, keakraban tersebut masih terpelihara. Bahkan, di salah satu Masjid yang terletak di Jalan Gajah Mada, sebagian lahannya dijadikan areal pemakaman Umat Kristen.

Sungguh, sebuah kerukunan yang seharusnya ditiru umat beragama di wilayah Indonesia lainnya agar kedamaian tak hanya sekedar jadi wacana dan celotehan di spanduk atau pamflet semata.

ketika teror bom sehari sebelum Malam Natal di tahun 2000 terjadi di sembilan gereja antara lain : Gereja Kristen Keimanan Indonesia (GKKI) Jalan Sisinga Mangaraja, Gereja Kristen Simalungun (GKS), Gereja Katedral Jalan Pemuda, Gereja Kristen Sriwijaya, Gereja Kristen Protestan Indonesia (KGPI) Jalan Teladan dan salah satu rumah milik Pendeta Methodis Jalan MT.Haryono, di Kota Medan, masyarakat antar umat beragama baik Muslim ataupun Kristen tak terprovokasi sedikit pun.

"Semua, kami serahkan penyelesaiannya pada Polisi," Kata Daniel Sinaga, petugas keamanan penjaga Gereja Kristen Protestan Immanuel yang dibangun tahun 1921 ini.

Senada dengan Daniel, Sayuti, Petugas Polantas yang ditemui di perempatan depan Masjid Raya Medan, menuturkan. Masyarakat Medan yang terdiri dari berbagai macam suku, agama dan profesi ini tak pernah sekalipun bisa disulut kemarahannya untuk melahirkan kerusuhan termasuk dengan isu teror bom yang sejak awal tahun 2000 kerap membuat keruh Malam Natal.

"Kami lebih mau pusing soal urusan perut ketimbang rusuh. Mungkin juga ini berkat nilai-nilai kebersamaan yang ditanamkan Tjong A Fie zaman Belanda dulu," kata Sayuti seolah membuka lembaran masa lalu.

Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Medan, Haji Palit Muda Harahap, mengatakan, keakraban diantara ke-heterogen-an masyarakat Medan, dipertahankan melalui dialog antar pemuka agama yang rutin digelar. Bahkan dalam tubuh kepengurusan FKUB pun, struktur anggotanya berasal dari para pemuka enam agama yang diakui negara, antara lain Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Konghucu.

"Benar, Tjong A Fie bisa dikatakan sebagai tokoh yang melegenda dan orang pertama di Kota Medan yang meletakkan nilai-nilai kerukunan antar umat beragama di sini,"

Haji Palit menilai, mudah saja dalam menjaga dan memelihara kerukunan tersebut. Semua pihak, harus memulainya dengan dialog sebagai bagian dari silaturahmi. Bahkan menurutnya, meski Jamaah Islam Ahmadiyah telah menyimpang dari ajaran al-Qur'an dan al-Hadist yang di wilayah lain selalu diusik ketenangan hidupnya, di Kota Medan mereka hidup tentram tanpa pernah mendapat gangguan sedikit pun.

Pada 4 Februari 1921, Tjong A Fie menghembuskan nafas terakhir akibat 'apopleksia' atau pendarahan otak di kediamannya di Jalan Kesawan. Seluruh masyarakat Sumatera Utara, Aceh, Padang, Penang, Malaysia, Singapura dan Pulau Jawa, berduka. Ribuan orang berduyun-duyun datang melayat dan menghantarkan ke tempat peristirahatannya yang terakhir di kawasan Pulau Brayan.

Kini, nama Tjong A Fie masih diabadikan berupa kediamannya sendiri di Jalan Jendral Ahmad Yani nomor 105. Tempat itu, dikenal sebagai Tjong A Fie Mansion.

Tjong A Fie, memang sudah tiada. Namun, nilai-nilai kerukunan dan kebersamaan yang diletakannya di Sumatera Utara, masih bertahan hingga kini. Lantas, kenapa daerah lain tak mau belajar dari riwayat masa lalu dan terus hidup hingga kini dan entah sampai kapan ini ?

Komentar