Bemoru di Medan, BSA di Siantar

Medan-Ketika pertama kali menjejakkan kaki di Kota Medan, Sumatera Utara, yang paling sering terlihat adalah becak motor. Moda transportasi umum ini, rupanya memiliki riwayat tersendiri.

Di Kota Medan, becak motor dengan gerobak lengkap dengan tudung di samping kiri pengemudi, banyak menggunakan sepeda motor pabrikan Jepang jenis Honda Win 100. Makanya di tanah Melayu Deli ini, kendaraan umum unik ini dikenal dengan sebutan 'Bemoru' atau becak motor model baru.

Sebelumnya, para pengemudi becak motor lebih menyukai jenis Rex buatan jerman bermesin 2-tak, bersilinder ukuran kecil yang dipasang pada becak dayung. Alasannya, karena perawatan lebih mudah.

Seiring perkembangannya, Rex tersingkirkan karena  motor jenis sepeda kumbang Gobel yang dikayuh untuk menghidupkan mesinnya dan beberapa merk lain, menjadi pilihan pengendara.

Berbeda dengan Kota Siantar yang berjarak sekitar 128 kilometer di arah selatan Kota Medan. Dengan kontur lahan yang berbukit-bukit, di kawasan ini becak motor menggunakan sepeda motor jadul jenis Brimingham Small Arm (BSA) asal Inggris.

BSA sendiri, diproduksi pabrikan Inggris untuk memenuhi kebutuhan persenjataan di era perang dunia II. Dia masuk ke Indonesia ketika masa peralihan dari penjajah Jepang ke pihak tentara sekutu Inggris yang juga diboncengi belanda, kemudian menyebar ke seluruh wilayah konflik meski NKRI sudah memproklamirkan kemerdekaannya.

BSA, mulai digiring masuk Kota Siantar sekitar tahun 1958 atas inisiatif penduduk setempat yang didatangkan dari Surabaya dan Jakarta. Sejak saat itu, motor ini lebih menjadi ciri khas dan salah satu daya tarik pariwisata kota tersebut.

Lantaran tampilannya yang kekar, klasik dan melegenda, motor jenis ini pun banyak diburu para kolektor dari seluruh Indonesia bahkan dunia. Maklum, di negara asalnya sendiri kuda besi ini sudah jarang dilihat. Sekalinya ada, paling-paling hanya di museum perang.

Hingga saat ini, di seluruh dunia hanya ada seribu unit motor BSA. Sebelum tahun 2000, di Kota Siantar sendiri terdapat 700 unit. Namun hingga akhir tahun 2012 lalu, jumlah tersebut terus menyusut hingga tersisa 400 unit saja.

Terancam hilangnya becak motor bermesin BSA di Siantar, disinyalir lantaran begitu mudahnya mendapat kredit sepeda motor baru, menyerbu masuknya minibus sebagai moda angkutan umum lain, dan diperparah lagi oleh aksi kolektor yang memburu motor ini lantaran nilai jual cukup tinggi.

Satu unit BSA keluaran tahun 1941 saja, saat ini bisa menembus angka Rp 60 juta. Tahun 1948, paling murah Rp 20 juta. Bahkan, jika kondisi motor sehat wal'afiat ada juga yang mematok harga sampai Rp 60 juta untuk kuda besi warisan Inggris kelahiran tahun 1958.

Di Kota Siantar, kini ada larangan membawa keluar becak motor BSA dari kota tersebut. Bahkan, Pemerintah Daerah setempat memberi kemudahan bagi pemiliknya dalam hal kepengurusan surat bukti kepemilikan agar bisa dipertahankan sebagai warisan dan moda transportasi wisata

Komentar