Jalur Pantura Aspalnya 'plastik'

Jakarta-Setiap kali musim mudik tiba, Jalur Pantura selalu diperbaiki dengan besaran dana triliyunan Rupiah. Akhirnya, pekerjaan ini pun dianggap sebagai 'proyek abadi' yang tak kunjung usai.

Menurut Yayat Supriatna, Pengamat Perkotaan, masalah terbesar di Jalur Pantura ada pada pengawasan penggunaan dan pemeliharaan badan jalan. Beban yang harus dipikul, sudah  meningkat tiga kali dari standar kapasitas jalan seharusnya.

Pelanggaran kelebihan muatan pun, disinyalir sudah terjadi dimana-mana. Pengawasan terhadap perubahan fungsi ruang sepanjang jalan tinggi, sehingga banyak drainase yang ditutup untuk kegiatan lain. Ini, menyebabkan air hujan yang turun cepat merusak jalan.

"Daerah kurang mendukung pemeliharaan, karena ini jalan nasional," ujar Yayat ketika dihubungi melalui sambungan telepon seluler.

Terkait besarnya dana anggaran yang digelontorkan untuk perbaikan Jalur Pantura setiap tahun, mencapai Rp 1 triliyun lebih. Yayat mengatakan, akan terus memantau hubungan antara anggaran dengan umur teknis jalan, apakah lama atau pendek. Dia menilai, anggaran akan mudah dikucurkan jika mendesak seperti menjelang Lebaran.

"Tinggal pengawasan aja, apakah ada kebocoran atau tidak. Ajak KPK untuk selidiki sejak sekarang supaya tidak terjadi korupsi anggaran," jelasnya.

Memang, perbaikan di Jalur Pantura pantas disebut 'abadi'. Kalau kerusakannya sudah 'abadi' maka proyeknya juga begitu.

Yayat bilang, pertanyaannya adalah mengapa kerusakannya abadi. Itulah faktor penyebabnya. jadi selama ada kerusakan, maka harus ada pemeliharaan.

"Tinggal dilihat apakah kerusakan makin parah atau tidak. Ini, bisa menjadi biang korupsi. Kalau bahan atau kualitas pengeras jalan dikurangi, jadi cepat rusak lagi. Ya aspal Plastik, alias dipulas-pulas saetik kata orang sunda," tutup Yayat.

Komentar