Ucok Durian : "Aku pun tak pernah bermimpi seperti saat ini"

Ketika krisis menghantam tahun 1997 lalu dan memporak-porandakan perekonomian Indonesia, terbukti Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) paling tahan menghadapi krisis moneter. Saat itu, Zainal Abidin baru saja membangun kerajaan duriannya dan terus menanjak hingga kini dengan omzet satu milyar Rupiah lebih perbulan.

Ketika ditemui di kios miliknya di Jalan KH. Wahid Hasyim/ Sei Wampu, nomor 30-32 Medan, Sumatera Utara, tak tersirat sedikit pun bahwa lelaki Batak berperawakan kurus hitam berkaca mata minus ini, adalah adalah bos 'kerajaan durian' di tanah Melayu Deli. Maklum, penampilannya sangat sederhana dan hampir tak ada beda dengan 22 orang pegawainya.

Bagi masyarakat Medan sendiri, Zainal lebih tenar dengan nama 'Ucok Durian' sesuai dengan merk dagang yang dipakai sejak 17 tahun lalu.

Ucok yang lahir di Medan, 12 Januari 1968 lalu ini, mulai berkarir di dunia penjualan durian sejak tahun 1985 lalu. Saat itu, usianya baru menginjak 17 tahun dan menimba ilmu soal buah berduri tajam secara otodidak dengan menjadi pegawai.

Bosan dengan statusnya sebagai pegawai rendahan, Ucok nekat membangun usaha sendiri di tahun 1996 dengan modal awal sebesar Rp 2 juta 750 ribu. Durian dagangannya, digelar di emperan Jalan Iskandar Muda, Kota Medan yang kini disulap menjadi pusat usahanya.

"Waktu itu, awak pikir gimana kalau buka lapak sendiri. Tapi ya itu tadi, modal segitu tak cukup. Tapi aku nekat sajalah," katanya mengenang.

Bagi Ucok, menjadi pedagang durian berkualitas nomor wahid merupakan kebanggaan tersendiri. Jujur kepada konsumen dan petani penghasil durian, selalu dijaga hingga kini.

"Jangan kau cubit dia, karena kau akan dicubit orang lain lebih besar lagi," kata Ucok menjelaskan prinsip dasar usahanya.

Berkat kejujuran dan keuletannya dalam berdagang dan mempelajari pengenalan bagus tidaknya kualitas durian dengan mencium aromanya, pelan tapi pasti usaha bapak tiga orang putra dan satu istri ini terus menanjak. Hasilnya, 65 persen dari 25 ribu butir durian mampu dijual dengan pendapatan kotor sebesar Rp 45 juta perhari dan mensejahterakan 22 orang pegawainya.

Setiap butir durian, dijual seharga Rp 25 ribu sampai Rp 30 ribu. Tergantung musim yang mempengaruhi sulit tidaknya mendapatkan komoditi khas Indonesia ini.

Bagi penikmat durian di pulau Sumatera dan Jawa, nama Ucok memang terdengar nyaring dan merdu karena praktek dagang yang diterapkan 'kalau tak enak wajib diganti' tanpa harus bayar durian yang dianggap jelek oleh konsumen.

Lantas, dikemanakan sisa durian kualitas jelek itu ? Ucok menjelaskan, daging sisa durian dengan rasa tak gurih, dicampur dengan barang berkualitas bagus secara seimbang hingga mendapatkan hasil sempurna. Kemudian, dikemas dalam kantong plastik dan dibekukan untuk selanjutnya dikirim ke Pulau Jawa, Kalimantan dan Makassar.

Dia, tak mau ambil pusing akan diapakan kirimannya itu. Yang penting, kulit limbah dikembalikan ke para petani untuk dijadikan pupuk kompos.

Tak berhenti sampai di dua pulau Sumatera dan Jawa, ketenaran 'Ucok Durian' pun, sudah menggaung hingga Cina, Malaysia, Singapura dan Taiwan. Itu, terlihat dengan banyaknya turis asal empat negara tadi yang kerap datang ke kerajaan duriannya guna menikmati gurihnya durian Sumatera.

Memang, kesuksesan saudagar satu ini sebagai pedagang durian bukan isapan jempol belaka. Sampai sekarang, total aset usaha berupa tiga rumah mewah yang dijadikan tempat usaha beserta lima kendaraan operasional milik Ucok, mencapai Rp 7 milyar lebih. Cukup fantastik bagi ukuran pengusaha kecil menengah dengan pendapatan kotor Rp 1,35 milyar perbulan ini.

Namun ketika disinggung soal berapa banyak harta yang dimiliki saat ini, dia cuma bilang, "Aku pertama kali pegang setir bundar (mobil) usia 39. Naik pesawat dari Medan ke Jakarta lanjut ke Bali pun umur 42. Sekarang umurku 43 tahun," katanya menghindar.

Obsesi terbesar Ucok, namanya menggaung se-Asean sebagai pedagang durian asal Medan. Namun keunikan dibalik mimpinya itu adalah, dia enggan membuka cabang di kota selain tiga tempat di tanah kelahirannya itu.

Durian-durian dagangan Zainal yang dijajakan 24 jam penuh, didatangkan dari seluruh wilayah penghasil di seluruh Sumatera. Petani di Aceh, Pematang Siantar, Sidikalang, Berastagi, Padang, Mandailing Natal hingga Lampung, menjadi mitra usahanya hingga kini.

Meski telah menduduki posisi puncak, rupanya pepatah kacang lupa kulit tak berlaku bagi Ucok. Itu, dibuktikan dengan merekrut bekas bos-nya yang bangkrut menjadi pegawainya.

Dengan jumlah total pegawai sebanyak 22 orang itu, Ucok membagi jam kerja menjadi tiga shift. Setiap orang, tak boleh kerja lebih dari 8 jam sehari sesuai peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi.

Gaji yang diterima tiap pegawai pun, di-samarata-kan. Kalau penjualan ramai, tiap orang dibayar Rp 300 ribu perhari. Namun kalau lagi boncos, Rp 200 ribu perhari.

Jika dikalikan, berarti tiap pegawai 'Ucok Durian' mendapat penghasilan paling kecil Rp 6 juta perbulan. Ini, jauh diatas Upah Minimum Provinsi DKI Jakarta yang ditetapkan Pemerintah sebesar Rp 2,2 juta.

Baru-baru ini, Pemerintah menetapkan pajak sebesar 1 persen bagi pelaku UMKM dengan omzet di bawah Rp 4 milyar perbulan. Ucok menyambut positif kebijakan tersebut. Asal, infrastruktur dan segala macam hal fasilitas pendukung usahanya dapat terus diperbaiki agar tak menjadi penghambat.

Ucok, sadar betul betapa pentingnya kelengkapan administrasi dan izin bagi pengusaha kecil menengah seperti dirinya. Saat ini, dia sudah mengantongi Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dan akan segera mengurus kepemilikan Surat Izin Usaha karena merk dagang 'Ucok Durian' akan dipatenkan untuk menyaingi bahkan melibas ketenaran Durian Montong asal Thailand.

"Aku sendiri, tak pernah mimpi bakal jadi begini. Yang awak tahu, manusia wajib berusaha," kata ucok menyelesaikan obrolan karena mata memang tak sanggup lagi untuk dibuka lantaran sudah larut malam.

Komentar