Bangsa Yang Terbuka Selalu Menelan Apa Saja

Rupanya, sekarang banyak yang lupa caranya berbahasa Indonesia. Baik itu enak dikuping teman bicara atau mudah dicerna rekan diskusi.

"So far, kalau kita ngelongok ke perang opini masing-masing capres, dua-duanya oke," kata teman diskusi waktu membahas lebih hebat mana Jokowi atau Prabowo.

Memang, ada yang namanya bahasa serapan di dalam bahasa Indonesia. Bahkan ada banyak kata di dalamnya, diserap dari bumi bagian barat sana.

Roling dor, sudah menjadi Indonesia untuk menunjukkan pintu almunium di toko yang dibuka dengan cara digulung ke atas.

Parkiran yang diserap dari kata parkeran asal Belanda, sepur yang diambil dari spoor, koin yang dicomot dari coin, dan belakangan cuma download yang di-Indonesiakan menjadi unduh.

Saat ini, cuma kata gadget saja yang di-Indonesiakan mentah-mentah. Tidak ada sebutan lokalnya. Sedangkan smart phone yang sudah diupayakan populer dengan nama ponsel pintar, tetap saja masih lebih tenar smart phone.

Tragis ? Tidak juga. Justru ini bangsa kudu bangga dengan segala keterbukaannya. Budaya Indonesia memang sangat terbuka terhadap budaya lain.

Ketika perempuan bule pakai celana pendek jauh di atas dengkul pas kepanasan, wanita Indonesia ikut-ikutan pamer ketiak dan belahan dada di dalam mall yang sejuk.

Melihat pameran paha mulus dan dada yang ranum di mall-mall bahkan gang becek sekalipun, laki-laki bukan pengikut jejak kaum Nabi Luth, pasti dag dig dug juga. Untung masih kuat menahan nafsu meski banyak emon yang punya kelainan di luar sana.

Memang, melihat segala ketebukaan tadi ada juga sisi positifnya. Di bidang musik, Rhoma Irama berhasil memikat kuping orang Amerika dengan mengawinkan musik Melayu dan Rock n Roll. Pada seni pertunjukkan, Malaysia rela jadi maling dengan mengaku-aku Reog sebagai budayanya.

"So far, melihat keunikan Reog Ponorogo, wajar saja kalau Malaysia ngaku-ngaku. Lha wong di sana juga banyak orang Jawa yang sudah menetap ratusan tahun. At least, wajar kalau mereka begitu. Kita protes boleh saja, asal jangan sampai anarkis and then merobohkan pintu gerbang Kedubesnya," kira-kira kalau kita ngomong begini kepada demonstran bayaran yang dicomot dari kampung kumuh apa bisa dimengerti ?

Komentar

  1. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

      Hapus
  2. kalian berdua kenal dukun ? bilang sama dia suruh santet saya kalo bisa

    BalasHapus

Posting Komentar