Pada catatan sebelumnya, pernah dibahas soal jamban. Kini, setelah
berkunjung beberapa hari ke dua negara di Zona Euro, antara lain Belanda
dan Belgia yang merupakan pecahan dari satu otoritas, kita bicarakan
lagi soal itu.
Selama masih hidup di Indonesia yang belum juga mencapai kemakmuran merata, semua serba murah. Maklum, pendapatan perkapita masih berada di bawah ketiak.
Di Belanda dan Belgia, juga punya MCK yang merupakan perasan dari kata Mandi, Cuci dan Kakus. Namun sebagai negara modern, di sana dilarang mandi dan mencuci. Penjaganya pun, bukan orang tapi mesin yang perlu dikasih makan setrum dan jaringan online.
Ongkos sekali berak atau kencing, 50 Sen Euro atau kurang lebih Rp. 6.400. Makanya, kalau mau menggunakan WC umum sebaiknya tunggu sampai kebelet banget.
Di Indonesia, meski penjaga MCK juga manusia yang perlu makan-makanan sebagaimana mestinya, sekali kencing bertarif seribu Rupiah. Sedangkan berak, dua ribu Rupiah. Apa sebab ? Karena kalau kencing belum tentu berak. Dan kalau berak, sudah pasti kencing. Makanya harga berbeda.
Cara berak di Belgia atau Belanda, sebenarnya sangat berbeda dengan di Indonesia. Pertama, di dua negara pertama tadi 'ngising' harus duduk karena semua jamban yang tersedia seperti itu. Sedangkan WC jongkok, menjadi minoritas yang sepi peminat.
"Demi kesehatan," kata orang sono.
Pasca buang hajat besar, cebok tak menggunakan air. Cukup tisu kering menjadi lap pembersih sisa tinja yang masih menempel di tepian dubur.
Ini, memang sesuai dengan kondisi cuaca yang dalam beberapa bulan dingin sekali ketika salju turun, bersuhu dibawah 15 derajat celcius ketika musim semi, serta sangat panas ketika musim gerah tiba dan orang-orang pada telanjang meski tak bugil.
Ketika musim gerah tiba, cara cebok orang Eropa masih seperti itu. Dengan tisu dan tanpa air.
Ketika arus modernisasi mulai merambah Indonesia, sebagian masyarakat setempat ikut menggunakan jamban duduk. Bahkan, ketika 'istinja' harus dilakukan, orang modern di negara latah ini pun ikut-ikutan pakai tisu tanpa air.
Lihat saja sebagian besar hotel, mall dan perkantoran. Semua WC memakai cara model barat. Sedangkan rumah-rumah 'orang kaya baru' menggunakan jamban serupa.
Namun terkadang, di rumah 'orang kaya baru' masih ada toleransi yaitu, ditambah satu selang air sebagai bonus buat dubur. Sedangkan yang masih menyediakan ember serta gayung, bisa diduga kalau pemilik rumah masih malu-malu menjadi orang modern.
Hal ini, serupa dengan cara Timur Tengah yang pernah saya singgahi, terutama di bandara internasional Abu Dhabi ketika transit menggunakan maskapai Garuda Indonesia.
Sebagai orang Indonesia yang masih memakai cara tradisional dan menurut 'kaum modern' tradisional sama dengan kuno, saya masih pakai cara lama yaitu, jongkok. Mau di jamban modern, saya tetap nongkrong karena lebih poll.
Selesai sudah berhajat besar. Namun ketika hendak ber-istinja, kendala yang paling tidak disukai pun kembali ditemui. Dalam hati, aku ngedumel :
"Sialan, bayar enam ribu cebok pake kertas," kataku dalam hati yang masih mendapat pemasukan setiap bulan dengan mata uang Indonesia.
Ketika masih berada di kamar hotel, istinja tak menjadi soal. Pasalnya, masih ada selang pancuran yang bisa diturunkan dari tiang penyangga untuk menyiram dubur. Tapi ketika di WC publik, terutama di area stasiun, mall, perkantoran atau museum, jangan harap menemukan hal serupa.
Selama masih hidup di Indonesia yang belum juga mencapai kemakmuran merata, semua serba murah. Maklum, pendapatan perkapita masih berada di bawah ketiak.
Di Belanda dan Belgia, juga punya MCK yang merupakan perasan dari kata Mandi, Cuci dan Kakus. Namun sebagai negara modern, di sana dilarang mandi dan mencuci. Penjaganya pun, bukan orang tapi mesin yang perlu dikasih makan setrum dan jaringan online.
Ongkos sekali berak atau kencing, 50 Sen Euro atau kurang lebih Rp. 6.400. Makanya, kalau mau menggunakan WC umum sebaiknya tunggu sampai kebelet banget.
Di Indonesia, meski penjaga MCK juga manusia yang perlu makan-makanan sebagaimana mestinya, sekali kencing bertarif seribu Rupiah. Sedangkan berak, dua ribu Rupiah. Apa sebab ? Karena kalau kencing belum tentu berak. Dan kalau berak, sudah pasti kencing. Makanya harga berbeda.
Cara berak di Belgia atau Belanda, sebenarnya sangat berbeda dengan di Indonesia. Pertama, di dua negara pertama tadi 'ngising' harus duduk karena semua jamban yang tersedia seperti itu. Sedangkan WC jongkok, menjadi minoritas yang sepi peminat.
"Demi kesehatan," kata orang sono.
Pasca buang hajat besar, cebok tak menggunakan air. Cukup tisu kering menjadi lap pembersih sisa tinja yang masih menempel di tepian dubur.
Ini, memang sesuai dengan kondisi cuaca yang dalam beberapa bulan dingin sekali ketika salju turun, bersuhu dibawah 15 derajat celcius ketika musim semi, serta sangat panas ketika musim gerah tiba dan orang-orang pada telanjang meski tak bugil.
Ketika musim gerah tiba, cara cebok orang Eropa masih seperti itu. Dengan tisu dan tanpa air.
Ketika arus modernisasi mulai merambah Indonesia, sebagian masyarakat setempat ikut menggunakan jamban duduk. Bahkan, ketika 'istinja' harus dilakukan, orang modern di negara latah ini pun ikut-ikutan pakai tisu tanpa air.
Lihat saja sebagian besar hotel, mall dan perkantoran. Semua WC memakai cara model barat. Sedangkan rumah-rumah 'orang kaya baru' menggunakan jamban serupa.
Namun terkadang, di rumah 'orang kaya baru' masih ada toleransi yaitu, ditambah satu selang air sebagai bonus buat dubur. Sedangkan yang masih menyediakan ember serta gayung, bisa diduga kalau pemilik rumah masih malu-malu menjadi orang modern.
Hal ini, serupa dengan cara Timur Tengah yang pernah saya singgahi, terutama di bandara internasional Abu Dhabi ketika transit menggunakan maskapai Garuda Indonesia.
Sebagai orang Indonesia yang masih memakai cara tradisional dan menurut 'kaum modern' tradisional sama dengan kuno, saya masih pakai cara lama yaitu, jongkok. Mau di jamban modern, saya tetap nongkrong karena lebih poll.
Selesai sudah berhajat besar. Namun ketika hendak ber-istinja, kendala yang paling tidak disukai pun kembali ditemui. Dalam hati, aku ngedumel :
"Sialan, bayar enam ribu cebok pake kertas," kataku dalam hati yang masih mendapat pemasukan setiap bulan dengan mata uang Indonesia.
Ketika masih berada di kamar hotel, istinja tak menjadi soal. Pasalnya, masih ada selang pancuran yang bisa diturunkan dari tiang penyangga untuk menyiram dubur. Tapi ketika di WC publik, terutama di area stasiun, mall, perkantoran atau museum, jangan harap menemukan hal serupa.
Aku rindu kolumnis sekelas Pak Mahbub Djunaedi. Bernas tapi tetap lucu.
BalasHapusDalam kancah penyaiaran, mungkin levelnya Pak Cik nu'im Khaiyyath (Penyiar Radio Australia Seksi Indonesia)... tks atas share-nya! :-)
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
HapusKomentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
Hapus