Mamang Bersenter di Puncak

Ketika kawasan puncak, Bogor, Jawa Barat, menjadi kawasan wisata, di sana juga tersimpan prostitusi yang menyelubung.

Tidak hanya seperti di Gang Semen, Megamendung, Bogor, Jawa Barat, yang menjadi prostitusi gelap, tapi juga menyebar diam-diam ke tempat-tempat penginapan mewah dan kelas teri.

Katakan saja namanya Adang. Hidupnya bergantung pada jasa ojek yang dijalani sambil menawarkan vila kepada setiap wisatawan yang datang, namun kebetulan belum memesan kamar istirahat.

Pada ingatan yang dimiliki Adang, ada bermacam-macam jenis kamar mulai seharga Rp 100 ribu hingga di atas Rp 500 ribu sekali menginap. Tentu saja, dia juga bertindak sebagai calo selimut hidup.

"Kalau cewek sih tergantung maunya yang gimana. Yang seratus lima puluh juga ada sekali main," kata Adang tanpa malu-malu ketika ditanya soal selimut hidup.

Adang tidak sendirian. Setiap marketer vila yang berciri mengedipkan lampu senter di pinggir jalan, hampir semuanya berlaku serupa. Dan, uang tip yang harus diberikan pengguna jasanya, paling besar Rp 50 ribu untuk satu penjaja seks sekaligus kamar istirahat.
Teh Ida, selimut hidup yang ditemui, mematok harga Rp 200 ribu sekali main. Tapi ketika digoyang sedikit, harganya langsung jatuh ke angka Rp 120 ribu.
"Aku punya anak 3, paling tua 17 tahun," kata Ida yang mengaku berusia 33 tahun itu dan terjerumus ke ranah prostitusi lagi-lagi lantaran persoalan ekonomi.
Dibantingnya tarif layanan nafsu Ida itu, lantaran semalam suntuk dia belum juga mendapatkan tamu.
"Kalau pake nginep segala, kasih aja enam ratus," kata dia.
Perempuan yang bisa dihadirkan mamang bersenter seperti Adang, bukan cuma wanita setempat atau yang berasal dari Bandung, Cianjur atau Sukabumi. Perek impor dari Maroko atau Thailand, juga bisa disuguhkan asal konsumen mampu membayar seharga yang dipatok.
"Kalau yang impor saya ambil dari Gang Semen," kata Adang yang lain.

Memang, Gang Semen pernah menjadi tinggal nama saja ketika diratakan dengan tanah pada 13 Agustus 2009 lalu oleh Pemerintah setempat. Namun seiring waktu berjalan, warung remang-remang yang juga menyuguhkan jasa syahwat, masih tetap eksis.

Keberadaan perempuan-perempuan impor ini, menurut Adang serta mamang bersenter lainnya, mulai marak sejak pertengahan tahun 2013 lalu. Ini, seolah menjadi reaksi setelah makin banyaknya imigran asal Timur Tengah. Dan, ancaman penyebaran virus HIV/ AIDS pun makin mengancam

Komentar

Posting Komentar