Nyanyian Anak Koruptor

“Bapak, nanti aku sama siapa kalau bapak dipenjara ?” tanya seorang anak perempuan yang selama ini hidupnya senang berkecukupan.

Meski baru duduk di bangku kelas 2 SMP, makan enak, tidur nyenyak dan segala kesenangan lain memang mudah sekali. Tinggal nyebak atau paling banter sekali banting pintu, segala barang mahal pasti diberi.

“Tiap dilansir gadget keluaran teranyar, bapak pasti membelikan,” katanya sombong di hadapan teman-teman sekolah.

Bapaknya pegawai negeri. Tapi cerita tentang abdi negara ini sudah tak sesuram dulu yang kerap dibumbui kisah gaji kecil.

Dengan seragam dan pangkat yang bapak punya, paling sedikit Rp 3 milyar sebulan pasti masuk pundi. Ya, kalau dulu memang lewat rekening bank tapi sekarang tidak lagi. Berkardus-kardus duit pecahan seratus ribuan atau dollar Amerika Serikat, sering datang diantar seorang pria berpakaian kumal. Pernah juga, itu uang disimpan di kantong kresek hitam hingga dikira sampah.

“Karena terlalu mudah melacak transaksi mencurigakan lewat rekening bank,” kata salah seorang petugas Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

“Pak, sekolahku belum tuntas. Nanti siapa yang mengajari aku berhitung dan cari pacar kaya,” tanya si anak sambil tersedu ketika bapaknya digelandang ke rutan Guntur tempat KPK menitipkan tahanan tipikor.

Kali ini, bapak diduga menilep duit Rp 39 milyar milik Pemerintah Provinsi ibu kota. Tapi lantaran ada tanda tangannya di lembaran cek dan surat perintah agar kepala Camat membuka rekening pribadi untuk dialiri dana perbaikan dan perawatan jalan bersumber dari APBD, dia jadi tersangka utama yang dinilai bisa membongkar semuanya.

Sekarang, semua orang se-Kelurahan tahu bapak korupsi. “Mau taruh di mana mukaku iniiiiiiii,” katanya.

Tidak ada lagi pesta ulang tahun yang meriah dan mewah. Tak ada lagi gadget terupdate yang diselipkan bapak di lemari bajuku. Tak ada lagi duit mengalir deras yang masuk ke rekeningku. Tidak ada lagi ruang tidur wah yang toiletnya masih jauh lebih enak ketimbang tempat tidur si jelata.

“Tidak ada !” dia menangis

Komentar

Posting Komentar