Lantaran
muncul suara kretek kretek ketika campuran tembakau murni dan cengkeh
dibakar, maka rokok yang digadang-gadang asli Indonesia ini diberi nama menjadi
jenis kretek.
Akibat keputusan tersebut PT HM
Sampoerna, sebanyak 4.900 karyawan terpaksa dirumahkan. “Kalau tidak segera ada
campur tangan pemerintah, ya, tinggal kenangan saja (Sigaret Kretek Tangan),”
kata Hasan Aoni Azis Sekretaris Jenderal GAPPRI.
Menurut legenda di kalangan
pekerja pabrik rokok di kawasan Kudus, Jawa Tengah, riwayat rokok jenis ini
bermula dari penemuan Haji Djamari di sekitar abad ke 19. Pada waktu itu, Djamari
merasa sakit di bagian dada dan lantas mengoleskan minyak cengkeh. Usai itu,
penyakitnya kandas dan lantas dia bereksperimen merajang cengkeh kemudian
mencampurnya dengan tembakau untuk dilinting menjadi rokok.
Kala itu, melinting rokok
merupakan kebiasaan yang lazim dilakukan para pria di Pulau Jawa. Dan, kabar
soal eksperimen Djamari pun menyebar cepat dan segera dikenal sebagai rokok obat.
Pada 1890, Djamari meninggal
dunia. Sepuluh tahun kemudian, tepatnya 1906 penemuan Djamari menjadi komoditi
memikat di tangan Nitisemito. Tepat di tahun 1908, usaha pria buta huruf asal
Desa Janggalan, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah yang punya nama kecil Rusdi ini,
resmi didaftarkan dengan nama Tjap Bal Tiga.
Kejayaan Tjap Bal Tiga, sudah
digeser dengan kemunculan rokok kretek Dji Sam Soe 234 yang secara resmi
diperkenalkan di Hindia-Belanda (sekarang Indonesia) pada tahun 1913. Selama satu
abad, tak pernah sekalipun rokok yang angka penjualannnya mencapai 10 milyar batang
pertahun di tiap negara ini merubah kemasannya. Angka tersebut, lebih tinggi
ketimbang merk dagang State Express 555 yang sebanyak 7.500.000.000 batang per
tahun.
Hingga saat ini, Dji Sam Soe yang
merupakan pelafalan angka 234 dalam dialek Hokkian, Fujian, Tiongkok, digadang-gadang
sebagai pemimpin pasar di sektor Sigaret Kretek Tangan (SKT). Pesaingnya,
antara lain Bentoel Sejati, Minak Djinggo, Djarum Coklat, Gudang Garam Merah
serta Wismilak.
Liem Seeng Tee, percaya bahwa
mitos angka 9 dari hasil penjumlahan angka 234 membawa keberuntungan dan
kesempurnaan. Hasilnya, dari kemasan rokok kretek ini banyak ditemui berupa
jumlah bintang pada logo 234. Konon, PT HM Sampoerna menetapkan karyawan yang
memproduksi Dji Sam Soe di setiap pabriknya berjumlah 234 orang. Tak kurang dan
tidak lebih.
Sumbangsih Rokok Terhadap
Penerimaan Negara
Bukan isapan jempol kalau asap
rokok yang begitu dimusuhi memiliki kontribusi besar terhadap penerimaan
negara. Pada tahun 1990-1991, penerimaan cukai yang dipungut dari tiga jenis
barang yaitu etil alkohol, minuman mengandung etil alkohol, dan hasil tembakau hanya
sebesar Rp 1,8 triliun atau memberikan kontribusi sekitar 4 persen dari
penerimaan dalam negeri.
Sepuluh tahun kemudian, di tahun
anggaran 1999-2000, jumlah tersebut meningkat sepuluh kali lipat menjadi Rp
10,4 triliyun atau menyumbang 7,3 persen dari total penerimaan dalam negeri. Tahun
2003, penerimaan cukai saja ditetapkan pada angka Rp 27,9 triliyun atau 8,3
persen dari penerimaan dalam negeri. Ini berarti, setiap sepuluh tahun sekali,
penerimaan cukai meningkat 100 persen lebih. Dan, 95 persennya berasal dari
cukai tembakau.
Organisasi Perdagangan Dunia
(World Trade Organization/ WTO) menyebut Indonesia adalah pengekspor terbesar
rokok berjenis kretek ke berbagai negara. Sementara Gabungan Perserikatan
Pabrik Rokok Kretek Indonesia (Gappri), menyebutkan, pada 2009 saja ekspor ke
negeri Paman Sam berhasil menyentuh angka USD 200 juta.
Sementara itu, menurut Indonesia
for Global Justice (IGJ) dalam lima tahun hingga akhir 2010, nilai ekspor rokok
kretek buatan Indonesia berhasil menembus angka mencapai USD 450 juta. 60
persen di antaranya, merambah pasar Amerika Serikat.
Setelah Presiden AS Barack Obama
mengesahkan peraturan Family Smoking Prevention and Tobacco Control Act yang
melarang peredaran rokok kretek dan beraroma lainnya dari luar negeri di pasar
dalam negeri AS, memang sempat memukul industri rokok kretek Indonesia. Soal itu
pun sudah berlalu dengan dimenangkannya Indonesia dalam panel WTO dalam
sengketa tersebut. Dalam Badan Banding WTO untuk kasus rokok kretek dengan AS,
RI pun kembali menang.
Kini, lantaran pangsa pasar dan
volume penjualan Sigaret Kretek Tangan (SKT) terus mengalami penurunan, direksi
PT HM Sampoerna memutuskan menutup dua pabrik SKT di Lumajang dan Jember Jawa
Timur.
“Kami tidak melihat akan adanya
perubahan tren pada segmen SKT dalam waktu dekat,” ujar Maharani Subandhi,
Sekretaris Perusahaan Sampoerna, dalam keterangan persnya pada Jumat, 16 Mei
2014 lalu.
Muncul dugaan, Sampoerna memberi
dukungan terhadap Peraturan Pemerintah Nomor 109 Tahun 2012 yang memuat aturan
mengenai standarisasi tembakau. Dengan peraturan tersebut, rokok putih makin
bebas dan SKT makin tergerus.
Dugaan tersebut, makin diperkuat
lantaran pada 2005 Sampoerna sudah dikuasai asing yaitu PT Philip Moris
International. Ditengarai, ini merupakan upaya pembunuhan terhadap industri
rokok nasional hingga akhirnya Indonesia cuma menjadi pasar bagi produk rokok
asing.
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
Hapus