Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) unjuk gigi lagi. Bukan cuma menyetop
tayangan goyang caesar yang menyamakan almarhum Benyamin Suaeb dengan anjing, penyiaran hitung cepat hasil pilpres pun
akhirnya distop juga.
Kata Judhariksawan dalam konferensi persnya di Jakarta, Jumat (11/7/2014), "dengan pertimbangan kepentingan publik yang lebih besar dan menjaga integrasi nasional."
Coba bayangkan, Komisi Pemilihan Umum (KPU) saja baru 22 Juli nanti umumkan hasil penghitung suara. Eh, instansi survey anu dan itu yang saling berseberangan malah kenceng-kencengan teriakan hasil perkiraannya di televisi.
Esek-esek Isyu
Memprediksi sih boleh saja. Tapi persoalannya, gerombolan tipi, koran, online, radio dan lain-lain, sangat terang-terangan menggiring opini publik agar sepakat bahwa pasangan kesekianlah yang menang. Ini berbahaya.
Tipi ini, mematok hasil survey di atas 50 persen bagi pasangan ke satu, sedangkan tipi anu mengatakan duet kedua meraih angka 50 persen lebih ketimbang yang pertama.
Yang bikin lebih gurih lagi, persentase tinggi perkiraan hitung cepat juga dibumbui diskusi dan berita-berita kemenangan pasangan capres-cawapres. Ada juga, ucapan selamat untuk kemenangan yang belum pasti tersebut.
Biar Punya Jurus, Tapi Ada KPU
Meski masing-masing tukang survey punya jurus dan hasil yang diklaim sesuai standar baku, tetap itu kan kira-kira. Di luar kewenangan meski punya kewajiban. Biar sedikit, tapi pasti ada yang error. Makanya harus pas betul.
Karena pilpres dilaksanakan secara manual dengan kertas suara, maka penghitungan harus non otomatis pula. Dan LSM, utusan parpol atau pasangan capres-cawapres, hanya berhak menyaksikan bukan memutuskan.
"Trend kemenangan dan ucapan selamat, menurut KPI masyarakat dipaksa ber-persepsi, " begitu penggalan publikasi yang dibacakan Judhariksawan.
Masih Ada Cara Gosok Lain
Opini bahwa si anu-lah yang terpilih jadi Presiden dan Wapres, terlanjur mengerubung. Sepertinya, persepsi masyarakat sengaja dipecah-pecah.
Setelah KPU memutuskan pasangan mana yang menang, sepertinya bakalan ada yang menggugat ke Mahkamah Konstitusi, isyu digosok terus, kemudian menyulut kesebalan massa.
Bagaimana perasaan pendukungnya di akar rumput yang sampai rela dicukur habis rambutnya demi meluapkan euforia kemenangan ? Bukan tidak mungkin nantinya bakal ada yang banting-banting gelas dan piring beling.
Entah harus bersyukur atau malah khawatir, bangsa Indonesia tengah menghadapi beberapa peristiwa penting yaitu puasa Ramadhan, pilpres, diberondongnya Gaza Palestina oleh Israel, serta piala dunia Brazil.
Kata Judhariksawan dalam konferensi persnya di Jakarta, Jumat (11/7/2014), "dengan pertimbangan kepentingan publik yang lebih besar dan menjaga integrasi nasional."
Coba bayangkan, Komisi Pemilihan Umum (KPU) saja baru 22 Juli nanti umumkan hasil penghitung suara. Eh, instansi survey anu dan itu yang saling berseberangan malah kenceng-kencengan teriakan hasil perkiraannya di televisi.
Esek-esek Isyu
Memprediksi sih boleh saja. Tapi persoalannya, gerombolan tipi, koran, online, radio dan lain-lain, sangat terang-terangan menggiring opini publik agar sepakat bahwa pasangan kesekianlah yang menang. Ini berbahaya.
Tipi ini, mematok hasil survey di atas 50 persen bagi pasangan ke satu, sedangkan tipi anu mengatakan duet kedua meraih angka 50 persen lebih ketimbang yang pertama.
Yang bikin lebih gurih lagi, persentase tinggi perkiraan hitung cepat juga dibumbui diskusi dan berita-berita kemenangan pasangan capres-cawapres. Ada juga, ucapan selamat untuk kemenangan yang belum pasti tersebut.
Biar Punya Jurus, Tapi Ada KPU
Meski masing-masing tukang survey punya jurus dan hasil yang diklaim sesuai standar baku, tetap itu kan kira-kira. Di luar kewenangan meski punya kewajiban. Biar sedikit, tapi pasti ada yang error. Makanya harus pas betul.
Karena pilpres dilaksanakan secara manual dengan kertas suara, maka penghitungan harus non otomatis pula. Dan LSM, utusan parpol atau pasangan capres-cawapres, hanya berhak menyaksikan bukan memutuskan.
"Trend kemenangan dan ucapan selamat, menurut KPI masyarakat dipaksa ber-persepsi, " begitu penggalan publikasi yang dibacakan Judhariksawan.
Masih Ada Cara Gosok Lain
Opini bahwa si anu-lah yang terpilih jadi Presiden dan Wapres, terlanjur mengerubung. Sepertinya, persepsi masyarakat sengaja dipecah-pecah.
Setelah KPU memutuskan pasangan mana yang menang, sepertinya bakalan ada yang menggugat ke Mahkamah Konstitusi, isyu digosok terus, kemudian menyulut kesebalan massa.
Bagaimana perasaan pendukungnya di akar rumput yang sampai rela dicukur habis rambutnya demi meluapkan euforia kemenangan ? Bukan tidak mungkin nantinya bakal ada yang banting-banting gelas dan piring beling.
Entah harus bersyukur atau malah khawatir, bangsa Indonesia tengah menghadapi beberapa peristiwa penting yaitu puasa Ramadhan, pilpres, diberondongnya Gaza Palestina oleh Israel, serta piala dunia Brazil.
Komentar
Posting Komentar