Peninggalan purbakala yang di wariskan orang-orang zaman megalitikum di Gunung Padang, dijaga betul-betul. Jangankan mencoret-coret tiap batu berbentuk persegi panjang yang ada di sana. Mengkonsumsi makanan saja tidak boleh. Tapi tenang, ada beberapa warung jajanan yang bisa didatangi guna mencari sekedar cemilan saja.
Kira-kira, menurut para ahli, situs
megalitikum yang terletak di Desa Karyamukti Kecamatan Campaka, Cianjur, Jawa
Barat, adalah yang terbesar dan terluas di Asia Tenggara. Dari segi usia, juga
masih jauh lebih tua dari Piramida Giza di Mesir sana.
Kalau melihat studi yang telah dilakukan para
ahli dari Direktorat Purbakala, PUSPAN (saat sekarang
bernama Pusat Penelitian dan Pengembangan
Arkeologi Nasional), Balai Arkeologi Bandung, Pemerintah Daerah, Badan Tenaga Nuklir Nasional, serta berbagai
kelompok masyarakat disusul Laboratorium Beta, Miami, Florida, Amerika Serikat, secara
estafet, diyakini luas kompleks punden berundak mencapai tiga hektare, dan
dibangun 4.700-10.900 tahun sebelum Masehi. Sementara Giza, dibangun 2.500
tahun sebelum masehi.
Pada kunjungan libur Lebaran lalu, tujuan
pertamaku adalah Situs Gunung Padang. Kemegahannya, kudengar dari seorang teman
saat ngobrol-ngobrol di pelataran Kampus IISIP Jakarta, dua hari menjelang Idul
Fitri.
Sepanjang perjalanan menuju ke sana dari
Jakarta Selatan, melintasi kawasan Puncak, Bogor, Jawa Barat, dengan menunggang
kuda besi, memang masih tersisa keriuhan ibukota yang bergeser ke tempat sejuk.
Pelat nomor kendaraan, didominasi huruf B. Sedangkan F, paling banyak tercantum
di bember angkot yang mondar-mandir sesuai rutenya.
Lepas Puncak Pass menuruni tikungan bukit
Ciloto, hawa sejuk baru benar-benar terasa lantaran rindang pohon masih
mendominasi pemandangan. Terus turun menuju perempatan Cianjur, kemudian menuju
pusat kota, dan tarik gas ke arah Warung Kondang. Jaraknya dari Mampang
Prapatan, Jakarta Selatan, tempat start awal, diperkirakan mencapai 165 kilometer.
Kalau dari Kota Bandung, cuma 110 kilometer.
Sekitar 3 kilometer dari simpang Warung
Kondang, ada penunjuk arah ke sebelah kiri menuju ke situs Megalitikum Gunung
Padang. Kalau tidak diperhatikan betul-betul dan lebih mengutamakan kecepatan
lari kendaraan, tentu luput dari perhatian mata.
“Dua puluh kilometer lagi ikuti jalan ini,”
kata penyedia jasa Ojek yang mangkal di mulut jalan menuju situs kepadaku.
Mengendarai motor trail modifikasi, mungkin lebih
baik dari pada menunggangi motor sport jenis road race menyusuri 25 kilometer
aspal yang tak rapi. Meski guncangan lumayan besar ditambah badan jalan yang cuma
muat satu mobil, pemandangan asri khas Indonesia begitu anggunnya memamerkan
keindahan. Semua hijau, rumah-rumah berbahan kayu atau bambu mendominasi tempat
tinggal penduduk. Kalau ada yang berbahan tembok, boleh dikata ekonominya mulai
kuat.
Memasuki gerbang selamat datang, sepeda motor
dikutip bea masuk sebesar dua ribu Rupiah. Sedangkan mobil, kena lima ribu Rupiah.
Dari karcisnya, mungkin tarif itu tanpa sepengetahuan perangkat desa atau
pemerintah setempat. Barulah di loket bergaya arsitektur zaman batu seperti di
film The Flinstone, ada kutipan resmi sebesar dua ribu perak berdasar Peraturan
Desa nomor 02 tahun 2013.
Ada dua jalur yang ditawarkan untuk mencapai
puncak bangunan batu yang kuat diduga berbentuk piramida. Di sebelah kiri,
panjangnya cuma 185 meter dengan kemiringan sekitar 70 derajat. Sedangkan di
kanan, menanjak 365 meter dengan kemiringan berkisar 60 derajat.
Aku pilih kiri, sambil sesekali setelah naik
empat anak tangga lantas ngos-ngosan. Setibanya di puncak, pemandangan berupa susunan
batu persegi panjang memeta menyerupai tempat pemujaan disuguhi si pembuatnya
sejak 4.700-10.900 tahun sebelum Masehi.
Sekarang kita tinggal menikmati sambil mengkajinya.
Legenda
Gunung Padang
Bagi masyarakat setempat, situs Gunung Padang
yang luas zona intinya mencapai 25 hektare, merupakan kawasan yang
dikeramatkan. Banyak yang percaya, piramida tersebut merupakan hasil usaha Prabu
Siliwangi, Raja Sunda di masa lalu, yang berusaha membangun istana dalam
semalam.
Sementara itu, dalam Naskah Pujangga Manik yang ditulis abad ke 16
disebutkan, situs tersebut merupakan tempat Kabuyutan
di hulu Cisokan, sungai yang berhulu di sekitar tempat situs tersebut
berada. Legenda juga menuturkan, situs megalitikum ini adalah lokasi pertemuan
tahunan semua ketua adat pada masyarakat Sunda kuno.
Hingga saat ini, situs ini juga masih sering dipakai kelompok
penganut agama asli Sunda kuno dalam melakukan pemujaan terhadap sesembahannya.
Kalau pada Piramida Giza di Mesir bisa dengan mudah dilakukan
penelitian, di situs Gunung Padang yang diyakini banyak ahli, sepertinya jauh
lebih rumit untuk melakukan penelitian. Sebab, seluruh badan piramida tertutup
tanah dan diperlukan biaya besar sekali untuk melakukan penggalian disertai
relokasi penduduk beserta pemindahan lahan persawahannya.
Biar begitu, secara estafet sejak tahun 1979 hingga kini, tercatat
sudah berkali-kali penelitian dilakukan dari berbagai metode yakni geofisika,
geolistrik, georadar dan geomagnet. Hasilnya, bengunan tersebut benar-benar
dibangun dengan tangan manusia dengan teknologi maju.
Di antara batu-batu kolom, ditemukan material pengisi yang disebut
para ahli sebagai semen purba. Berdasar analisis kimia, komposisi yang
terkandung di dalam semen tersebut sangat kuat sebagai perekat.
Materialnya, memiliki komposisi utama 45 persen mineral besi dan
41 persen mineral silika, 14 persen mineral lempung serta unsur karbon.
Pembina pusat Ikatan Ahli Geologi Indonesia pusat, DR. Andang
Bachtiar mengatakan, tingginya kandungan silika mengindikasikan semen tadi
bukan hasil pelapukan dari batuan kolom andesit yang miskin silika. Kemudian
menurut dia, kadar besi di alam bahkan di batuan yang ada di pertambangan biji
mineral sekalipun tak lebih dari 5 persen. Disimpulkan, itu adalah adonan semen
buatan manusia.
Teknologi saat itu, rupanya sudah mengenal metalurgi yaitu teknik
umum guna mendapatkan konsentrasi tingggi besi dengan melakukan pembakaran dari
hancuran bebatuan dengan suhu panas sangat tinggi.
Proses
Pembangunan
Rupanya, budaya gotong royong yang menjadi salah satu ciri
masyarakat Indonesia sudah ada sejak zaman batu. Ini, bisa dilihat dari
pembukaan semak-semak di sisi tenggara.
Di sana, ditemukan 20 tingkat terasering punden berundak yang
disusun oleh masyarakat saat itu dengan cara bergotong royong dengan kemampuan
teknologi yang diduga para ahli cukup maju.
Pembukaan terasering punden berundak ini, akhirnya mementahkan
hipotesis sebelumnya yang menyebutkan bahwa area situs Gunung Padang hanya
seluas 900 meter persegi.
Dengan ditemukannya 20 tingkat teraserung tadi, menunjukkan bahwa
situs tersebut sangat luas. Zona intinya, lebih besar 25 hektar dari perkiraan
semula.
Arkeolog asal Bosnia Herzegovina, Semir Sam Osmanagich meyakini
situs megalitikum di Cianjur, Jawa Barat masuk ke dalam kategori peradaban
piramida. Sam mengatakan, pembangunan piramida didasari pertimbangan mendasar
antara lain lingkungan, sumber daya alam dan sumber daya manusia. Para
pembangunnya menurut dia adalah orang-orang jenius yang mampu memanipulasi alam
serta memanfaatkan energi di sekitarnya.
Komentar
Posting Komentar