Dini hari kepleset menjelang pagi, kendaraan bermotor dengan dua atau empat roda berbondong masuk ke Jakarta. Asalnya, dari Depok, Tanggerang, Bekasi, atau yang jauhan dikit seperti Bogor, Karawang dan Banten.
Tujuannya cuma satu, cari duit buat dibawa pulang ke rumahnya masing-masing.
Ocim memang bukan orang Sunda. Tapi sejak masih di dalam perut, dia sudah menjadi warga Warung Jambu, Bogor, Jawa Barat, lantaran bapak-ibunya sudah kantongi kartu tanda penduduk kota hujan dan sejuta angkot sejak baru nikah.
Selepas sekolah menengah atas (SMA), Ocim ogah melanjutkan pendidikan ke tingkat lebih tinggi. Sebab bukan apa-apa. Selain memang tidak mau, orang tuanya tak sanggup mengongkosi kelanjutan pelajarannya di perguruan tinggi. Jadi lebih baik ikut cari duit.
Bekerja di Bogor, gajinya tak seberapa. Akhirnya, Jakarta lagi-lagi dipilih sebagai tempat menyandarkan mimpi.
Hingga saat ini, dia sudah dua tahun bekerja di perusahaan swasta yang pendapatan tiap bulannya tidak terlalu besar. Meski Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menetapkan upah minimun provinsi sebanyak dua juta rupiah lebih, gaji Ocim yang memang bukan warga ibu kota malah jauh berada di bawah itu.
Setiap hari, setelah pedagang sepeda motor membanting uang muka semurah-murahnya, menuju tempat kerja Ocim menunggang kuda besi otomatis yang lisensi produknya berasal dari Jepang.
Berangkat gelap karena takut kejebak ruwetnya arus lalu lintas Jakarta, pulang juga gelap karena akhirnya kejebak juga. Itu yang tiap hari dialaminya mulai Senin sampai Jumat kadang-kadang Sabtu juga.
Orang seperti Ocim, jumlahnya jutaan. Tiap hari, bagai semut mengerubung gula yang ditaruh sembarangan, mereka menyerahkan nasib pada Jakarta.
Tidak menyerahkan sepenuhnya juga sih. Buktinya di jalan raya saling serobot, tak sabar nunggu lampu hijau menyala, dan siap berkelahi kalau bersenggolan.
Betul, pemandangan seperti itu biasa terlihat di jalanan Jakarta. Tengok saja ketika antrian mulai padat di perempatan jalan. Yang diinstruksikan menunggu ketika trafic light menyala merah, menghentikan kendaraannya sampai hampir menutup jalur berlawanan.
Rupanya, kebiasaan tersebut sudah menular ke kota-kota satelit penunjang Jakarta. Ironisnya lagi, para pelaku mayoritas mampu menunjukkan kartu izin mengemudinya waktu Polantas kasih 'sempritan' untuk menepi.
Tak salah lagi, penyelesaian perkara di jalanan sudah bisa ditebak ujungnya. Pengeluaran surat tilang mampu dibendung selembar 'gocapan' Rupiah. Dan, pengendara pun makin brengsek.
Tujuannya cuma satu, cari duit buat dibawa pulang ke rumahnya masing-masing.
Ocim memang bukan orang Sunda. Tapi sejak masih di dalam perut, dia sudah menjadi warga Warung Jambu, Bogor, Jawa Barat, lantaran bapak-ibunya sudah kantongi kartu tanda penduduk kota hujan dan sejuta angkot sejak baru nikah.
Selepas sekolah menengah atas (SMA), Ocim ogah melanjutkan pendidikan ke tingkat lebih tinggi. Sebab bukan apa-apa. Selain memang tidak mau, orang tuanya tak sanggup mengongkosi kelanjutan pelajarannya di perguruan tinggi. Jadi lebih baik ikut cari duit.
Bekerja di Bogor, gajinya tak seberapa. Akhirnya, Jakarta lagi-lagi dipilih sebagai tempat menyandarkan mimpi.
Hingga saat ini, dia sudah dua tahun bekerja di perusahaan swasta yang pendapatan tiap bulannya tidak terlalu besar. Meski Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menetapkan upah minimun provinsi sebanyak dua juta rupiah lebih, gaji Ocim yang memang bukan warga ibu kota malah jauh berada di bawah itu.
Setiap hari, setelah pedagang sepeda motor membanting uang muka semurah-murahnya, menuju tempat kerja Ocim menunggang kuda besi otomatis yang lisensi produknya berasal dari Jepang.
Berangkat gelap karena takut kejebak ruwetnya arus lalu lintas Jakarta, pulang juga gelap karena akhirnya kejebak juga. Itu yang tiap hari dialaminya mulai Senin sampai Jumat kadang-kadang Sabtu juga.
Orang seperti Ocim, jumlahnya jutaan. Tiap hari, bagai semut mengerubung gula yang ditaruh sembarangan, mereka menyerahkan nasib pada Jakarta.
Tidak menyerahkan sepenuhnya juga sih. Buktinya di jalan raya saling serobot, tak sabar nunggu lampu hijau menyala, dan siap berkelahi kalau bersenggolan.
Betul, pemandangan seperti itu biasa terlihat di jalanan Jakarta. Tengok saja ketika antrian mulai padat di perempatan jalan. Yang diinstruksikan menunggu ketika trafic light menyala merah, menghentikan kendaraannya sampai hampir menutup jalur berlawanan.
Rupanya, kebiasaan tersebut sudah menular ke kota-kota satelit penunjang Jakarta. Ironisnya lagi, para pelaku mayoritas mampu menunjukkan kartu izin mengemudinya waktu Polantas kasih 'sempritan' untuk menepi.
Tak salah lagi, penyelesaian perkara di jalanan sudah bisa ditebak ujungnya. Pengeluaran surat tilang mampu dibendung selembar 'gocapan' Rupiah. Dan, pengendara pun makin brengsek.
Komentar
Posting Komentar