Tak Selamanya Banci Itu Homo

Pernah lihat banci ngamen dengan menggendong tape kaset di leher ? Inilah kisahnya. 

Panggil saja dia Tono yang beken di kalangan banci-banci ngamen di bagian selatan Jakarta dengan panggilan 'Tini'. Setelah meninggalkan kampung halamannya di Brebes, Jawa Tengah, pertengahan tahun 2011 lalu, dia ogah cari hidup layak di Jakarta dengan cara benar. Jadilah dia sekarang seperti ini.

Pertama kali tiba di Ibu Kota, 'Tini' memang tak menganggur lama. Seminggu dia di Jakarta, temannya yang merupakan awak Metro Mini jurusan Cileduk-Blok M mengajaknya mengais rejeki di angkutan umum. Tapi itu, hanya bertahan satu tahun lantaran hidup di bis kota dianggapnya terlalu keras.

Bosan dengan profesi yang baru dijajaki di tingkat kernet, 'Tini' alih profesi menjadi kuli bangunan. Baru satu proyek pembangunan rumah dia tuntaskan, 'Tono' yang 'Tini' bosan. Dia pun putar otak untuk cari duit gampang dan banyak meski sempat juga jualan otak-otak ikan di depan pintu gerbang sebuah Sekolah Dasar di sekitar Jakarta Selatan.

"Awalnya ngamen pake kecrek tutup botol. Tapi capek karena kudu nyanyi dan ngelawak juga mas biar orang pada seneng," kata 'Tini' dengan gaya yang dimodifikasi layaknya perempuan asli.

Masa ketenaran 'bencong bass betot' atau 'banci kecrek' seperti yang sering disodorkan film-film lama memang telah berlalu. Kini, dengan tape berkaset bajakan yang memutar musik disko dengan bisingnya jauh lebih mudah mengumpul rejeki. 'Tini' cuma perlu berjoget genit agak seronok. Seribu-dua ribu Rupiah pun, pasti lolos dari kantong penghuni warung kopi, bengkel motor liar atau anak muda yang sekedar duduk-duduk di tepi jalan.

"Kita ngasih karena geli bang, dari pada dia joget lama-lama," kata Ahmad Muzamil yang pernah menyawer banci karena terpaksa.

'Tini' pun mengambil langkah serupa, meski sebenarnya dia tak terjangkit perilaku seks yang menurut kebanyakan orang Indonesia menyimpang. Dia pilih langkah jadi banci lantaran di pekerjaan ini jauh lebih mudah cari duit.

Penghasilan 'Tini' masih jauh lebih banyak ketimbang Upah Minimum Provinsi (UMP) untuk buruh DKI Jakarta. Dalam sehari, paling sedikit dia bisa meraup Rp 80 ribu dengan modal dandanan menor cabul, lengkap dengan tape yang selalu digendongnya, ditambah tarian genit agak seronok.

"Itu boncos lho mas. Kalo tanggal muda, aku bisa dapet 150 sampe 200," kata 'Tini' sambil mulai memperlihatkan sifat kelaki-lakiannya yang menggemari rokok kretek.

'Tini' mengakui, rekan-rekan seprofesinya yang sering bertebaran di setiap sudut kota Jakarta tidak semua menjadi banci karena 'panggilan jiwa' akibat kelainan orientasi seksual. Kini, mayoritas di antaranya menurut dia bekerja begitu karena cara ini jauh lebih mudah. Lagi pula, kata 'Tini' cari pekerjaan di Jakarta dengan bermodal ijazah SMP sangat sulit.

'Tini' memang belum memperistri satu pun perempuan. Tapi beberapa rekannya, sudah punya anak-bini di kampung halaman. Seperti cerita-cerita di televisi, mereka pun tak tahu kalau suami dan ayahnya mencari nafkah dengan cara ini.

Komentar