Pada kasur kucelentang. Menatap plafon dan beberapa bohlam redup sambil memikirkanMu.
Aku cinta diriku sendiri
Sering kuintip keberadaan Tuhan. Dia Maha tanpa logika.
Tuhan, maaf aku memikirkanMu. Ketika aku memikirkanMu-lah, aku merasa makin menceburkan diri sendiri ke dalam diri sendiri.
Segala kemauan dan kemampuan yang aku punya, aku yakin se-yakin-yakinnya bahwa Kau punya hal yang sama serta sangat teramat jauh serta Maha kemauan dan kemampuan yang Kau miliki.
Tuhan, maaf aku menyebutMu dengan kata 'Kau' atau 'Mu'. Aku tak tahu lagi sebutan apa yang teramat pantas untukMu.
Ketika aku memberi, Kau Maha Pemberi. Saat aku mengasihi, Kau Maha Pengasih. Waktu aku berusaha adil, Kau Maha Adil. Sekarang aku marah-marah, Kau Maha Pemarah.
Baiklah, sekarang Tuhan sudah aku temukan. Aku akan berlaku sebagai tuhan untuk diriku sendiri. Mohon ampun kalau setan di dalam diri yang sudah aku kenal sifatnya masih kuturuti kemauannya.
Maaf Tuhan, kalau aku membandingi. Sebab nyawaku sendiri pun tak pernah aku lihat.
Aku cinta diriku sendiri
Sering kuintip keberadaan Tuhan. Dia Maha tanpa logika.
Tuhan, maaf aku memikirkanMu. Ketika aku memikirkanMu-lah, aku merasa makin menceburkan diri sendiri ke dalam diri sendiri.
Segala kemauan dan kemampuan yang aku punya, aku yakin se-yakin-yakinnya bahwa Kau punya hal yang sama serta sangat teramat jauh serta Maha kemauan dan kemampuan yang Kau miliki.
Tuhan, maaf aku menyebutMu dengan kata 'Kau' atau 'Mu'. Aku tak tahu lagi sebutan apa yang teramat pantas untukMu.
Ketika aku memberi, Kau Maha Pemberi. Saat aku mengasihi, Kau Maha Pengasih. Waktu aku berusaha adil, Kau Maha Adil. Sekarang aku marah-marah, Kau Maha Pemarah.
Baiklah, sekarang Tuhan sudah aku temukan. Aku akan berlaku sebagai tuhan untuk diriku sendiri. Mohon ampun kalau setan di dalam diri yang sudah aku kenal sifatnya masih kuturuti kemauannya.
Maaf Tuhan, kalau aku membandingi. Sebab nyawaku sendiri pun tak pernah aku lihat.
Komentar
Posting Komentar