Semua Tentang Duit



Sejak undur diri sebagai calon Sarjana Jurnalistik, Rouddin masih tak tahu apa tujuan hidupnya. Tapi yang jelas, orang-orang di sekitar terlanjur menanamkan fulus sebagai puncak kesuksesan dan kebahagiaan hidup di dunia ini.

Waktu Rouddin masih kecil, bapaknya ketiban warisan bernilai puluhan milyaran Rupiah. Dengan asumsi nilai tukar di kisaran Rp 2.500 per Dollar Amerika, duit bapak termasuk paling banyak seKecamatan.

Mau sepeda, motor, mobil atau kalau perlu beli tank baru, bapak pasti sanggup. Maka keturutanlah segala keinginan Rouddin.

"Tinggal guling-guling tiga kali plus banting-banting piring, kepengenan gua pasti diturutin," kata Rouddin nyohor di depan beberapa teman sekaligus jongosnya itu.

Mereka sih iya-iya saja sambil menuruti segala perintah Rouddin. Salah satu temannya bilang, enaknya ngintilin Rouddin, segala macam jajanan dia yang bayar. Waktu itu, di pertengahan tahun 1990-an, punya duit 500 perak saja, mie ayam sudah bisa dilahap plus satu Teh Botol. Soal iseng-iseng belajar menghisap rokok dan beli koin game ding dong, tenang. Semua ditanggung bos. Setiap hari, sebagai anak sekolah menengah pertama, jajannya 10 ribu Rupiah sehari.

Meski sekolahnya tidak beres, sekolah menengah tingkat atas bisa diselesaikan dengan dikatrol tiap tahun. Setelah itu, dia luntang-lantung ngabisin duit bapaknya.

"Din, lo terusin dah. Kuliah jurusan apa kek, biar engga nganggur. Abis kerja juga lo ogah," kata ibunya setengah memohon.

Pantas memang ibunya memohon. Rouddin tak melakukan apa-apa untuk mendefinisikan hidupnya di bumi ini. Ngebut-ngebutan, ngerayu janda dan anak perawan orang lantas keluyuran jadi kesibukannya.

Sepuluh tahun lebih nafasnya terbuang percuma. Tak ada satu pun pekerjaannya yang berguna buat kebanyakan orang. Dipikirannya, mau kerja apalagi klo duit juga sudah banyak.

Jatuh Cinta, Menikah, Bercerai dan Bangkrut

Di satu pesta ulang tahun teman perempuan yang dikenal di tempat dugem, Rouddin ketemu cewek cantik. Kalau dilihat dari samping, mirip Sophia Latjuba waktu muda. Dari depan, tampangnya seperti gadis paling cantik asal Turki.

Dengan berat badan 60 kilogram dan tinggi 165 centimeter, lengkap sudah segala kecantikan fisik yang ada pada perempuan itu.

Evi namanya. Dalam hitungan detik, anak panah yang dilepaskan Dewa Amor bersarang tepat di jantung Rouddin. Tampang tolol pun melenyapkan segala kesan jagoan anak penggede. Dia jatuh cinta.

Gayung bersambut. Dihadapan setan, mereka adalah pasangan ideal yang rajin berbuat mesum di kamar-kamar sewaan sampai akhirnya perut Evi melendung duluan. Menikahlah mereka untuk menutupi malu dengan setengah restu orang tua.

Rupanya, Evi bukan cuma doyan duit. Kalau perlu, kasur tempat dia tidur pun isinya jangan kapuk, tapi fulus. Namanya putra penggede, Rouddin tak perlu khawatir menuruti kedoyanan Evi.

"Demi cintaku padamu, aku ikhlas bayar astronot untuk turunin bulan dari langit," kata Rouddin ketika masih pacaran penuh ketulusan.

Setelah menikah dan punya anak, cinta dan sayang Rouddin kepada bininya tak kurang sedikit pun. Bertumpuk-tumpukan duit bapak, pelan-pelan habis ditebangi untuk menuruti segala kesenangan Evi.

Bisnis properti yang dibangun bapaknya, diketengin satu-satu untuk ongkos plesiran ke Bali, Yogyakarta, Lombok, Raja Ampat, Singapura dan keliling Eropa. Harta warisan yang tublek ke pangkuannya sebagai anak semata wayang pun cuma bertahan sebentar saja.

Tiga belas tahun usia perkawinan Rouddin dan Evi. Dengan hasil dua anak perempuan dan pembagian hak asuh seorang satu, mereka resmi bercerai di hadapan majelis Hakim Pengadilan Agama Jakarta Barat. Ini, lantaran Evi tertangkap basah bermesraan dengan selingkuhannya di kamar hotel oleh petugas Satpol PP kemudian masuk televisi.

Dini Pregnatu Merita anak tertuanya. Dinamakan seperti itu lantaran kehamilannya tidak diinginkan dan berada di luar jangkauan pernikahan. Waktu perceraian terjadi, usianya baru 13 tahun tiga bulan.

Sementara yang kedua, diberi nama Girlia Asa Fortuna. Maknanya, anak kedua berusia 10 tahun itu diharapkan dapat menopang kehidupan orang tua kalau susah nanti.

Cantik dua anak itu. Polos dan selalu dimanja, membuat Evi berpikir disewakan saja kalau sudah besar nanti karena harta yang ada sudah habis. Sementara Rouddin, dengan penuh penyesalan karena sisa peninggalan bapaknya cuma satu rumah, tiga petak kontrakan dan sepeda motor saja, kepingin dua-duanya jadi Sarjana.

Sekarang, Evi sudah menikah lagi dengan Dipa Satria, pegawai negeri yang berdinas di Bengkulu, Sumatera Selatan. Suami barunya itu, adalah pacar sejak SMA dan tak pernah putus hubungan meski di mata hukum dia istri sah Rouddin.

Evi dan suami barunya, menempati rumah yang lumayan besar di Bengkulu sana. Dengan aset yang lumayan, hidupnya terbilang nikmat setelah berhasil melucuti harta bekas lakinya dulu. Tapi tetap saja, semua terasa kurang karena tak pernah disyukuri.

Komentar