Sejak Perang Salib Sampai ISIS

Makin kacau ini dunia. Di ranah hukum, semua orang tahu pola permainannya. Ada uang abang menang, ga ada uang abang dibui. Soal perekonomian, yang menjerit dibiarkan makin susah dan kelabakan. Soal politik, ya begitu dah. Bisa dibeli. Belakangan, perihal Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS) yang katanya sudah masuk serta mewabah di Indonesia.

Yang terakhir ini nih yang sebenarnya bukan urusan Indonesia sebagai negara dan bangsa berdaulat.

Semua orang tahu kalau bangsa Indonesia mayoritasnya memeluk agama Islam. Sangat memalukan ketika penguasa ikut-ikutan memusuhi Islam di rumahnya sendiri.

Kata media massa yang setiap hari mengutip penggede negeri ini, ISIS sebagai organisasi radikal sudah masuk dan mewabah pahamnya di Indonesia. Aksinya pun diduga bakal menjadi ancaman serius bagi masa depan Nusantara.

Ini analisa saya dengan kacamata bodoh.

Ketika Uni Sovyet (US) runtuh dan terkubur bersama paham komunisnya, Amerika Serikat (AS) menjadi negara paling kuat di dunia. Kekuatannya pun seperti mau menyaingi kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa. Siapa lagi musuhnya ? Sedangkan orang kuat perlu musuh untuk tetap kuat dan berkuasa.

Pasca runtuhnya US, Afganistan jadi medan tempur berikutnya bagi tentara AS. Al-Qaeda, sengaja diciptakan sebagai musuh baru AS. Belakangan ketahuan belangnya. Osama bin Laden, pentolan teroris itu adalah agen CIA yang sengaja dibentuk oleh Paman Sam.

Peristiwa 11 September 2001 pun meletus dengan ditabraknya menara kembar World Trade Center (WTC) oleh pesawat komersil. Masa iya, negara sekuat AS tak mampu menangkap gelagat angkutan massal itu dengan radarnya yang canggih ? Aneh memang, tapi begitulah skenario besarnya. Tujuannya ya memusuhi Islam di dunia termasuk di negara-negara yang mayoritas warganya memeluk agama warisan Nabi Muhammad tersebut.

Al-Qaeda sudah dihancurkan. Bukti paling nyata kata AS, adalah dengan dibunuhnya Osama oleh pasukan elit negeri Paman Sam itu. Sudah selesai ? Belum. Justru babak berikutnya baru saja dimulai.

Kekacauan pasca invasi tentara AS ke Irak melahirkan aksi kekerasan yang berkelanjutan. Di Suriah, pasca terbunuhnya Muammar Kadafi, orang marah-marah dengan berkali-kali melakukan aksi bom bunuh diri dan peledakan di sana-sini. Ini awal mula ceritanya.

Katanya, ISIS lahir dengan mengusung misi besar berupa pendirian ke-Khalifah-an di Timur Tengah bahkan di seluruh dunia. Pemimpinnya, Abu Bakar al-Baghdadi yang disebut-sebut tak kalah kejam dari pendahulunya yakni Abu Umar al-Baghdadi.

Kekejaman ISIS pun dipertontonkan lewat dunia maya. Tak sedikit sandera yang mati digorok kalau kemauannya tak dituruti. Kejam, sudah pasti. Karena memang begitulah skenarionya agar semua orang anti-pati terhadap Islam. Kalau perlu, pemeluknya pun murtad usai melihat tontonan keji tersebut.

Di Indonesia sendiri, isyu baru beberapa minggu diseruakkan ke permukaan. Skenario awal yang dimainkan, 16 warga hilang di Turki dan diduga hendak bergabung dengan pasukan tersebut. Pemerintah pun mengaku kerepotan mengganjal laju ISIS di dalam negeri. Tapi yang lebih repot lagi, ya rakyat Indonesia. Soalnya bukan apa-apa. Baru diduga saja sudah digembar-gemborkan. Sementara fakta dan bukti-bukti kuat tak pernah disorongkan ke meja publik.

Pernah juga ada berita yang mengabarkan seorang remaja pelajar menjadi simpatisan ISIS. Bukti yang dipublikasikan aparat keamanan, cuma senjata mainan, atribut ISIS, serta buku-buku berbau jihad. Beberapa di antaranya, malah ditulis oleh penulis barat.

Ada yang lebih aneh lagi dari pemberitaan media massa. Perlu diingat, kabar ISIS masuk ke Indonesia baru beberapa minggu saja. Tapi kok sudah ada mantan pemimpinnya di negeri ini. Namanya Chep Hernawan. Dia ditangkap petugas Polres Cianjur, Jawa Barat, pada 21 Maret lalu, atas dugaan penipuan proyek senilai Rp 150 juta. Dia pun dijerat pasal 378 KUHP. Namun belakangan, dia mengaku-ngaku sebagai pentolan ISIS regional Indonesia. Inilah yang kemudian dibesar-besarkan media pro barat.

Dugaan masuknya ISIS ke Indonesia memang belum sesadis kelompok Imam Samudra yang dengan berani meledakkan bom bunuh diri di Pulau Dewata. Ada benarnya juga aparat keamanan melakukan antisipasi di dalam negeri. Tapi, ya itu tadi. Bukti dan faktanya belum lengkap sudah digembar-gemborkan.

Edward Snowden, mantan agen CIA yang kemudian berbalik menyerang bosnya pernah mempublikasikan kebohongan aksi intelijen AS di seluruh dunia. Belakangan, dia juga mengungkap skenario besar soal ISIS.

Dia bilang, ISIS sengaja dibentuk guna memecah belah bangsa Arab agar kepentingan AS di Jazirah bisa terus jalan. Tentu, salah satu kepentingan tersebut adalah agar Israel tidak dikeroyok negara-negara Timur Tengah.

Senada dengan Edward yang kini ngumpet di Rusia, Mashadi, pemimpin redaksi VOA-Islam.com juga mengatakan hal serupa setelah portal beritanya dibredel Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemen Kominfo) atas permintaan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

Mashadi bilang, soal ISIS masuk Indonesia cuma desas-desus yang terus ditiupkan di negeri berpenduduk mayoritas pemeluk Islam. Kalau memang benar dan serius, serta sudah menjadi ancaman keamanan nasional, semestinya pihak aparat keamanan beserta intelijen mampu menjelaskan kepada publik dengan gamblang didukung bukti dan fakta yang bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya.

Ini malah tidak. Gosip terus diciptakan, dan bukan tidak mungkin kondisi jadi sulit diprediksi kalau benar-benar terjadi ledakan ancaman keamanan nasional.

Tindakan Kementerian Kominfo menutup 22 portal berita Islami menurut Mashadi sangat tidak beralasan dan tak berdasar. Sebab menurut dia, tuduhan media Islam menyebarkan paham radikal terlalu dicari-cari untuk memberangus situs Islam.

Masih menurut Mashadi, semua berita di situs atau media yang diblokir itu tidak ada yang sangat spesifik atau khusus tentang berita-berita yang diangkat.

"Hanya mengambil angel (sudut pandang) yang berbeda. Semua berita, analisa, laporan khusus dan features sudah dimuat oleh berbagai media lokal dan internasional seperti CNN, The New York Time, Washington Post, Al-arabiya, World Bulletine dan lainnya," kata Mashadi ketika berbincang dengan saya lewat sarana SMS.

Bisa disimpulkan, dengan kebijakan tersebut pemerintah justru telah melakukan pelanggaran konstitusi dengan membredel hak-hak paling mendasar warga negara yaitu kebebasan berpendapat.

Dari situ jelas, masyarakat dibiarkan menjadi konsumen berita yang sudah dikendalikan kelompok barat. Kalau ada yang dari Timur Tengah, paling-paling cuma Al-Jazeera. Sementara kita tahu, stasiun tivi ini sudah dikuasai barat pula. Nah, di sinilah akhirnya bakal lahir ketimpangan arus informasi.

Bagi masyarakat awam, agak repot memang mengambil sikap soal isyu radikalisme ini. Soalnya, perut terlanjur keroncongan, harga kebutuhan pokok makin meroket, sementara pendapatan masih segitu-gitu juga. Lantas, apa yang harus disikapi lebih dulu ?

Kalau di tahun 1965-an sampai rezim Orde Baru tumbang Komunis dianggap sebagai ancaman nasional, sekarang ISIS-lah yang dianggap demikian.

Mashadi mengatakan, justru yang menjadi ancaman ideologi dan keamanan Indonesia bukan ISIS atau Wahabi. Tapi Syi'ah.

"Lihat negara-negara Arab dan Teluk. satu-satu jatuh ke tangan Syi'ah seperti kartu domino.
Mulai dari Lebanon, Suriah, Irak, Bahrain dan Yaman. Dan akan menyusul Emirat Arab, Kuwait, dan Arab Saudi," kata Mashadi.

Masih menurut dia, ideologi Syi'ah ditegakan dengan kekuatan senjata. Syi'ah membangun milisi dan pasukan para militer seperti Hisbullah, Muqtada al-Sadr, Shaab, Garda Revolusi dan Houthi. Itulah ancaman masa depan Indonesia.

Kalau begitu, konflik yang terjadi sejak zaman Perang Salib sampai soal ISIS ini murni soal politik dan perebutan kekuasaan. Tidak ada urusan dengan agama. Islam cuma sengaja ditarik-tarik ke dalam pusaran pertikaian guna mendapat dukungan atau kebencian dari berbagai pihak yang diinginkan.

Komentar