Sepatu Warior, Kurt Cobain dan ...


Betul, semua pasti bermula dari mata. Tapi perlu juga kesesuaian ketika dikenakan. 
Belasan tahun lalu, saat bangku kelas kira-kira setingkat SD masih kudu diduduki tiap hari sejak pagi sampai siang, kecuali Sabtu-Minggu, orang tua perempuan mengajak pergi ke pasar. Di sana, sebuah kios sepatu dimampiri.
"Pilih deh yang lo mao," begitu katanya. Banyak sekali pilihan. Beragam model, corak dan warna bikin bingung sebingung-bingungnya. "Cari pegangan ? Mana ada. Emak gue juga cuma nyuruh tanpa saran sedikit pun. Kalau pun ada cuma bilang jangan terlalu mahal," katanya menjawab komentar kebanyakan orang. 
Akhirnya, sepatu merk Warior dipilih jadi alas kaki kalau giliran pergi sekolah. Gara-garanya, cuma karena itu sepatu pertama yang dilihat ketika tiba di toko itu. Dia nangkring di rak ketiga sebelah kanan kios.
Di era itu, Kurt Cobain yang juga doyan pakai sepatu berjenis kelamin sama misalnya seperti merk-merk North Star, All Star atau Converse bahan jiplakan Warior, sedang tenar sekali pasca kematiannya. Dia, melepas nyawa menggunakan sebutir pelor yang ditembakkan ke kepalanya sendiri.
Bakat shoping papa-mama rupanya tak diwarisi sama sekali. Tanpa pedulikan kelir, warna biru masuk kantong kresek. Sebab memang Warior berwarna biru itu yang pertama kali dilihat.
"Besok pake dah pas pegi ke sekolahan," kata mama seperti mewajibkan.
Setelah seharian kaki dialasi Warior warna biru di hari Senin minggu pertama bulan April 1995, ada rasa tak nyaman. Kegedean, kegombrangan, pas lagi jalan rasanya begitu deh. Waktu memilih ukuran, sengaja beli yang sedikit lebih besar dengan asumsi kalau tubuh bertambah besar sepatu masih muat.
"Sepatu gue kegedean," katanya kepada teman sebangku.
Kebetulan pula, sepatu yang temannya pakai kekecilan setengah angka dan sepertinya pas kalau nemplok di kaki yang jarinya masing-masing lima. 
"Yaudah, tuker aje," kata dia menawarkan.
Memang sih, sepatu kawannya tersebut kebetulan juga berjenis kelamin dan merk sama. Cuma, lebih tua dua bulan usianya. Warnanya juga mulai jelek sedangkan kepunyaannya masih gress. Dasar nasib cuma mampu beli sepatu murah, badan belum gede Warior keburu kalah perang. Kiri-kanan pada nganga dan alasnya bolong-bolong. Yasudah, tunggu musim kenaikan kelas berikutnya. Atau Lebaran deh. 
Penyakit tak pandai memilih pakaian baik sepatu, celana, baju hingga sempak rupanya terus berlanjut. Lalu, siapa yang belanjain ? Ya mama atau saudari perempuan. Kalau pun bukan mereka, paling-paling kaos, tas, celana atau topi hajatan bersponsor besar yang dikenakan tiap hari. 
Ada sih kaos yang bukan didapat selain dari event. Tapi itu juga pemberian kawan sebagai tanda persahabatan. Heran, giliran boleh dikasih malah awet. Tapi pas beli sendiri justru engga. Kadang-kadang dikasih ke orang lain begitu saja. 
"Makanya, jangan tanya kok ga pakai jam tangan," katanya bergumam. 
Belakangan, urusan asmara juga rupanya begitu. Tak pandai memilih.
"Terlalu milih-milih kali," begitu kira-kira protes kebanyakan orang mengomentari status bujang yang menurut kebiasaan umum kudu segera diakhiri. 
Bisa juga sih kalau pendapat itu harus dipaksakan. Tapi kan katanya, kudu memilih dengan sebenar-benarnya. Repot kalau kurang benar. Mungkin, biar tak salah perlu pendalaman dan pemahaman lebih lanjut ke lawan jenisnya. Tapi, dari mana kudu dimulai ? 
"Ya dari dirinya sendiri dong, baru ke orang lain," begitu katanya. 
"Hai kaum hawa, maaf kalau pertanyaan ini akhirnya disodorkan ke hadapanmu. Apa mau kalian diperlakukan seperti Warior biru itu ?," tanyanya dalam hati. Dan, dialog imajiner pun terjadi antara dirinya sendiri kemudian mengundang aneka respon dari orang lain.




Komentar