Distro Membuat Dunianya Sendiri


Kebebasan. Itulah landasan utama para musisi underground yang merekam dan mengedarkan album musik mereka secara independent. Mereka, jelas tak mau ditodong dengan segala macam aturan dari produser dalam mewarnai karyanya.
Pasca merekam karya, para musisi underground mengandalkan penyebaran info dari mulut ke mulut. Dari teman ke teman serta menjalin kerjasama dengan toko kaset, CD dan distribution outlet (distro) tentunya.
Beberapa pemilik distro yang ditemui di kawasan Jakarta mengatakan, berdirinya distro miliknya lebih didasari pada kesenangan terhadap hal-hal berbau musik.
Fadhila Jayamahendra, pemilik distro Here to Stay misalnya. Dia bilang, alasan utama mendirikan distro sejak beberapa tahun lalu lantaran senang melihat orang-orang membeli benda berbau musik.
“Mungkin semangat gue juga. Gue pengen punya tempat bisa orang bagi-bagi info tentang musik dan segala macam dan gue bisa jual barang yang gue suka,” kata dia.
Di toko kecil miliknya yang terletak di Pasar Santa, Jakarta Selatan, segala macam berbau underground ditawarkan dari mulai CD rekaman, kaos clothingan, topi hingga kaos kaki.
Fadhila bilang, di tokonya banyak menjual CD band-band underground dari Indonesia juga luar negeri. Tapi ketika ditanya band asal mana dan siapa yang paling laris penjualan albumnya, dia bilang itu relatif.
“Yang paling laris relatif. Ada band hardcore laris ada band di luar hardcore juga laris,” kata dia.
Dulu, katanya, musisi di luar genre hardcore yang laris adalah Fraud, solois piano asal Yogyakarta, juga band metal Geram.
Fadhila, mematok harga jual CD musisi underground mulai dari Rp 25 ribu sampai Rp 50 ribu tiap kepingnya. Soal perbedaan tersebut, dia tak tahu persis.
“Balik ke band-nya kali costnya mungkin kali,” sebut dia.
Menurutnya, soal perbedaan harga tak didasari eksistensi band tersebut. Malah, ada band bagus tapi jual CD rekamannya murah.
“Ga ada hubungannya. Mau band yang udah 30 tahun. Band gua (Straight Answer) 20 tahun jual CD 30 ribu,” jelasnya.
Dia juga bilang, dulu banyak sekali distro di Jakarta. Namun kini, hanya beberapa saja yang mampu bertahan. Penurunan tersebut katanya, lantaran daya beli penggemar band-band underground yang juga turun. Belum lagi serangan dari mall-mall. Yang tadinya kaos clothingan terutama impor sulit didapat, kini banyak dipajang di pusat perbelanjaan.
“Target Here to Stay ya bertahan aja. Ngeband juga begitu,” ujar Fadhila.
Seiring perkembangan zaman, ketika internet jadi salah satu kebutuhan hidup umat manusia, Fadhila juga mengandalkan jaringan dunia maya dalam memasarkan dagangannya. Dia bilang, dulu orang berbondong-bondong datang ke tokonya untuk membeli CD atau kaos. Tapi sekarang, 60 persen pembelian berasal dari dunia maya. Kalau pun ada yang datang, biasanya bukan cuma mau belanja tapi juga nongkrong.
Sementara itu, distro Lawless di bilangan Kemang, Jakarta Selatan, menerapkan strategi tersendiri. Demi eksistensi toko marchendise serta CD band-band underground, sang pemilik menggabungkan dua hal berbeda. Musik dan motor.
Berbeda dengan Fadhilla, Arian Arifin si pemilik Lawless mengatakan kalau goal utama distronya ya angka penjualan yang bagus. Selain itu Lawless juga terbilang rajin menggelar event bertema underground dengan nama Lawless Fest.
“Pada dasarnya musik rock, metal dan turunannya. Sebab di radio, televisi, musik rock jarang masuk. Maka dibuatlah dunia sendiri,” kata Arian menjelaskan isi dari Lawless Fest tersebut di ruang kerjanya yang bersebelahan dengan distro Lawless.
Arian menjelaskan, di Lawless, ada sekitar 150 band underground yang menitipkan album rekaman untuk dijualkan kepada penikmat musik cadas. Selain itu, rekaman-rekaman keluaran Demajors Independent Music Industry (DIMI) juga banyak dijual di sini.
Sama seperti kebanyakan distro, di Lawless menawarkan barang-barang serupa seperti kaset, CD, kaos, topi, sweatter, hoodie dan lain sebagainya.
Arian bilang, meski sekarang eranya internet yang membuat tiap individu memilih cara instant termasuk belanja via online, konsumen yang datang ke toko masih juga banyak.
“Antara pembeli offline dan online seimbang. Biasanya kalau lagi hujan toko sepi tapi order tetap jalan. Produk yang dijual, T-shirt Rp 155 ribu, topi Rp 155 ribu, sweater Rp 250 ribu, hoodie, aksesoris,” sebut dia.
Tiap desain, Lawless memproduksi paling banyak 200 potong. Sedangkan kalau permintaan ternyata membludak, pasokan ditambah lagi sesuai permintaan. Bahkan, konsumen yang memesan produk bukan cuma dari pembeli lokal saja. Penggemar musik cadas dari Perancis, Amerika dan Jepang juga termasuk yang paling sering memesan merchandise.
“Ibaratnya Motorhead, musik juga motor juga,” kata Oy Oy, desainer yang juga pengelola Lawless.
Sama seperti Here to Stay, Lawless tak menjual produk musik dari band yang bernaung di bawah major label. Alasannya segmentasi.
Soal penjualan album rekaman, di Lawless jelas paling laris milik band beraliran keras. Petaka, Voice of Nova, Karnivor dan Street Walker adalah sederet band underground yang paling banyak dicari CD-nya.
Oy Oy, desainer yang juga turut mengelola Lawless menggambarkan, jika satu band merilis CD album sebanyak 1000 keping, biasanya tiap distro kebagian 20. Dan toko ini mengutip untung sebesar 25 persen dari tiap penjualan yang paling mahal Rp 60 ribu perkeping.
“Kalau berikut kemasan menarik bisa Rp 120 ribu. Bisa juga Rp 200 ribu,” katanya.
Sedangkan soal desain kaos yang ditawarkan, Lawless sering mengangkat tema-tema hangat yang sedang terjadi di masyarakat. Dan inilah tugas utama Oy Oy. Mendesainnya kemudian dituangkan dalam bentuk clothingan.
Sejak awal berdiri di tahun 2012, Lawless kata Oy Oy langsung berdiri tegak. Dengan menggabungkan konsep distro dan modifikasi sepeda motor, nama Lawless terang benderang di kalangan pecinta musik indie juga motor.
“Saat yang lain cuma jual clothingan berbasis motor atau musik, Lawless bisa gabungkan keduanya,” jelasnya.
Tapi, bukan berarti masa redup yang ditandai menurunnya angka penjualan bukan berarti tidak ada. Dagangan kurang laris biasanya di awal tahun. Sebab di akhir tahun, biasanya konsumen sudah habis-habisan hamburkan uang untuk keperluan belanja termasuk liburan.
Bisnis, baru meningkat lagi biasanya di pertengahan tahun. Terutama menjelang lebaran.
"Ngaruh banget, anak metal juga mau beli baju baru juga kan. Hahahaha," jelasnya sambil tertawa kemudian menyedot asap tembakau.


Komentar