Meski sudah 70 tahun lebih lepas dari cengkram penjajahan, Indonesia masih dalam taraf membangun. Baik manusianya, ekonominya, infrastrukturnya, dan lain sebagainya. Tapi rupanya, ada yang berupaya menina-bobokan lewat nyanyian.
“Butuh musik keras bukan yang menye'-menye' seperti kebanyakan. Jadi kita kehilangan semangat. Juga ada misi pembodohan,” begitu kata Chandra, penggaruk gitar band Death Metal Godzila.
Dia bilang, dalam langkah pembangunan yang tengah dilakukan bangsa ini, Indonesia butuh musik bertempo cepat dengan lirik membangun dan nasionalis. Memang, siapa sih orang ini sampai bisa bilang begitu ? Baiklah kita ceritakan saja.
Berangkat dari tongkrongan di Kampus ABA-ABI, di tahun 1993, tepatnya tanggal 15 Juni, terbentuklah band yang mengusung genre Death Metal bernama Godzila. Maklum, saat itu aliran seperti ini memang tengah digandrungi muda-mudi Jakarta meski publikasinya lewat jalur bawah tanah.
Pada formasi awal yang terdiri dari Novan (drum), Anton (vocal), Ozay (gitar) serta Boy BD (bass). Panggung ke panggung dijajaki guna unjuk gigi termasuk demi eksistensi. Kemudian, mereka vakum lantaran kudu kembali ke bangku kuliah.
Pada kemunculan berikut, di tahun 1995, rupanya Godzila tak sama lagi. Ada pergantian beberapa personil. Boy BD diganti Abel, Ozay digeser Boy, termasuk penambahan satu pemain gitar lagi yakni Arief. Tapi sayang, susunan ini tak bertahan lama. Anton kemudian digantikan Adi 'Bear' mantan vocalis Inveksi, Abel digeser Yopi.
Dengan komposisi pemain seperti ini, Godzila sempat merilis demo tape bertajuk Unhumanity berisi tiga lagu. Proses rekaman, dikerjakan di Bilik Studio, Bandung, Jawa Barat. Dan lagi-lagi, gara-gara perbedaan konsep dalam bermusik, orkes yang lebih memilih disebut sebagai pengusung Grind Death Metal ini kudu ikhlas ditinggal Abel kemudian digantikan Tole. Boy dan Arief juga hengkang, kemudian masuklah Rabel. Sementara Adrin mengisi posisi sebagai vocalis menggantikan Adi.
Di saat ini, Godzila kemudian meluncurkan promo tape berjudul Rage in Fear berisi tiga lagu yang proses rekamannya dikerjakan di K Studio, Jakarta. Selain itu, full album perdana juga dimuntahkan dengan tajuk Permanent Insane on Disfigure Government Mindless Ulecerate Decision. Panjang sekali judulnya. Dan kemungkinan, ini adalah yang paling panjang di ranah musik Indonesia.
Album tersebut, dirilis Extreme Soul Production Bandung. Meski berangkat dari situ undangan manggung mengalir deras, rupanya, lagi-lagi formasi tersebut tak mampu bertahan lama gara-gara kekisruhan yang terjadi di tubuh band hingga terbengkalai. Bisa dibilang, jangankan manggung. Kumpul latihan saja susah.
Pada 2003, Godzila kembali muncul di panggung underground dengan format baru. Adrin undur diri kemudian digantikan Adi, mantan tukang teriak band Roh Halus. Tapi, lagi-lagi, bongkar pasang terjadi. Rabel resign lalu posisinya sebagai penggaruk gitar digantikan Chandra.
Dengan fromat ini, Godzila kemudian bertelur Promo Cd berjudul The Truthless of Siccknes pada 2007 yang berisi empat lagu. Dua tahun kemudian, gara-gara kesibukan di luar band, Adi meminta mundur. Posisinya kosong dan diisi Lilik, sang additional vocal.
Entah karena apa, tiba-tiba saja Tole kena kecelakaan lalu lintas. Tulang kakinya patah lalu dia meminta keluar dari band. Posisinya kemudian digantikan Arie, bekas pembetot bass band Troops of Brutallity.
Pertengahan tahun 2010, Godzila memutuskan masuk dapur rekaman milik Osiris Studio di Jakarta, hingga berhasil merilis in Absentia yang berisi tiga lagu.
Bertahan Hidup
Seperti kebanyakan band underground, Godzila mempertahankan eksistensinya dengan menelurkan karya, merilis dan memasarkannya lewat titip jual di distro-distro jaringannya.
Tiap kali merilis rekaman, sebanyak 5000 keping dilempar ke pasar termasuk mencetak clothingan. Menurut Chandra, penggaruk gitar band ini, antara pendapatan dan ongkos yang sudah dikeluarkan untuk kepentingan tak sebanding.
“Ya tergantung berapa shift kita ambil studio. Makin banyak berarti makin mahal. Belum lagi cetak CD,” kata dia.
Tapi, kenapa Godzila mampu bertahan selama 23 tahun ? Chandra bilang, lantaran bermusik dengan genre Grind Death Metal sudah menjadi passion hidup Godzila. Dia bersama awak band tak pernah mau ambil pusing soal berapa yang mereka dapat dari band. Sebab masing-masing personil memang memiliki pekerjaan untuk menghidupi dirinya sendiri-sendiri.
“Yang penting kita bikin karya, lempar ke pasar, kemudian tetap menyapa fans,” sebut dia.
Jika dilihat dari penyuka di akun facebook milik Godzila, jumlahnya mencapai 155.064 orang. Belum lagi kalau dilirik dari data penjualan marchendise band ini, lebih kurang ada 200 ribuan fans.
Meski bergerak di jalur bawah tanah, rupanya Godzila punya penggemar fanatik. Ceritanya begini. Suatu hari, masuk pesan singkat ke ponsel milik Chandra. Sms itu, berisi pemesanan kaos yang dicetak band-nya.
Tapi tak disangka, pemesan berasal dari daerah terpencil di Jambi, Sumatera.
Semua perusahaan jasa pengiriman barang yang dititipkan untuk mengantar pesanan tersebut menolak. Ini, gara-gara pemesan bermukim di daerah yang benar-benar terpencil. Dari diskusi yang dilakukan, akhirnya disepakati kalau pesanan dikirim ke Balai Desa daerah setempat.
“Gila, masih empat jam lagi dari Balai Desa ke rumah dia. Tapi kami senang ada fans yang benar-benar fanatik. Dari situ, akhirnya kita jadi teman,” tutur Chandra.
Soal pembajakan, Chandra bersama band rupanya punya sikap berbeda ketimbang band-band underground lain. Dia menolak segala bentuk pembajakan. Sebab katanya, kalau masih mau melihat Godzila eksis, ya belilah CD original. Soalnya, hasil dari penjualan juga untuk mengongkosi biaya pembuatan album berikutnya.
Cerita Yang Tak Pernah Diungkap.
Di kalangan penyuka musik cadas nasional, nama Godzila bisa dibilang sudah familiar. Siapa tak kenal pemilik lagu Degradasi Moral yang tiap kali mentas sebelum membawakan lagu tersebut, sang vocalis lebih dulu berpidato kemudian mengajak audiens beri hormat atas jasa para pahlawan.
"Untuk menghormati jasa para pahlawan, mari kita nyanyikan lagu kebangsaan,” kira-kira begitu isi ajakan sang front man. Setelah itu, Degradasi Moral pun diteriakkan.
Lantaran seruan seperti itu sering sekali dilontarkan di panggung-panggung underground, akhirnya seperti jadi penanda. “Itu pasti Godzila yang sedang manggung,” begitu kira-kira komentar penikmat musik cadas bawah tanah.
Mencari informasi apa saja tentang band ini, sangat mudah. Ketik saja di google, pasti muncul segala infonya. Tapi, ada beberapa kisah menegangkan, tragis bahkan memalukan yang menimpa band ini sepanjang karirnya menapaki ranah musik bawah tanah.
Dalam satu kesempatan di tahun 2015, Godzila mendapat undangan mentas di panggung underground. Acara, digelar di Maluku. Dalam pesan yang diterima awak personil, diketahui pentas bakal dilakukan pada Kamis 16 Juli.
Pagi-pagi buta, awak band yang terdiri dari Novan, Chandra, Arie dan Lilik, tiba di bandar udara Pattimura. Tapi siapa sangka, kedatangan mereka justru disambut letusan Gunung Gamalama yang memuntahkan abu vulkanik setinggi 1.500 meter di atas permukaan laut.
Tanpa ada rasa was-was, panggung tetap diisi. Tapi setelah itu, ketika harus kembali ke Jakarta, perasaan takut baru muncul. Sebab di hari itu juga pasca kedatangan mereka, bandara langsung ditutup. Mereka sempat bertahan sampai akhirnya memutuskan pulang di hari ke lima.
Gara-gara Gamalama mengamuk, penerbangan dari dan menuju Maluku nihil. Bandara terdekat adalah Manado. Guna menuju ke sana pun harus naik kapal ferry kecil dulu menuju Bitung dengan jarak tempuh 12 jam.
Ombak luar biasa sebagai pengaruh amukan Gamalama membuat semua personil Godzila ciut nyali.
"Udah ga ada pilihan setelah lima hari di sana. Dari Maluku ke Maluku Utara, ke Bitung, ke Manado,
Makassar, Jakarta. Banyak belajar dari situ, lihat-lihat benteng zaman dulu,” begitu kata Chandra menuturkan pengalamannya bersama band saat ditemui di Desa Seni, Taman Mini Indonesia Indah.
Keramahan masyarakat Maluku, kata dia, luar biasa. Sebagai bukti, kenang-kenangan berupa gelang besi dan beberapa bongkahan Batu Bacan diberikan oleh warga setempat. Tapi sayang, membawanya sampai ke Jakarta tidaklah mudah.
"Jadi konyol, kaya bawa narkoba. Ini serius dengan peraturan ga jelas gue sampe berdebat. Dua kali berdebat. Di Makassar juga begitu. Kalau ini ga boleh, kenapa bisa sampe ke Makassar? Akhirnya boleh.
Kan peraturannya belom jelas," tutur dia.
Pentas di Pekan Baru lain lagi. Harusnya, Godzila jadi pengisi acara terakhir. Tapi lantaran tiket pesawat salah booking, band kudu main diurutan kedua karena sorenya sudah harus berada di Bandara untuk kemudian kembali ke Jakarta.
Di Pekalongan, Jawa Tengah juga hampir begitu. Godzila sebagai bintang tamu seharusnya main terakhir. Tapi gara-gara penonton membludak, acara dibubarkan aparat Kepolisian. Alhasil, band ini kudu tampil kedua setelah band pertama.
Selanjutnya pementasan di Kota Tua, Jakarta Barat. Acara pementasan musisi underground berubah jadi ajang kerusuhan. Dan ini bisa dibilang panggung Godzila yang paling buruk, tapi bukan dari segi penampilannya.
Manggung di Lamongan, Jawa Timur, bisa dibilang tak sial-sial amat. Setelah membeli tiket kereta api pergi-pulang, pasca mentas, rupanya kereta tak berhenti di stasiun tersebut. Setelah adu argumen dengan kepala stasiun, maka disepakatilah Godzila kembali pulang melalui stasiun Surabaya.
“Ditungguin. Keretanya telat gara-gara nungguin kita. Hahahaha,” tawa Chandra mengisahkan.
Di Tuban, Jawa Timur, mungkin termasuk pementasan paling tragis. Sebab belum apa-apa, ketika tiba di Kabupaten tersebut dan dijemput panitia menggunakan dua unit mobil, tapi rombongan di belakang tak sampai-sampai. Rupanya, mobil nyemplung di sawah dan beberapa penumpangnya tewas. Beruntung, semua awak Godzila tak ada di kendaraan itu.
Saat ulang tahun Godzila ke 20, band ini menggelar perhelatan di Grand Charlie, Jakarta. Undangan disebar via Facebook hanya untuk 400 orang saja. Tapi siapa sangka yang datang malah sampai seribu orang lebih. Lantaran gedung tak mampu menampung jumlah orang yang datang, acara akhirnya dibubarkan karena pemilik tempat takut bangunan miliknya roboh.
Terakhir, Chandra bilang, pernah satu ketika digelar perhelatan underground di Jawa Timur. Panitia melayangkan undangan dan kemudian diiyakan. Berangkatlah band ke kota yang enggan disebutkan namanya itu.
Pasca mengisi acara, panitia cuek. Honor dan tiket pulang tak diberikan sama sekali. Awak Godzila pun jengkel. Panitia dipaksa memberikan hak band.
“Mereka belaga gila. Akhirnya kita paksa mereka dan mereka patungan jual hape. Tapi cuma tiket aja yang
dikasih, honor engga,” kata Chandra.
Dari pengalaman tersebut, Godzila kemudian menerapkan manajemen sedikit serius. Undangan manggung tak bakal ditolak. Tapi sebelumnya, pembayaran honor kudu diselesaikan dulu minimal 75 persen. Sedangkan soal tiket angkutan, harus pergi-pulang di tangan awak band sebelum keberangkatan ke panggung tujuan.
Komentar
Posting Komentar