Giliran musisi dari label besar teriak marah-marah lantaran lagu-lagunya dibajak, musisi indie yang mendistribusikan rekamannya lewat jalur underground malah biasa saja.
“Kalo lo keren ya pasti dibajak. Kalo engga ya engga. Hahaha,” kata Oy Oy, pengelola sekaligus desainer di Distro Lawless, di kawasan Kemang, Jakarta Selatan.
Pendapat Oy Oy yang juga musisi bisa jadi benar. Sebab sejak puluhan tahun lalu, para musikus indie yang menggunakan jalur bawah tanah tak pernah peduli orang mau mendengar atau tidak karya-karya mereka.
“Pokoknya bikin,” begitu ungkap musisi Reggae Tony Q Rastafara di kawasan Bulungan, Jakarta Selatan.
Masih seirama dengan Oy Oy dan Tony Q, Fadhila Jayamahendra, pemilik distro Here to Stay sekaligus vokalis band Hardcore Straight Answer mengatakan, soal pembajakan tidak masalah. Tapi beli CD original justru lebih keren.
“Gue juga nonton film di rumah, DVD bajakan. Pake komputer juga software-nya gue beli bukan yang asli. Jadi buat gue download aja. Jangan tanya ke gue linknya, lo cari sendiri. Kalo mau download ya lo usaha. Kalo mau beli aslinya ya dateng atau tanya ke gue,” begitu kata dia saat ditemui di distronya di Pasar Santa, Jakarta Selatan.
Antara sebutan underground dan indie, sebenarnya saling mendukung. Dua-duanya berasal dari bahasa Inggris. Underground berarti bawah tanah, indie merupakan perasan dari kata independent yang maknanya merdeka. Para musisi di jalur ini punya kemerdekaan yang sebebas-bebasnya dalam menelurkan karya. Tidak diatur siapapun, dan tak berada di bawah todongan intervensi produser manapun.
Mereka, mengatur diri sendiri dan memproduseri rekaman sendiri. Lalu, didistribusikan melalui penyebaran info mulut ke mulut atau via internet tanpa melibatkan media massa mainstream seperti televisi atau radio. Jadi, bisa dibilang underground ini menyebar ke khalayak luas tapi tak muncul ke permukaan.
Underground merupakan istilah yang dipakai dalam beberapa bidang seperti musik, film, komik dan lain sebagainya. Rujukannya, idealisme dari pelaku seni tanpa melihat banyak atau tidaknya permintaan konsumen.
Dalam hal musik, underground punya bermacam jenis genre yang biasanya mengembangkan cabang kebudayaan tanpa nilai-nilai komersil. Tapi biasanya, orang lebih mengidentikkan underground dengan band-band metal. Istilah ini sendiri, pertama kali disodorkan Aktuil, majalah musik dan gaya hidup asal Bandung, Jawa Barat, pada dekade 1970-an guna mengidentifikasi band dengan musik cadas yang bergaya jauh lebih liar dan ekstreem di eranya.
Cikal-bakal kelahiran musik rock underground di Indonesia juga sangat sulit dilepaskan dari metamorfosa musikus rock era 1970-an. Sebut saja God Bless, Gang Pegangsaan, Gypsy, Giant Step, Super Kid, Terncem, AKA/SAS, Bentoel hingga Rawe Rontek dari Banten.
Saat itu, di era 1970-an, band underground tanah air banyak menyodorkan lagu milik musisi barat macam Deep Purple, Jefferson Airplane, Black Sabbath, Genesis, Led Zeppelin, Kansas, Rolling Stones hingga ELP.
Di akhir tahun 1980-an, anak-anak muda di seluruh dunia kena demam musik thrash metal yang merupakan perkembangan gaya musik lebih ekstreem lagi ketimbang heavy metal. Beberapa band yang menjadi dewa yakni, Slayer, Metallica, Exodus, Megadeth, Kreator, Sodom, Anthrax hingga Sepultura. Di Indonesia, akhirnya, scene underground pertama kali lahir dari genre musik ekstreem band-band tadi.
Di Jakarta yang menjadi barometer apa saja di republik ini, komunitas metal pertama kali muncul tahun 1988. Saat itu, meski Aktuil sudah menyodorkan istilah underground, tetap saja sebutan ini belum populer.
Pada paruh pertama tahun 1990-an, scene underground di Indonesia mulai terbentuk. Di Jakarta, konsolidasi scene metal berpusat di kawasan Blok M di awal 1995. Aktifitasnya, bertukar informasi soal band lokal dan internasional, barter CD, jualan kaos sampai perencanaan konser.
Di era ini, tipe musik metal yang digandrungi adalah Death Metal, Brutal Metal, Grindcore, Black Metal, hingga Gothic Metal.
Beberapa band lokal yang menjadi corong suara anak-anak metal adalah, Grausig, Trauma, Aaarghhh, Tengkorak, Delirium Tremens, Corporation of Bleeding, Adaptor, Betrayer, Sadistis, serta Godzilla.
Tengkorak menjadi band metal terkece saat itu. Sebab di tahun 1996, mereka tercatat sebagai band yang paling pertama merilis album indie berjudul `It’s A Proud To Vomit Him’. Album tersebut, direkam secara profesional di Studio Triple M, Jakarta.
Bertahan Sampai Kini
Pada September 1996, menjadi era baru bagi kelangsungan rock underground Jakarta. Di tanggal 29 bulan itu, acara musik indie untuk pertama kalinya digelar di Poster Cafe milik rocker gaek Ahmad Albar dengan nama Underground Session.
Dari situ, banyak lahir band indie yang memainkan genre musik bervariatif. Getah, Brain The Machine, Stepforward, Dead Pits, Bloody Gore, Straight Answer, Frontside, RU Sucks, Fudge, Jun Fan Gung Foo, Be Quiet, Bandempo, Kindergarten, RGB, Burning Inside, Sixtols, Looserz, HIV, Planet Bumi, Rumahsakit, Fable, Jepit Rambut, Naif, Toilet Sounds, Agus Sasongko & FSOP, merupakan sederet nama yang sering pentas di sana.
Kemudian, pada 10 Maret 1999, scene Poster Cafe mati. Di hari itu, pentas underground bertajuk Subnormal Revolution digelar sebagai penutup eksistensi cafe tersebut yang berujung pada kerusuhan antar massa Punk dengan warga sekitar.
Di luar dugaan, bubarnya Poster justru melahirkan panggung-panggung alternatif seperti Cafe Kupu-Kupu di Bulungan, Jakarta Selatan, Pondok Indah Waterpark, GM 2000 Café dan Café Gueni di Cikini untuk scene Brit pop, Parkit De Javu Club di Menteng, untuk gigs Punk dan Hardcore dan juga indie pop.
Belakangan, BB’s Bar di Menteng, Jakarta Pusat, juga menjadi panggung bagi band seperti The Upstairs, Seringai, The Brandals, C’mon Lennon, Killed By Butterfly, Sajama Cut, serta Devotion.
Beberapa band lawas pengusung genre metal, hingga saat ini masih bertahan. Sebut saja God Bless sebagai yang paling senior. Band ini resmi lahir pada 5 Mei 1973. Dan di era itu pula, disebut-sebut sebagai masa jaya orkes rock besutan Ahmad Albar dan Ian Antono ini. Dan, semua orang tahu eksistensi band ini sejak dulu sampai sekarang.
Ada juga Tengkorak, pengusung aliran Grindcore yang berdiri di Jakarta pada 1993. Dari catatan yang ada, di awal tahun 1997, pasca merekam album It’s A Proud To Vomit Him, mereka merambah pasar dengan mengirimkan produk karya ke pedagang kaset, distro, band, majalah, label, serta pihak-pihak yang terlibat dalam scene undergrounnd. Bukan cuma di dalam negeri, mancanegara juga disentuh.
Dari situ, Tengkorak membuktikan eksistensi band metal asal Indonesia hingga menembus kuping pendengar di Amerika Serikat, Malaysia, Jepang, Perancis, Republik Ceko, Rusia, Latvia, Spanyol, Polandia, Belaruss, Kanada, Singapura, India, Thailand, Belanda, Meksiko, Italia juga negara tetangga Brunei Darussalam.
Bisa dibilang, meski mengandalkan jaringan bawah tanah, album Tengkorak laris-manis. Dari situ, perusahaan rekaman asal Jepang, Blood Bath Records melirik kemudian menjalin kerjasama dengan merilis mini album Dying Poor yang berisi tujuh lagu.
Pada 2008, Tengkorak sempat memutuskan membubarkan diri. Tapi kemudian eksis lagi dengan nama sama. Ombat Nasution, sang pentolan bilang, band ini sudah mengalami perubahan 180 derajat. Kalau selama ini metal identik dengan alkohol, seks bebas, narkotika dan lain sebagainya, kini dalam penampilannya mereka kerap mengangkat topik seputar anti Zionisme.
Ombat yang kini juga berprofesi sebagai Pengacara sekaligus pengusaha bilang, pihaknya menggagas tren baru yakni mengganti salam metal dengan salam satu jari. Artinya, telunjuk yang diacungkan ke langit diterjemahkan sebagai salam tauhid, percaya pada satu Tuhan.
Ada juga band Hardcore Straight Answer (SA) yang didirikan tahun 1996 dan masih bertahan hingga kini. Fadhila Jayamahendra sang vokalis mengatakan, meski antara ongkos rekaman, cetak CD hingga pendistribusian ke semua jaringan tak sebanding dengan honor manggung, ini bukan urusan berapa yang didapat.
“Kalau dibilang sebanding ga pernah ada kata cukup. Berapa pun hasilnya kurang terus,” kata dia.
Tiap kali merilis album rekaman, band ini mencetak dua ribu copy CD yang disebar ke Jawa, Sulawesi, Kalimantan termasuk Bali.
Dalam sebulan, SA bisa empat sampai lima kali naik panggung. Hampir semua pentas hajatan underground di seluruh Indonesia sudah dijajal kecuali Nusa Tenggara Barat, Bali, Papua dan Ambon. Sedangkan panggung di luar negeri, beberapa diantaranya juga pernah ditapaki.
“Luar negeri Malaysia 4 kali, Singapura 4 kali, Thailand, Jepang,” kata dia.
Bertahannya SA hingga kini, jelas bukan lantaran berapa banyak materi yang didapat. Buktinya, saat berkujung ke distro milik Fadhila, dia sedang ngedumel sebab baru saja terima duit dari penjualan marchendise sudah kudu berpindah tangan ke petugas listrik yang membawakan bon tagihan.
“Duit kaya air ya, numpang lewat doang,” dia ngedumel.
Bagi Fadhila, bermusik lebih pada persoalan pemuasan batin. Makanya, soal pendapatan dari eksistensi SA dia tak pernah mau ambil pusing. Bahkan dalam waktu dekat, band tersebut bakal segera merilis album terbaru di Jepang.
“Harusnya tahun ini, tapi rekamannya belum selesai,” ujarnya.
Underground Bukan Cuma Rock
Memang, banyak yang beranggapan kalau band underground cuma menyodorkan musik-musik menghentak dengan distorsi keras. Tapi jangan salah. Apapun genrenya, selama tak menyentuh alat promosi mainstream seperti televisi dan radio, juga tanpa intervensi pemilik modal (baca produser) dia masuk ke dalam kategori bawah tanah.
Tony Q Rastafara yang sudah lama malang-melintang menggaruk gitar dengan irama Reggae sejak tahun 1989 bilang, dirinya termasuk musisi underground. Sebab bukan apa-apa. Meski pernah masuk major label di pertengahan tahun 1990-an, dia kemudian banting setir dengan memilih merilis album rekamannya secara independent.
“Ya pergerakan bawah tanah. Yang bergerak di bawah tanah berarti non major label. Ya semua musik yang bergerak di bawah tanah ya underground,” kata dia.
Pada 1995, Tony memang pernah teken kontrak dengan salah satu perusahaan rekaman besar di Jakarta. Namun ketika kerusuhan Mei 1998 pecah, perjanjian kerjasama tiga albumnya berakhir.
Tony khawatir, kalau tetap menunggu kerjasama berikutnya, lagu-lagu yang sudah dibuat malah tak terurus bahkan urung disuguhkan ke penggemarnya. Makanya, dia memutuskan tak lagi mencari major label untuk memayunginya yang pada saat itu kudu menunggu tiga tahun untuk merilis albumnya ke pasar.
“Pergerakan paling cepet ya saya bikin sendiri,” kata dia.
Soal memasarkan karyanya, dia bersama tim manajemen yang dibentuk melakukan aksi door to door. Dari teman ke teman tanpa mematok harga sepeserpun untuk tiap keping CD rekamannya.
Fadhila, vokalis band Straight Answer sepakat dengan pendapat Tony. Dia bilang, di ranah underground warna musik bebas-bebas saja.
“Good band is a good band,” begitu pendapat dia.
Komentar
Posting Komentar