Pura-pura Bisa Disembuhkan


Nama Adriani Galry Adoniram Tobondo sebagai sosiolog, memang tak setenar selebritis tanah air yang sering mengumbar kemewahan di layar kaca. Namun, dia punya pandangan tersendiri soal glamournya kebanyakan artis.
Sebenarnya, menemui Adriani tidak sulit. Tapi ketika diminta pandanganya perihal keglamouran para selebritis, dia sedang sibuk menguji mahasiswanya di Universitas Kristen Tentena, Jl. Torulemba No. 21 Tentena 94663, Poso-Sulawesi Tengah, Indonesia.

“Maaf mas, saya masih nguji. Inti pertanyaan saya jawab dan kirim via email,” begitu respon dia ketika ditagih soal janji wawancara di kantor layanan jasa individu konsultasi sosial miliknya.

“Kantor saya di Jalan Teuku Umar dekat rumah Ibu Megawati,” begitu kata dia ketika pertama kali dihubungi melalui pesan singkat.
    1. Melihat glamournya hidup selebritis yang sering dipamerkan di televisi, apa pendapat anda?
Tidak heran apabila artis seringkali menjadi perhatian publik, karena artis sendiri ialah tokoh publik. Jadi mata publik termasuk media, sering menyoroti gaya hidup mereka mulai barang-barang yang dimiliki sampai kehidupan personal artis sendiri termasuk itu gaya hidup glamour artis.

Media menampilkan gaya hidup para artis, gambar yang di-take lensa kamera pasti didasarkan pada objek yang ditangkap lensa. Artinya ketika artis berada pada sudut kemewahan, maka sudah pasti nuansanya ialah glamour dan ketika artis berada pada sudut yang simple, maka gambar yang dihasilkan itu ialah kesederhanaan.

Media berperan besar dalam membangun citra artis ke publik. Publisitas sangat diincar oleh artis, karena itu media juga dipandang sebagai core business bagi artis membangun citranya. Atas dasar itu, artis memperoleh banyak tawaran dan ketika memperoleh gawean baru, artis dapat melangsungkan kehidupannya. Proses ini tidak jauh berbeda dari proses yang ditempuh individu yang bukan artis. Hanya letak perbedaannya individu diluar artis tidak butuh lensa kamera dan artis butuh lensa kamera.

  1. Apakah ini tidak melahirkan masalah seperti kecemburuan sosial misalnya ?
Dalam skala itu, saya tidak mempermasalahkan gaya hidup artis karena mereka sebagai artis memang itu jalan yang harus dilakukannya, tapi sebenarnya banyak jalan lain tanpa harus menunjukkan kemewahan.

Masyarakat harus menyadari dan paham benar apa kapasitas artis, dan tidak perlu meniru gaya hidup artis yang glamour. Setiap manusia kan memiliki plot cerita sendiri, jadi ya itu dijalani sesuai kapasitas dan peran masing-masing.

    3. Dampaknya ke pemirsa dengan kemewahan yang dipamerkan seperti apa?
Ya mau dibilang bagaimana? Begini, kalau seandainya masyarakat memahami bahwa artis itu dunianya sudah begitu, saya pikir tidak ada pengaruhnya. Artis juga tidak semua hidup menonjolkan kemewahan. Masih ada yang hidup biasa saja. Kita jangan sesat berpikir bahwa hanya artis yang berpengaruh besar dalam kehidupan sosial masyarakat bahkan itu kehidupan masyarakat global. Itu salah besar, sebaliknya perilaku kemewahan yang ditonjolkan artis adalah hasil dari pengaruh lingkungan sekitar artis, termasuk itu advertising environment.

Artinya, market yang membentuk artis. Sisi lain, artis bagi saya adalah produk sosial. Atas dasar itu, dampaknya hanya kepada trend. Bahwa artis sebagai produk sosial yang turut andil membangun trend.

  1. Bisa anda contohkan artis sebagai produk sosial juga punya andil membangun trend ?
Contoh, ketika seorang artis mengenakan celana jeans merek Levis dengan balutan (background) yang elegan atau eksotis, maka seseorang yang bukan artis melihat bahwa jeans Levis itu dapat membantu setidaknya sama elegan atau eksotis dengan artis yang memakai celana jeans Levis. Harapannya dengan menggunakan Levis, orang sekitar memperhatikan dirinya.

Nah sekarang issu menarik ialah aspek apa yang berpengaruh besar dalam pembentukan branding dan trend setter sebenarnya? Apakah melalui penampilan artis yang mewah akan turut aktif berpengaruh terhadap munculnya kemewahan diluar lingkungan artis? Tidak juga begitu.

Kalau seperti itu, maka pokok persoalannya ialah siapa yang membentuk karakter kemewahan artis? Kan itu advertising environment.

Sehubungan advertising environment bahwa artis dapat diposisikan sebagai publisher dan perusahaan dari suatu produk adalah advertisernya. Advertising environment besar pengaruhnya bagi artis dan tokoh publik lainnya atau masyarakat secara umum.

    5. Apa sih resikonya hidup dengan cara seperti ini apalagi itu ternyata cuma pura-pura mewah ?

Kalau itu, saya pikir lebih bersifat personal. Itu hak personal seseorang. Selebriti seperti itu pasti didukung finansial (pendapatan) yang besar. Ya silahkan saja, itu kehidupan mereka. Dan kalau resikonya, ya sudah pasti resiko personal juga kan. Artinya resiko ditanggung sendiri.

Hanya saja saran saya, lebih berhemat dan tidak salah kalau kita mempraktekkan hidup apa adanya serta lebih banyak berinvestasi pada sosialita sekitar. Itu merupakan modal besar yang dapat memperkuat posisi artis. Sekali lagi saya tekankan, bahwa advertising environment besar pengaruhnya dalam kehidupan manusia. Jadi sebenarnya bukan penyebabnya pada gaya hidup artis. Melainkan gaya hidup artis seperti itu adalah bukti konkret dari pengaruh advertising environment yang sangat besar. Contoh lain, Facebook dan Youtube.

    6. Menurut pandangan amda, apa sudah tepat profesi artis menuntut agar selebritis selalu tampil mewah meski cuma pura-pura ?
Hehehehe, kalau saya tidak masalah. Kan lakon itu pasti berbayar. Kalau sponsornya dari Sony dan mengharuskan kontrak kerja artis untuk makan di restoran mewah sambil ngotak-ngatik gadget smart phone Sony atau lari-lari pagi di kompleks perumahan mewah dan bahkan pura-pura kosentrasi di perpustakaan sambil pegang gadget smart phone Sony, bahwa seluruh pekerjaan itu harus dilakukan, selama kontrak kerja, serta artis memperoleh kompensasi pembayaran atas lakon yang dijalani, ya silahkan saja.

Saya percaya Saudara ingat persis seorang menato tubuhnya dengan merk tertentu hanya karena tuntutan advertising environment. Nah, itu kasus yang serupa.

Kalau tanpa sponsor, hahahahahahaa., kalau saya artis, saya mikir 1000 kali untuk hidup mewah. Eman-eman duitnya dipakai hanya seperti itu. Selain capek, kita bisa bangkrut.

    7. Saya pernah mendengar soal Mythomania. Apakah orang yang hidup dengan kepura-puraan termasuk yang menderita Mythomania?

Mythomania itu istilah psikologis, ini tugas psikolog. Saya Sosiolog, jadi saya menganggap tidak semua masalah manusia itu masalah psikologis, masalah-masalah terbesar dalam kehidupan manusia sesungguhnya bukan masalah ekonomi tapi masalah sosial. Karena itu saya menganggap bahwa tidak semua itu dapat dilabelkan Mythomania jika dikaitkan dengan kehidupan artis.

Saya tekankan lagi bahwa lakon yang dilakukan artis, kemudian dilabelkan pura-pura mewah bukan sepenuhnya kondisi psikologis. Nah kalau itu kasusnya, pengaruh dan tuntutan advertising environment yang mengharuskan artis seperti itu, apakah bisa dikatakan keadaan Mythomania?

Itu kontrak kerja dalam gambaran perilaku bisnis, dan bukan keadaan psikologis. Jadi ini bukan semata-mata keadaan psikologis.

Jika ada artis yang memang kurang beruntung memperoleh order atau diminati oleh advertising environment dan atau karena suka hidup berfoya-foya kemudian mengakibatkan dia jatuh miskin. Karena kemiskinannya lalu berpengaruh terhadap interaksi dengan sesama artis dan itu membuat dia kurang nyaman sehingga terpaksa harus berpura-pura mewah atau pura-pura mapan, serta perilaku itu dilakukan dengan terpaksa meminjam uang dibank hanya untuk mematangkan perilaku pura-pura, sebab uang hasil pinjaman dibank akan digunakan untuk membeli kendaraan atau perhiasan mewah kemudian digunakan dan dilihat rekan artisnya, itu juga tidak dapat dikatakan seluruh hal tersebut kondisi psikologis artis.

Kita keliru. Kondisi psikologisnya adalah artis menjadi kurang nyaman atau minder. Sementara usaha-usahanya untuk menyakinkan sesama artis atau masyarakat umum, ialah perilaku sosial artis. Artinya itu yang dapat dilihat dan dimengerti secara fisik.

    8. Apakah Mythomania bisa disembuhkan? Bagaimana caranya?

Bisa., tidak ada yang tidak bisa disembuhkan. Saya ingat bahwa saya pernah mengembalikan keadaan psikologis seseorang menjadi normal lagi. Waktu itu, saya berhasil membawa kehidupan normal dari sepasang Lesbian. Kini mereka hidup normal, mereka sudah menikah dan memiliki anak serta pekerjaan yang baik dan pendapatan yang menjamin.

Untuk kasus Mythomania, mereka hanya memerlukan individu yang benar-benar dapat membangun kepercayaan diri. Mereka seperti itu karena minder saja, kemudian memilih berbohong agar merasa nyaman. Nah memilih berbohong itu kondisi psikologis. Ketika menerapkannya agar merasa nyaman atau memperoleh pengakuan dari orang lain, itu perilaku sosial.

Tapi tidak semua berbohong itu aksennya negatif atau jelek. Kadang kita harus berbohong demi kebaikan dan untuk mengajarkan orang lain atau mengajak orang lain berpikir bahwa mereka mampu. Dari kebohongan itu, orang lain dapat menjadi yang terbaik di kemudian hari.

    9. Bagi artis yang terlanjur menyepakati hidup pura-pura glamour, apa yang harus dilakukan?

Ya, selama itu kontrak bisnis, tidak masalah. Atau dalam hal ini bagian dari pengaruh advertising environment, saya pikir tidak masalah. Kan yang bayar pihak perusahaan. Jadi aman untuk artis atau dalam hal ini tidak mengganggu kantong si artis. Lain soal kalau bukan pengaruh advertising environment. Tapi ya itu sifatnya personal, saya tidak dapat memaksakan artis.

Kalau artis memilih jalan hidup seperti yang Saudara sampaikan, Mythomania, saya sarankan jangan berperilaku seperti itu, karena pasti rugi sendiri. Jujur itu bukan hanya modal spiritual semata (modal untuk masuk surga), tapi ada dimensi modal ekonomi dan modal sosialnya. Artinya, kejujuran dapat mendatangkan rejeki dalam pengertian finansial.

    10. Menurut pandangan anda, meski selebritis, bagaimana seharusnya mereka hidup ?

Saya tidak dapat memaksakan mana yang harus dilakukan Selebriti, itu hak personal dan bagian dari gambaran demokrasi konkret. Kalau sebatas masukan dan saran, saya bisa dan wajar.

Sebagai Sosiolog, pastinya saran saya ialah tidak rugi kita mempraktekkan hidup sederhana dan apa adanya saja. Jujur itu bukan hanya berimplikasi (kompensasi) secara teologis, tapi berimplikasi secara ekonomi, artinya menguntungkan secara ekonomi.

Artis butuh gawean. Untuk memperoleh gawean yang besar maka harus diperhatikan performance dan design perilakunya. Ketika berhasil, maka sudah pasti advertising environment akan memilih artis tersebut kemudian menjamin keberlangsungan artis karena ada pendapatan yang sangat besar atau menjanjikan. Ini juga berlaku untuk semua orang diluar artis.

Kalau pun sudah kaya, kita gunakan kekayaan itu pada hal-hal yang positif. Trend sosial berpengaruh terhadap core bisnis. Bahwa trend sosial sekarang ini kekayaan lebih banyak dialokasikan kepada investasi sosial, ya kita sebut saja pencitraan dan sebagainya. Semakin banyak melakukan investasi sosial maka semakin tinggi keuntungan yang akan diperoleh baik keuntungan politis dan sebagainya.

Nah, kalau seandainya artis membutuhkan designer behavior, maka saya siap secara profesional mendesign perilaku artis sehingga advertising environment tertarik terhadap artis tersebut.


Komentar