Percaya atau tidak, Pemilu Kepala Daerah yang baru saja berlangsung justru membawa berkah tersendiri. Makanya, keinginan masyarakat agar pesta yang sempat jadi perang demokrasi tersebut, digelar dua putaran khusus untuk wilayah DKI Jakarta.
Agus-Silvy kandas, Ahok dan Anies kudu beradu muka di putaran kedua yang Insha Allah bakal dilangsungkan pertengahan April nanti.
Kuda-kuda sudah dipasang. Pengusung Agus tak mungkin bakal diam saja meski jagoannya keok. Megawati pun sudah membuka pintu bagi supporter yang kalah untuk merapat ke Lenteng Agung.
Belum ada riak bakal kemana. Tapi yang pasti, pertarungan bakal lebih panas ketimbang kemarin.
Di media sosial, beredar kabar berupa postingan terkait ongkos politik berebut kursi Gubernur Jakarta yang dinukil dari media mainstream.
Seperti dilansir Tribunnews, pada 12 Februari lalu. KPU DKI Jakarta mengumumkan bahwa pasangan nomor satu punya modal Rp 68.967.750.000. Pengeluaran Rp 68.953.462.051, sehingga sisanya Rp 1.984.949.
Sementara itu, dana kampanye Anies-Sandi Rp 65.272.954.163. Ahok-Djarot, pengeluarannya Rp 53.696.961.113 dari Rp 60.190.360.025 pemasukan.
Buat apa saja duit sebanyak itu?
Buat apalagi kalau bukan untuk bayar iklan, cetak kaos, brosur, poster, bendera, spanduk, sewa tempat, gaji relawan dan lain sebagainya. Inilah yang dimaksud berkah dari Pemilu Kada yang diselenggarakan serentak di seluruh Indonesia.
Apakah Badan Pusat Statistik punya data berapa banyak tukang sablon di seluruh Indonesia? Kalau ada, coba angka itu dikalikan hasil dari penjumlahan berikut ini.
Kalau tiap kaos, spanduk atau banner ongkos sablonnya Rp 15 ribu, sedangkan tiap tukang sablon mendapat order cetak 100 kaos, 75 spanduk dan 150 banner, berapakah duit yang berputar untuk urusan sablon saja?
Relawan, kalau dulu sebutan ini cuma untuk individu yang secara sukarela turun ke medan bencana, tanpa gaji, paling-paling cuma dapat tempat istirahat, makan dan minum saja.
Seiring perkembangan, sebutan itu geser tempat. Partai politik mulai menggunakannya agar ada kesan mendapat dukungan ikhlas dari tenaga sukarela.
Kemarin, jauh hari sebelum pencoblosan juga ada relawan Agus-Silvy, relawan Ahok-Djarot, juga relawan Anies-Sandi.
Nomor satu, punya relawan yang mendapat gaji sebesar Rp 2,5 juta perbulan untuk tugas pasang kuping, mata, sekaligus pasang-pasang spanduk. Beberapa di antaranya, dilepas ke tiap TPS pada hari pencoblosan untuk jadi saksi.
Nomor dua, entah berapa digaji para relawannya. Sementara dari bisik-bisik di jalanan, seorang teman yang bergabung mengatakan dapat duit jalan Rp 300 ribu tiap pertemuan. Entah itu benar atau tidak.
Nomor tiga juga begitu. Salah satu teman dekat rumah yang bergabung ke dalamnya malah juga dapat proyek menggarap iklan politik segala. Memang sih, dia bilang biaya yang ditarik sekedar ongkos produksi saja tanpa embel-embel ini-itu. Tapi, ga taulah kebenarannya.
Kalau tiap pasang calon punya 500 orang relawan yang kalau mau dipukul rata mendapat gaji sebesar pemberian pasangan calon nomor 1, setidaknya ada lapangan kerja terbuka untuk 1.500 penduduk Jakarta. Dan beban pemerintah, sedikit enteng selama beberapa bulan terakhir.
Sekarang, di DKI Jakarta tinggal dua pasang calon yang harus melanjutkan pertarungan. Kalau ada perubahan nomor urut, berarti alat peraga kampanye juga berubah. Ini artinya, para penyablon masih ketiban order. Ada berapa ya jumlah tukang sablon di Jakarta saja menurut data BPS?
Meski jumlah relawan menyusut sebab nomor wahid keok, mungkin masih ada peluang membonceng ke pasangan lain agar tetap bisa kais rejeki di musim ini. Silahkan.
Komentar
Posting Komentar