Gretan

Robert Boyle yang lahir di Irlandia pada 25 Januari 1627, punya hobi mencoba apa saja. Sampai akhirnya dia menemukan sesuatu yang sangat berharga dan masih dipakai sampai detik ini.

Bapaknya Boyle, ilmuwan yang cukup disegani di kalangan bangsawan Irlandia. Buah yang lahir, rupanya jatuh tak jauh dari pohonnya.

Dengan hobi coba-coba, Boyle memilih profesi sebagai ahli kimia. Uji coba ke sekian kalinya pada 1645, baru membuahkan hasil di tahun 1680 berupa korek api.

Awalnya sih cuma selembar kertas yang dilapisi fosfor. Kemudian, sebatang kayu dia beri sulfur dan digesekkan ke keduanya. Hasilnya, api menyala.

Sayang seribu sayang, temuan tersebut tak bisa diproduksi secara massal lantaran Boyle kebingungan membuat sulfur dalam jumlah besar.

Entah terinspirasi atau tidak, namun sekian ratus kemudian, tepatnya pada 1826, John Walker, ahli kimia asal Inggris yang lahir pada 29 Mei 1781, berhasil membuat korek api.

Walker sebenarnya tak sengaja menemukannya. Awalnya, dia iseng mengambil logam putih antimony sulfida yang kemudian dicampur potassium chlorate, getah pohon dan kanji.

Selain bahan-bahan tadi, ia juga menggunakan kayu dan mencampurkannya ke zat kimia tersebut.

Setelah campuran bahan kimia adukannya mengeras, Walker menggesek-gesekkannya ke benda padat lain. Api muncul dan membakar kayu.

Dia kegirangan dan segera memamerkannya di hadapan banyak orang. Setahun kemudian, tanpa mematenkan temuannya, pada 1827, korek api dijual untuk pertama kalinya di warung miliknya dengan memakai istilah friction light.

Ketemu Orang Jawa

Sebut saja namanya Slamet Junaidi, orang Jawa nekat yang datang ke Inggris tanpa keahlian apapun. Dia cuma yakin, bumi dibuat Tuhan untuk dimanfaatkan dan dijelajahi oleh manusia.

Tahun 1830, Slamet tiba di Inggris dengan menumpang kapal dagang milik VOC dengan selamat. Tak kurang apapun, cuma badannya kelihatan lebih kurus lantaran kudu beradaptasi dengan cuaca di sana.

Untungnya, dia yang asal Batu, Malang, Jawa Timur, terbiasa dengan udara dingin.

"Cuma di Inggris jauh lebih dingin mas," kata Slamet yang cuma tahu tiga kata dalam bahasa Inggris yakni, yes, no, juga great.

Di kampung halamannya, untuk mendapatkan api, masih dengan cara menggesekkan dua kayu sampai panas kemudian berasap dan menghasilkan nyala api.

Di sebuah pasar bernama Sunday Market, 100 kilometer dari London di Inggris sana, Slamet melihat banyak orang dengan mudahnya mendapatkan api. Cuma dengan menggesekkan sebatang kecil kayu ke benda keras, rokok, kompor atau lampu minyak menyala.

"Great, great, great and ..." teriak Slamet ketika pertama kali melihat nyala korek api.

Sebenarnya, dia hendak melanjutkan dengan kata "yes". Namun terpaksa berhenti lantaran kepalanya dilempar gelas kayu oleh pemuda Inggris yang mabuk.

Teriakan tersebut, rupanya didengar dan dilihat Walker yang sebenarnya kurang sreg dengan istilah friction light.

"What do you say?" tanya Walker kepada Slamet.

Slamet yang cuma tahu tiga kata, cuma yes yes saja lalu bilang great sambil menujuk korek api yang dipegang pemuda mabuk tadi.

"You said great and ?" tanya Walker.

"Yes, mmm no. Yes no. Great and yess," jawab Slamet sambil terus menunjuk korek api.

Walker terdiam sejenak.

"Oke, I dont like friction light. That a bad name," katanya tanpa tanggapan dari Slamet.

"Since now, I give a name Great And for this stuff," lanjutnya.

"Yes yes yes, gretan," tanggap Slamet sambil nyengir kuda.
 

Komentar

  1. Great and. 🤣🤣🤣
    Simple as that.
    Selamat kurang tahun btw, bener kan yah? 😁

    BalasHapus
  2. Ada lagu baru yg jd reward kurang usia gak nih?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kebetulan, ngga pernah ngerayain. Jadi kayanye ga bakal bikin heheheheh.

      Hapus

Posting Komentar