Lho, Kok ?


Jadi orang Islam yang ke-Arab-arab-an? Kalau iya, memang kenapa ? berdosa ? Engga juga ah. Kalau nyolong lalu ketangkep tapi masih ga ngaku, iya berdosa. Semua orang tahu soal itu. Apalagi hobi ngetuk pintu janda tengah malam, meski istri di rumah masih setia menunggu.
Tempo waktu, setelah pertarungan Pilkada DKI Jakarta dimenangkan kubu Rizieq Shihab dan ditandai dengan Ahok masuk bui, ramai sekali pendapat keras yang menyatakan kalau mau jadi Islam di Indonesia, jangan jadi Islam yang ke-Arab-arab-an.
Memang, tak satu pun yang sampai hati menyebut kalau anjuran itu tak dituruti bakal berdosa. Tapi provokasinya itu lho. Ga habis-habisnya tiap hari dilontarkan. Sampai almarhum Soekarno yang sudah lepas urusan dunia pun, seperti dihidupkan kembali dengan dikutip pernyataannya.
Kebetulan, saya tak punya identitas etnis yang pasti. Tapi menurut kebanyakan orang, saya termasuk orang Betawi. Lahir, besar dan tinggal di kawasan Warung Buncit yang kini berubah nama jadi Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, gara-gara pemerintah ga mau tanya dulu ke sesepuh di sana.
Entah kapan bapaknya engkong (kakek) buyut pertama kali mendarat di situ. Tapi jelasnya, saya generasi keempat yang menduduki salah satu bidang tanah di kawasan tersebut. Betul, Akamsi (anak kampung situ), kata anak muda sekarang.
Masyarakat Betawi di sekitar Warung Buncit, seperti Kuningan, Kalibata Pulo, Pasar Minggu, Kemang, Mampang, Kalibata, Poncol, Bangka dan lainnya, menaruh hormat pada keturunan Arab yang membaur di kawasan tersebut. Sebab menurut asumsi umum, dari kelompok merekalah kami tahu tentang Islam dan memeluknya sebagai nafas.
Al-Atas, Al-Habsyi, Assegaf, dan fam lainnya yang dianggap punya kasta tinggi, lantaran menurut Rabithah Alawiyah, seperti diberitakan Tirto.id (18/1/2017), memiliki hubungan keluarga dengan Nabi Muhammad. Merekalah guru ngaji masyarakat Betawi di Warung Buncit.
Dalam keseharian, para guru ngaji berlatar Arab, mengenakan ghamis dan bersorban saat menghadiri kegiatan keagamaan dan acara formal lainnya.  Di keseharian, mereka lebih banyak pakai kain sarung, kaus singlet, peci putih kadang hitam, kadang juga baju koko kepunyaan orang Cina.
Sebagai murid, dan selanjutnya ada juga yang mengambil peran sebagai guru, kami menirunya dengan ikut serta memakainya. Kadang tiap kali ke Masjid guna mendapat kepantasan, kadang di shalat besar saja seperti shalat Jum’at atau shalat Ied.
Bukan cuma sampai di situ, kami juga meniru apa yang guru ngaji santap. Makan nasi kebuli di hari istimewa seperti Aqiqah atau selametan, serta menghisap sisha. Beberapa lainnya, juga berbahasa Arab. Sebab ketika belajar di Pesantren ada kewajiban menggunakan bahasa tersebut di kehidupan sehari-hari. Belakangan dibawa pulang dan kami juga kenal kebab.
Tidak ada masalah waktu itu, sebab orang belum kenal manusia bernama Jokowi, Ahok dan Rizieq Shihab. Kalau pun ada masalah, paling di urusan elit yang berusaha membagi kuasa antara kelompok nasionalis, agamais, penjajah, komunis, sosialis, golongan berkarya, atau yang di tengah, yang berusaha cari aman terus.
Cina, Betawi dan Arab, didukung Jong Ambon, Jong Celebes, dan banyak Jong lainnya, hidup berdampingan menjadi sebuah komunitas besar. Di tempat mereka tinggal, dicetuskan Sumpah Pemuda 28 Oktober tahun 1928 dan menjadi tonggak awal cikal bakal Indonesia. Di keseharian, kami baik-baik saja waktu itu. Tidak ada masalah.
Orang-orang tua saya menyarankan begini : “Kalo mao belajar ngaji, pegi ke rumah orang Arab. Kalo mao belajar dagang, pegi ke rumah Cina. Kalo mao belajar maen pukul, pegi ke rumah bang Sedul Pukul.”
Tiga bidang inilah pegangan hidup orang Betawi yang kadang bergaya Arab atau Cina saat hari Lebaran, dengan ikut-ikutan pakai ghamis atau baju koko. Tidak ada masalah. Baik-baik saja. Bahkan Koh Halim juga masih rajin datang ke rumah kalau Lebaran dan menyalami hampir semua yang melintas di depan rumahnya usai shalat Ied. Sementara orang Betawi dan turunan Arab juga datang ke rumah orang Cina bawa ikan bandeng giliran Imlek.
Bau Arab Jadi Soal
Ketika Front Pembela Islam (FPI) mulai aktif di ranah politik meski tak jadi parpol sekalian, sejoli Jokowi-Ahok sebagai jawara DKI Jakarta terpilih periode 2012-2017, terus-terusan digoyang. Berbagai aksi demonstrasi terus di gelar di depan Balai Kota, di Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat.
Liputan6.com (2/12/2014) mengabarkan, setelah Jokowi pamit naik ke kursi Presiden RI, Ahok yang menggantikan kedudukannya, masih terus-terusan digoyang. Di mulai dari Bundaran HI kemudian bergerak ke Balai Kota, FPI menggelar aksi dengan massa berjumlah 300-an orang yang sudah sangat berniat melengserkan Ahok dari bangkunya.
“Gua mau Ahok lengser,” begitu kata Rizieq Shihab dalam orasinya seperti diberitakan Liputan6.com tadi.
Bukan itu saja, Fahrurozi, Gubernur DKI Jakarta tandingan versi Organisasi Massa pimpinan Rizieq pun ambil bagian dalam demo lumayan besar tersebut. Suwer, waktu itu saya mengira kalau itu adalah puncak pertarungan antara dua kubu tadi. Pemerintah dan Ormas punya kedudukan impas. Boleh membentuk pemerintahan sendiri-sendiri meski terus saling ganggu. Begitu pikir saya waktu itu.
Tapi ternyata salah. Gara-gara Ahok berani ucap dengan menyebut ayat suci digunakan sebagai senjata politik, dia kena batunya. Dihajar benar-benar dihajar sampai runtuh singgasananya. Kena hukum pidana, dan belakangan menyerah di jalur konstitusi dengan undur diri dari jabatan Gubernur sebelum dicopot. Menariknya, dia bahkan mencabut hak bandingnya.
Rizieq Shihab, setelah memenangi pertarungan, bukan malah menguasai arena. Dia kabur ke Arab entah ngumpet di sebelah mana, setelah pihak Kepolisian menetapkan dirinya sebagai tersangka terkait kasus pornoaksi dengan dasar pesan singkat berisi nada-nada cabul.
Mulailah segala yang bergaya ke-Arab-arab-an seperti jadi soal besar, seolah pelik dan kudu diberantas saja sekalian. Sebab kalau tidak, bisa hancur ini Negara.
Di tengah panasnya situasi politik dengan aksi yang katanya bela Islam sebagai penanda, Megawati Soekarno Putri seperti dilansir Tribunnews.com (10/1/2017) pada hari lahir PDI-Perjuangan, mengatakan bahwa kalau jadi Islam, jangan jadi Arab. Kalau jadi Hindu, jangan jadi India. Kalau jadi Kristen, jangan jadi Yahudi.
Mungkin niat Bu Mega mengutip pernyataan bapaknya baik. Tapi apa daya pernyataan itu justru memperkeruh suasana. Bara yang sebenarnya sudah panas dan bertebaran di mana-mana, jadi jauh lebih panas dan banyak lagi.
Orang-orang berbaju ghamis, berpeci putih dan berkain sorban makin sering kena sorot ucapan nyinyir. Picingnya mata saat memandang laki-laki berjenggot dan bercelana cingkrang, justru makin gencar di Negara berpenduduk mayoritas Muslim seolah mengiyakan propaganda Amerika Serikat soal ciri-ciri teroris.
Di kubu lain, bukan diam saja. Perlawanan dilontarkan dengan terus membeberkan dosa-dosa Ahok juga Jokowi termasuk jejaringnya. Tak lupa nama Amerika Serikat juga Tiongkok dibawa-bawa.
Mereka saling hantam sana, sikut sini, pukul muka, hajar tengkuk, serta jegal kaki, terus dilakukan dengan perantaraan mesin politik berupa media sosial.
Jagoan-jagoan dunia maya direkrut kemudian diberi label Teman, Tentara Cyber atau apalah itu. Tujuannya apalagi kalau bukan mempengaruhi opini publik. Tapi sayang, pertarungan yang katanya demokrasi justru jadi tak sehat sebab berujung keributan tanpa jeda.
Itu di media sosial. Saya sempat membayangkan perdebatan terjadi di dunia nyata. Mungkin, masing-masing sudah asah golok siapkan panah dan parang, atau mungkin juga beli AK-47 di pasar gelap.
Makanya pemerintah pusat buru-buru menggaungkan jargon “Saya Indonesia, Saya Pancasila”. Sementara kelompok lain yang dituduh memoles citra dengan gincu agama, sudah berhasil menggerakkan jutaan massa yang tublek di Ibu Kota.
Sekarang, bau Pilkada DKI Jakarta tinggal sisanya saja. Semua sedang siap-siap tarik gas menjelang pemilihan Presiden RI tahun 2019. Setelah adem waktu Ramadhan dan momen Lebaran lalu, mesin politik mulai bekerja lagi. Buzzer juga sudah siap sedia di depan komputernya guna mengompori opini publik yang aktif di media sosial. Jadi bukan tak mungkin situasi bakal jauh lebih panas ketimbang tempo hari.
Yang ke-Arab-arab-an, kudu diberantas habis sebab belakangan juga dituduh anti Pancasila. Lho, ini bagaimana ceritanya ? Gara-gara pertarungan politik antara Rizieq, Ahok, Jokowi, beserta jejaring mereka masing-masing,  kok semua jadi kena ?
Lalu, bagaimana dengan paman saya yang Betawi, guru ngaji bertitel Kyai dan gemar memakai sorban, ghamis dan peci putih, serta doyan menghisap sisha dan sesekali berbahasa Arab ketika jumpa kawannya ? Apa dia kudu diberantas juga ?
Dia tak ikut campur lho soal politik praktis. Dia cuma mengamati saja kok. Kebetulan, di raut mukanya ada corak khas Arab. Tiap tanggal 17 Agustus juga dia selalu kibarkan Merah Putih di depan rumahnya. Coba masuk ke rumahnya, pasti ada Garuda Pancasila nangkring di tembok ruang tengahnya.

Komentar