Merdeka Tapi Kedeur

Satu hari lagi, pada pukul 10.00 WIB, negara yang masih dicintai ini, berusia 72 tahun. Sudah ngapain saja selama ini?

Soekarno dan kawan-kawan terseok-seok mendirikan Indonesia. Berhasil, meski belum cemerlang. Rongrongan dari dalam masih saja ada. Sejarah bilang, 21 tahun, bapak pegang kendali.

Tahun 1967, Soeharto naik ke pucuk pegang kendali. Banyak sudah yang dikerjakan. Bahkan katanya, Indonesia sempat jadi macan Asia dan surplus terus produksi pangannya.

Memang, meski Iwan Fals dan gerombolan seniman lainnya sering lontar kritik, toh kendaraan jenis baru dan modernisasi tetap masuk ke Indonesia. Buku-buku porno juga turut serta.

Pada Mei 1998, semua penduduk sudah sampai diujung kepala kemarahannya. Bapak rela turun tahta tanpa perlu mewariskan ke anaknya. Ya emang ga bisa, sebab bukan kerajaan.

Kira-kira setahun kemudian, setelah BJ Habibie yang tadinya kernet kemudian sementara jadi supir, Pemilu pertama di era reformasi digelar. Partai pengusung tageline "Wong Cilik" besutan Mba Mega waktu itu, menang telak. 

Tapi sayang, putri Pak Karno tak bisa jadi Presiden sebab dia perempuan. Mas Abdurrahman Wahid yang lebih populer dengan nama Gus Dur pun, naik ke puncak setelah Poros Tengah ngotot sekali mengusungnya.

Indonesia belum stabil emosinya waktu itu. Sebab baru  sebentar Gus jadi Presiden, Sidang Istimewa MPR kudu digelar sampai dia tersungkur. Demonstrasi juga ada di mana-mana.

Melihat bangku kosong, Mba Mega buru-buru naik. Pada 2004, setelah menerapkan demokrasi ala Amerika Serikat dengan cara Pilpres Langsung, dia kalah saing sama bekas anak buahnya. Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY.

Gara-gara dia tuh jadi tren menginisialkan saja nama orang besar. Misal Jusuf Kalla jadi JK. Padahal beberapa tahun lalu, ini biasa dipakai petugas Polisi saat mengumumkan pelaku kriminal.

Suka ga suka, SBY jadi Presiden dua periode. Itu saja. Setelah tak bisa dipilih lagi, Joko Widodo si tukang kayu dari Surakarta, Jawa Tengah, menang tipis ungguli Prabowo, bekas mantu Pak Harto pada Pilpres lalu.

Populer sekali Pak Jokowi. Tentu, ini tak lepas dari peran penyokong termasuk media massa yang memposisikannya sebagai media darling. Engga gratis lho.

Kira-kira, hingga hari ini, saat besok Indonesia berumur 72 tahun, iklim demokrasi ala Amerika Serikat sudah berumur 13 tahun.

Dulu dikira bakal beres sebab kita meniru jagoan dunia yang paling sempurna itu. Tapi nyatanya, gaduh bahkan tak berperi. Eh, Sila ke empat pergi ke mana?

Komentar