Alfamart versus Pemerintah

Lukanya belum kering, jangan ditambah lagi. Emang sih soal makan bukan masalah besar. Tapi lebih repot kalau kuota internet habis.

Pada pemilihan Presiden tahun 2014 lalu, warga ber-KTP Indonesia pecah jadi dua bagian. Giliran Pilkada DKI Jakarta, pemecahan dilanjut lagi. Sekarang tahun politik, mungkin bakal digetok-getok lagi sampai guci bernama Nusantara pecahnya benar-benar halus.

Entah kenapa, di tiap rangkaian peristiwa politik saya justru mengkhawatirkan pangan mulai dari produksi, distribusi hingga konsumsi. Bayangkan, berapa kali sudah kita dikerjain soal ini doang.

Masih ingat betul, gara-gara pembagian musim yang acak-acakan, harga garam melonjak sampai lima kali dilipat. Sekarung berat 50 kilogram yang tadinya Rp 50 ribu, benar dilejitkan sampai Rp 250 ribu.

Banyak yang beranggapan ini soal sepele. Tapi balik lagi, bisa jadi soal besar kalau garam justru hilang.

Mau coba rasanya sayur tanpa garam? Tanya saja ke Inul Daratista. Sementara pemerintah malah bertelur alasan kalau ini gara-gara curah hujan tinggi.

Kalau. Ini kalau ya, ada kesempatan berbincang dengan Menteri terkait saya mau nanya, apa laut yang ada masih kurang luas? Apa Tuhan harus kerja lagi bikin laut buat Indonesia?

Habis soal garam, sekarang giliran beras. Entah prinsip ekonomi apa yang jadi bekal pemerintah. Waktu musim panen, kebijakan impor 500 ribu ton dari Thailand juga Vietnam malah dikeluarkan.

Alesannye macem-macem. Segala soal stok kesediaan bahan, menekan harga eceran dan lain sebagainya dilontarkan.

Memang, pada Januari 2018 lalu, stok nasional menurun dan penyebarannya tidak merata. Tapi pada Februari bakal ada panen raya.

Kalau Ombudsman Republik Indonesia beranggapan keputusan Kementerian Perdagangan itu kurang tepat, saya pikir malah sangat tidak tepat.

Saya tahu, kalau soal ini ditanyakan ke pihak Kemendag atau Presiden sekalian, jawabannya pasti begini :

"Kita butuh beras bukan cuma satu hari. Stok harus benar-benar dijamin agar jangan sampai ada kelangkaan. Iya betul sekarang panen raya, tapi stok bakal menipis karena dipakai terus. Dan kita panen tidak tiap hari."

Masuk di akal jawaban itu. Tapi nanti, pasti bakal ada aksi impor lagi di saat panen berikutnya. Sudah ketebak. Maka tak salah kalau institusi ini dijuluki saja sekalian sebagai 'impor mania'.

Entah harga jual eceran beras saat ini ada di posisi berapa duit. Tapi di Cianjur Jawa Barat, harga eceran berhasil dipaksa turun.

Jenis super yang tadinya bertengger di Rp 13 ribu sekilo, jeblok ke posisi Rp 11.500.

Dari berita yang ada, turunnya harga tersebut menurut pedagang di Pasar Induk Hayam Wuruk, Cianjur, bukan gara-gara keputusan impor tadi. Sebab di sana, beras asing yang sudah dipaksa masuk malah tidak dijual sama sekali. Pedagang cuma jual beras lokal.

Siapa Untung ?

Hitung-hitungannya mulai kebuka. Harga gabah kering di tingkat petani per Januari 2018 lalu, Rp 5.415 sekilo. Sedangkan gabah kering giling Rp 6.099.

Banderol itu, masih ketinggian di mata pemerintah yang mengidealkan ada di posisi Rp 4.200 sekilo. Akibatnya, jumlah serapan Bulog memble di bulan lalu tahun ini. Cuma 0,65 persen atau setara 17.694 ton. Targetnya sepanjang 2018, 2,7 juta ton lho.

Apa yakin target serapan Bulog itu bakal tercapai ? Rasanya jauh becek meski hujan deras. Sebab naga-naganya, pemerintah lebih memilih bersikap layaknya pedagang.

Tahun lalu saja, serapan cuma sampe 56,7 persen dari total target 3,7 juta ton. Kenapa ? Ya itu tadi, mungkin mendingan beli via impor ketimbang petani sendiri.

Tapi soal berapa harga beli sekilo beras via impor, tak ada yang bilang dengan gamblang.

Jelasnya, kalau harga gabah kering giling Rp 6.500 sekilo, petani yang sewa lahan dengan areal tanam 2.800 meter persegi, cuma dapat untung Rp 900 ribu sekali panen.

Tapi kalau ambrol jadi Rp 6.200, rontog untung jadi Rp 500 ribu. Ini Sarikin, petani penyewa lahan di Jatilawang yang bilang, seperti dilansir pada berita di salah satu situs online. Apa cukup duit segitu untuk hidup sambil nunggu musim panen berikut?

Ajak Nape Aye ke Alpa

Siapa yang ga doyan belanja? Kalau duit banyak, apa juga dibeli. Ibu-ibu rumah tangga pun masih sering curhat minta diajak ke Alfamart.

Sebenarnya, ini bukan candaan belaka yang bikin nama Mpok Alpa melejit. Tapi jelas, Alfamart sebagai pihak swasta mampu mematok harga bersaing.

Bayangkan, Alfamart yang dipunyai Djoko Susanto (Kwok Kwie Fo), berani pasang harga Rp 64 ribu untuk beras seberat 5 kilogram. Ini artinya, masih 200 perak lebih murah perkilo ketimbang versi pemerintah kalau patokannya Rp 13 ribu.

Kenapa dia berani pasang harga bersaing yang bikin pedagang beras eceran cuma bisa ngiri liat ibu-ibu bolak-balik ke Alfamart? Entahlah. Curiga doang yang saya bisa.

Di Sawah ada Siapa?

Begini, kalau terus-terusan pemerintah pilih impor, bukan sangat tidak mungkin petani malah bikin aksi ngambek besar-besaran.

Bisa jadi, mereka berhenti nanem. Kalau iya pun, cuma buat kebutuhan perutnya sendiri. Repotkan kalau kita yang merasa banyak duit dan bisa beli apa aja kudu makan duit?

Sekarang aksi ngambek sebenarnya sudah dimulai. Muda-mudi, lebih pilih pergi ke kota jadi kuli bangunan atau galian kabel optik, dari pada jadi generasi penerus pengolah sawah ladang.

Kalau ga percaya, tanya saja sendiri. Saya sudah menanyakan hal itu ke Ardi yang bantuin benerin rumah.

"Ngapain ke sawah, duitnya ga ada bang. Mending ke Jakarta dari pada di Cilacap," kata dia waktu itu.

Rasanya, kalau harga jual gabah kering masih kebilang tinggi, harus dicarikan solusi agar ada titik temu. Pemerintah mampu beli sesuai anggaran yang ada, petani pun untung dengan ongkos tanam yang sudah keluar.

Jangan cuma gara-gara Instruksi Presiden nomor 5 tahun 2015 soal peran Bulog sebagai penyangga harga,  nasib petani terus dibikin memble demi konsumen yang cuma mau murah tapi cakep.

Iya betul mereka masih mau nanam. Tapi kalau udah ogah dan sawah ditinggalkan atau dijual buat pabrik, siapa mau disalahkan?

Apa kudu Djoko Susanto yang bandanya senilai Rp 15,86 triliyun yang beli sawah-sawah itu supaya harga bisa bagus ?





Komentar