Gue Tuh Orangnye ...

Kejahatan demi kejahatan, rasanya sudah cukup dilakoni waktu berperan sebagai individu.

Judi, zina, riba, nipu, garong, ngentit, ngintip, gosip, fitnah, adu domba, ngaku-ngaku, munafik, bahkan melawan pemerintah, harus usai mulai detik ini. Ga perlu lagi terus lanjut dalam upaya mewujudkan keinginan.

Khusus yang terakhir, sesekali bolehlah dikerjain lantaran dalam penyelenggaraan negara, rasanya masih banyak hal ditutupi. Mumpung hukuman bui bagi pengkritik belum benar-benar dilaksanakan.

Dalam pengelolaan keuangan,  giliran belanja kebutuhan hajat, rupanya masih senang beli dari orang lain ketimbang saudara sendiri yang rela menggosongkan kulitnya di sawah. Padahal ini musim panen.

Gara-gara curah hujan tinggi di beberapa daerah, garam pun kudu impor. Apa Tuhan kudu bikin laut lagi buat negara ini?

Sementara itu, pajak terus ditarik. Giliran meleset dari target, pengendara roda dua yang nunggak dikejar via razia di jalan raya. Kamu belum tahu kalau urusan dengan 'mata elang' saja udah bikin runyem?Masa guna mengisi kas negara kudu ngandelin pajak?

Apa dagangan minyak, gas, batu bara, biji nikel, besi, emas, berlian, tembaga, ikan, ternak, rempah, tembakau, jasa konstruksi, ngontrakin tanah, jual pasir besi, ekspor babu juga pelacur atau produk kreatif, ga mampu mengongkosi kebutuhan laju negara?

Kemana itu perginya catatan untung dari kinerja tiap badan usaha milik negara? Apa memble terus? Tapi kok penghargaan demi penghargaan terus diraih?

Kalau memang masih belum cukup, jual saja ganja ke negara-negara yang sudah bikin halal itu barang terlarang.

Tuan, bukan saya hendak menyodorkan daftar dosa selaku panitia negara. Tapi saya cuma mengadu lantaran bingung mau ke mana lagi.

Anda tahu kalau pengeluaran sekali makan di warteg Rp 12 ribu saja itu sudah hebat? Anda tahu kalau tarif kontrakan sepetak terus-terusan naik?

Anda tahu kalau ongkos setrum pintar itu malah berasa 'minterin' saya?

Waktu sakit, dokter enteng sekali menggetok tarif. Sedangkan asuransi dari tuan, tak mampu mengobati semaksimal mungkin.

Di kota sih agak mendingan. Tapi di daerah, berapa banyak yang memilih regang nyawa lantaran itu.

Saya ga berani bilang bahwa tuan dan nyonya ngibul. Tapi kenapa KPK selalu dapat mangsa pejabat berlaku ngentit?

Dalam hal pasang kuping, bapak dan ibu yang terhormat, malah mau menjebloskan orang-orang yang diwakili ke dalam bui. Alasannya, kehormatan dewan jangan sampai direndahkan.

Saya ga perlu katakan bagaimana tiap individu punya karakter. Kita mengerti. Ada yang santun, keras, bahkan diam saja.

Usul, sebaiknya jangan anti kritik. Kalau ga mau direndahkan, ya jangan bertindak rendah.

Binatang pun kalau sudah kenyang pasti ninggalin makanannya biar masih seumbug juga. Masa manusia bertitel dan berbadan harum kalah sama kucing?

Kalau maunya begitu, lupakan saja niat Reformasi. Buang saja itu demokrasi gaya Amerika ke tempat sampah bareng tai kucing.

Toh rupanya cuma bikin ribut. Yang ga bisa ngaji, tiba-tiba jadi ahli tafsir. Yang praktek agamanya masih belang-belang, tahu-tahu jadi pakar perbandingan agama.

Repot juga kalau penembak SIM atau yang tiap harinya nyerobot lampu merah tiba-tiba jadi ahli hukum, bahkan pakar di bidang nyodorin dosa orang lain. Sudahlah, itu ga cocok buat kita.

Pilih saja siapa Presiden atau Kepala Daerah yang kalian suka. Musyawarahkan saja.

Toh Sila ke empat bilangnya begitu kok. Biar partai saja yang dipilih. Urusan siapa-siapa, kalianlah yang atur. Saya cuma tahu, urusan pasak pribadi jangan sampai kegedean ketimbang tiang. Pecah nanti.

Tolong, jangan katakan usul saya ini sebagai kemunduran. Rasanya sudah giliran kita pulang ke rumah. Mengingat diri sendiri, mengenal diri sendiri, memahami diri sendiri biar gampang berlaku empati ke orang lain.

Pancasila, sayang sekali kalau cuma jadi bahan kampanye dan Garudanya cuma nemplok di tembok. UUD 1945, repot juga kalau terus diutak-atik. Itu nyusunnya waktu kita lagi menderita lho. Masa giliran jauh dari Belanda, untung terus yang dipikirin?

Saya takut kalau ternyata waktu mendahului, sementara bekal pensiun masih sedikit. Bagaimana nanti, waktu kembali ke asal? Apa yang harus disampaikan kepada para pendahulu bahkan kepada Sang Kausa Prima?

Apa di depan Tuhan kita masih bisa bilang : Gue tuh orangnye ...

Komentar