Menurut saya, ini menurut saya ya. Parpol, ormas, atau perkumpulan apapun, kudu punya badan usaha yang laba bersihnya sebagian dipakai ongkos kegiatan.
Misalnya kampanye politik, kongres, musyawarah atau merespon bencana dan lain sebagainya, kan butuh ongkos. Kecuali, dalam kegiatan itu engga perlu ngopi atau nyahi.
Praktek gaet "relawan" dalam kampanye politik, pasti pakai duit. Apa iya mereka beneran rela tengkiyu doang? Belom lagi kalo sampe ada acara bagi-bagi doku.
Pertanyaannya, itu duit dari mana? Ya dari pengusaha yang ikut nyebur ke parpol. Ujungnya, hukum dagang dan begitu jadi, ketangkep.
Di ormas, Dalam keseharian, proyek pembangunan sering jadi sasaran empuk mendulang duit. Atau kadang-kadang, aksi ngecrek ala pengamen digelar begitu ada yang perlu ditangani bersama.
Ini sih engga salah. Tapi kalau ada badan usaha, pasti keuntungan lebih berlipat.
Lapangan kerja terbuka, royalti didapat tiap anggota, bahkan bukan ga mungkin ekspansi (pelebaran sayap) usaha terjadi. Siapa yang untung?
Koperasi
Saya yakin betul, satu nama badan yang jadi sub judul ini merupakan jalan terbaik. Tak perlu ada tumbal agar usaha tetap jalan, malah semua bisa nyengir hepi.
Almarhum Muhammad Hatta, pasti sudah memikirkan hal ini sedetail mungkin. Makanya, waktu itu, menurut Romo Makmun yang membuat lagu Wakil Rakyat, kemudian dipopulerkan Iwan Fals, gerak perbankan dibatasi sampai tingkat provinsi saja. Sementara di kabupaten terus ke akar rumputnya, dikuasai jaringan Koperasi.
Kenapa begitu, alasannya demi menghindari penguasaan perorangan atau satu kelompok saja atas hajat hidup orang banyak. Monopoli-lah bahasa kerennya.
Entah kenapa, gagasan ini ga dipake lagi. Padahal, ada kekuatan berbagi, gotong royong dan musyawarah yang jadi identitas kuat bangsa Indonesia dalam Koperasi.
Artinya, modal dari kita, untung buat kita juga. Kalau kita ga punya duit, ditalangi dulu sama yang kaya tapi dari pendapatan kotor, dipotong sebagian untuk pengembalian modal. Ya balik lagi, kita yang kerja buat kita.
Dia
Sekarang, jejaring monopoli, terus mengakar sampai tingkat pedesaan. Misalnya, yang bikin motor dia, yang jual dia, yang kreditin juga dia, dan setelah lunas terus kepepet, digadenye juga ke dia. Akhirnya, ya dia sendiri yang menang.
Rasanya, soal "dia" tadi bukan barang langka. Dan pemerintah coba mengakalinya dengan program Kredit Usaha Rakyat (KUR).
Tapi sayang seribu kali sayang, program ini sepertinya ga tepat sasaran bahkan belok jauh dari niat awal.
Kenapa? Keluhan di lapangan, aksesnya terlalu sulit bagi pengusaha kecil yang benar-benar kecil. Sebab kudu ada izin usaha dan lain sebagainya.
Celah ini, justru jadi pintu masuk tengkulak duit guna menggelar operasi jual beli doku. Pintu ketiga-lah sebutannya.
Pemerintah keluarkan kebijakan KUR, sejumlah bank jadi penyalur, pengusaha kecil paling kecil sulit mengakses dana, badan usaha yang pakai muka Koperasi Simpan Pinjam, jadi pemain inti di akar rumput.
Jelas, niat pemerintah tadi boleh dibilang belok lantaran saat dana diakses di akar rumput, tak sedikit yang peruntukkannya justru bagi kepentingan konsumtif.
Sedangkan pengusaha sekelas kaki lima, dicekik bunga yang tak sedikit. Boleh jadi, usaha jalan di awal, sementara rumah atau kendaraan sudah tergadai. Ketika omzet memble, cicilan justru macet sampai jatuh tempo, dan ...
Eh, rupanya di lapak sebelah yang dikelola "dia" justru tawarkan bunga ringan. Ya sudah ke situ saja. Akibatnya, kegiatan berbagi jadi mandek dan masing-masing individu jalan sendiri-sendiri.
Paling-paling, ngarep ketelan dana CSR (care share and responsibility) doang dari "dia".
Komentar
Posting Komentar