#2019GantiPolitisiNgehe'

Bapakku Pegawai Negeri Sipil yang mengabdi di zaman Orde Baru. Kira-kira tahun 1970-an, papa memulai jejaknya di kelas sendal jepit dan menutupnya di zona sama.

Semua tahu di zaman Orba PNS harus memilih apa. Golkar jadi satu-satunya pilihan papa waktu itu. Takdirnya, kami dari komunitas Betawi Muslim dan menetap di Mampang Prapatan, Jakarta Selatan.

Di kawasan tempat tinggal kami, mayoritasnya merupakan pendukung PPP yang waktu itu masih berlogo bintang.

Dulu belum ada istilah persekusi. Tapi kami sekeluarga, sudah mengalaminya tiap lima tahun.

Soalnya, semua loyalis PPP yang rela rogoh kocek demi kaos, bendera, ikat kepala bahkan menjebol mesin motor saat musim kampanye.

Enam orang anak papa. Paling tua baru duduk di bangku SMP. Jadi belum dapat hak pilih pemilu.

Entahlah, saya tak tahu persis soal sepak terjang papa di bidang politik. Kami cuma tahu, waktu itu ga ada yang mau jadi PNS sebab gajinya cuma sampe tenggorokan.

Soal pilihan ini, kelihatannya cuma sekedar kewajiban yang perlu dipatuhi. Namun apa daya, persekusi mungkin boleh dikata sadis.

"Eh anak Golkar," kira-kira begitu panggilan yang didapat tiap hari di musim kampanye.

Pernah satu kali akhirnya saya buka mulut. Kepada papa, saya bilang begini :

"Pa, udah pindah aje ikut P3. Dari pada begini terus," kata saya.

Papa diam tanpa ekspresi. Belakangan, baru saya tahu di balik kedataran itu ada jawaban yang saya terjemahkan sendiri.

"Lo belom ngarti Bob. Nanti deh lo paham sendiri kenape kudu Golkar," mungkin begitu jawaban papa.

Ikutan

Pasca reformasi, PNS tak wajib pilih Golkar. Papa baru kasih unjuk sikap politiknya. Dia jadi pendukung Gus Dur yang mengusung PKB.

Di rumah, segala macam atribut partai termasuk poster Sang Kyai jadi hiasan wajib. Tapi tetap, persekusi masih ada cuma tensinya berkurang.

Tahun 2004, merupakan pemilu pertama dan saya memilih salah satu calon presiden. Setelah ada kekecewaan, saya berhenti sampai di situ.

Maret 2006, papa meninggal dan cuma menyodorkan satu pesan saja. "Pinter-pinter bawa diri," begitu katanya.

Pada Pilkada DKI Jakarta tahun 2012 lalu, tak ada riak politik di keluarga kami. Mama, cuma memastikan ogah memilih Jokowi. Sebabnya sederhana saja.

"Gue ga demen ama nyengirnye," begitu kata mama. Selebihnya, meski ke TPS bersama-sama, tak ada satu pun yang tahu doi beliau memilih apa.

Pada Pilpres 2014 lalu, begitu juga. Keluarga kami tak terpengaruh hawa panas. Adik saya dan suaminya, terang-terangan jadi pendukung Jokowi-JK.

Pada pertarungan Pilkada yang akhirnya membawa Ahok ke balik bui, abang saya jadi pendukung politisi keturunan Tionghoa ini. Betul, dia jadi relawan Basuki.

Meski tensi sangat panas dan terbilang bahaya, dia maju terus. Mengerjakan tugasnya sebagai relawan sesuai penugasan atasan.

Meski tak sampai naas, dia sempat dihadang pendukung Anies-Sandi waktu membagikan bungkusan sembako di kampung kami sendiri.

Saya terpaksa ikut terlibat dalam kekisruhan itu. Alasannya cuma dua, ada abang saya di situ dan inilah politik.

Kini, menjelang 2019, abang saya sudah menyatakan lewat jaketnya bahwa dia relawan PSI.

Usut punya usut, rupanya ini cuma soal lapangan kerja saja. Lumayanlah, bisa bikin dapur rumah tangga si abang ngebul.

Meski pemilu masih jauh, segala kekonyolan sudah dipertontonkan sejak mula. Dan saya, tetap memilih main orkes saja.

https://www.facebook.com/BobbyJunaididanOrkesSemberEngen/videos/774605719404645/

Komentar