Bapak. Lho, Kok?




Naga-naganya, Bangsa Indonesia yang majemuk ini bakal salah terus dalam nyari pemimpin. Ini terjadi setelah ada ketetapan Presiden dipilih langsung oleh rakyat. Begitu juga Kepala Daerah.

Mungkin, lantaran melihat Amerika Serikat sukses memakai cara pilih langsung, kita kemudian latah dan dikira bakal hasil juga.

Betul ada hasil. Ya ribut tiap hari ini hasilnya. Sedang soal pemimpin ideal, masih sebatas ngimpi di siang bolong waktu hujan deras mengguyur.

Coba bayangin, hampir semua perempuan Amerika telanjang waktu musim panas di pinggir pantai. Cocok buat mereka yang biasa bikin film porno, makanya ga mudah kepancing birahi.

Nah kalo kite niru, jajalin aje. Paling angka pemerkosaan meningkat tajam. Atau paling minim, pemuda Indonesia jadi hobi onani sambil khayalin yang barusan dilihat.

Siklus

Di era Orde Lama, pemerintah kebingungan lantaran rong-rongan dari dalam negeri begitu keras. Bukan ga mungkin yang ngerong-rong itu tanpa dukungan asing.

Sulit memang dibuktikan, tapi belakangan tirai bambu mulai kebuka. Lihat saja macam-macam analisa sejarah yang ditulis ahlinya.

Kelompok Nasionalis, Agama dan Komunis, terus berseteru ga ada habisnya. Seperti saudara kandung yang berebut warisan, meski faroid (pembagian jatah sesuai aturan) sudah dilakukan, tetap merasa ga adil.

Apa betul soal ini tanpa campur tangan asing? Mengingat waktu itu, ada dua kekuatan besar di dunia yang adu ngotot.

Meski upaya penyatuan sudah dilakukan melalui konsep Nasionalis, Agama dan Komunis, penguasa lama ambrol. Akar, batang, ranting sampai daun dicabut habis. Rontokannya juga disapu bersih, cuma sisa sedikit.

Kekuatan baru muncul dengan alasan menggiurkan. Memurnikan pelaksanaan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Dengan dukungan kekuatan militer, naik dia dan bertengger di puncak tujuh periode.

Ini cerita lama yang rasanya perlu dicermati tiap inci kisahnya. Kalau lengah dan belaga lupa, ya bakal repot seumur-umur bahkan sampe umur anak, cucu, cicit habis.

Mungkin, kita lupa atau mungkin belaga lupa dan mungkin juga melupakan peristiwa lama. Saat saudara sebangsa sendiri kudu meregang nyawa lantaran politik pragmatis.

Miris. Dendam ga pernah habis. Utamanya menjelang pemilu, kisahnya didongkrak lagi cuma demi kepentingan fana.

Ulangan

Kalau lembaran sejarah di rentang waktu 1965 hingga 1971 dibuka, ada benang merah kuat yang jadi penghubung antara G30S dan investasi asing pertama yang direstui pemerintah masuk ke Indonesia. Rasanya itu sudah cukup.

Berangkat dari situ, segala macam diujungkan pada duit. Peristiwa apa saja, konflik macam apapun, diakhiri dengan doku. Makanya ada plesetan UUD (ujung-ujungnya duit). Masih ingat?

Kini, di tengah perebutan kuasa, kelompok Nasionalis dan Agama, berbenturan lagi. Entah itu sengaja dibentur atau memang kudu berbenturan. Wallahu a'lam bissawab. Cuma Allah Subhanahuwwata 'Ala, Tuhan Yang Maha Esa dan pelakunya sendiri yang tahu.

Apa benturan ini tanpa campur tangan asing? Ada dua kemungkinan. Bisa iya, bisa engga. Tinggal ukurannya saja yang belum diketahui persis. Mengingat, satu ideologi besar yakni Komunis yang sudah jadi mendiang di negeri ini, justru ditarik-tarik lagi.

Saya bukan termasuk orang yang percaya bahwa arwah bisa kembali. Kalau mati ya mati. Begitu juga Komunis, mati ya mati.

Cuma anak kecil yang bisa ditakuti kalau di pohon rengas bersemayam arwah si anu. Sedangkan orang dewasa, kalau proses pencarian jati diri dan pendewasaannya salah kaprah, bisa jadi percaya arwah gentayangan.

Belakangan, di tengah benturan kelompok yang menamakan diri Nasionalis juga Agamais, ada pemain baru yang masuk arena. Dia mengusung cerita bahwa niatnya memurnikan Pancasila dan UUD 1945.

Saya angkat jempol ke atas dengan niat itu. Tapi repot juga kalau percaya begitu saja. Salah-salah, peristiwa lama di rentang 1965, 1971, hingga awal reformasi keulang lagi.

Soalnya, kelompok-kelompok ini cuma pamer otot yang merenteng di leher. Koar marah dan baru mau nebar senyum jelang pemilihan nanti. Sambil berjanji pastinya.

Laki-Puan

Bapak, predikat ini biasa disematkan pada laki-laki dewasa. Bisa bapak guru, bapak di rumah, atau bapak pejabat. Tapi ambil saja contoh pemaknaan yang luas dan punya kemungkinan dihubungkan ke mana saja.

Di satu negeri, ada tiga calon bapak. Dua di antaranya parlente, kaya raya dan gemar berjanji soal apa saja. Tapi sayang, kemampuan dan kemauannya mewujudkan janji terbilang nihil.

Sementara yang satu, kere. Ga punya apa-apa dan enggan berjanji soal apa saja. Bisanya cuma bilang : "mudah-mudahan saya dengan kemampuan, niat dan komitmen pada diri sendiri."

Tiga calon bapak ini, memperebutkan hati perempuan bohay yang terus menggandol di hati juga jadi bahan pikir tiap malam di waktu senggang. Siti Annisa Nusantarawati Jamrud Khatulistiwa Maria Denok Astuti namanya.

Dua pertama, merayu sambil senyum beserta segala janji. Pamer banda sudah pasti dilakoni. Sebab dalam perasaannya, perempuan cuma mau sama yang mapan.

Duh, kalau batas kemapanan cuma sampai finansial dan penampilan, ya repot.

Siti kemudian menikah dengan bapak pertama. Sepuluh tahun usia pernikahannya. Dapat dua anak, laki dan perempuan yang dalam pikirannya cuma ada duit, duit dan duit.

Persetan soal moral yang penting kaya harta. Riba juga jadi sandaran dua anak itu. Singkat cerita, meski mandi banda, hidupnya brengseklah.

Bapak itu sering digoda bintang film porno. Entah kena atau tidak rayuan itu, tapi yang jelas, dua anaknya diam-diam suka berbuat mesum bahkan memproduksi tayangan lendir.

Siti dan bapak bercerai. Karena memang, jodohnya sampai di situ saja.

Seiring waktu, setelah habis masa iddah, Siti kawin lagi dengan bapak yang lain. Parlente, kaya raya dan suka berjanji pula.

Dapat anak satu yang kelakuannya 11-12 dengan dua anak sebelumnya. Dan kini, sambil setengah menyesal, Siti berpikir tentang perceraian.

Perasaan kapok kawin sama bapak yang kaya begitu memang ada. Tapi kecil sekali frekwensinya. Sebab Siti takut ga bisa makan kalau kawin sama orang miskin.

Jelas, ini menghina Tuhan. Sebab rejeki datangnya dari Sang Kausa Prima.

Sementara itu, calon bapak yang kere tadi, sudah menyiapkan berbagai macam rencana yang digagas tertulis rapi seandainya dia berjodoh dengan Siti.

Penekanan dia, komitmen kepada diri sendiri jika kelak menikah nanti. Sebab menurutnya, komitmen pada individu lain bisa sia-sia kalau pikiran dan perasaannya ga akur.

Siti bimbang bukan kepalang. Perang batin terus-terusan ngamuk.

"Cere kaga, cere kaga. Kalo gue cere, sama juga ngerubuhin tempat ibadah. Gue kaga cere, kaya banda doang. Diusap atau dikecup sayang juga ga pernah.

Gue cakep, tapi sebates dipamerin doang ama laki gue kalo di muka umum. Duh Gusti," begitu kira-kira dia ngebatin tiap hari.

Info : Ini foto almarhum Bapak saya. Pria keras kepala yang mudah-mudahan termasuk orang hebat.


Komentar