Dajjal Salah Kata. Lho, Kok?



Dajjal, banyak yang ketat-ketir terkait nama itu. Kekhawatiran juga muncul waktu mendengar kabar soal kedatangannya.

Spekulasi pun banyak bermunculan. Ada yang mendasarinya dengan nash (riwayat), ada pula yang mematoknya sebatas fisik.

"Matanya satu," begitu kira-kira kesepakatan banyak pihak yang terlanjur mendeklarasikan diri sebagai musuh Dajjal, berdasar riwayat.

Saya sendiri juga sepakat dan yakin Dajjal muncul. Haqqul yakin.

Dengan dasar nash dan keyakinan, saya coba cari tahu siapa Dajjal sebenarnya. Makhluk atau bukan.

Dari riwayat yang pernah saya dengar, baca dan simak, matanya memang satu. Di dekat telinganya (kalau salah mohon dibenarkan) tertulis huruf Arab Kaf, Fa dan Ro.

Tiga huruf tadi, merupakan huruf konsonan yang kalau diberi huruf vokal berbunyi "kafir". Lalu, siapa Dajjal sebenarnya?

Satu Mata

Saya berpendapat begini, Indonesia itu miniatur dunia. Apa saja yang terjadi di kerak bumi, ada di sini. Sementara Jakarta, saya posisikan sebagai miniatur Indonesia. Segala konflik positif dan negarif ada di kota ini. Mudah-mudahan tepat pendapat ini.

Di Indonesia, teknologi komunikasi boleh dibilang tak kalah maju. Saking modernnya, banyak media massa berbasis cetak kudu rela gulung tikar lantaran bisnisnya kalah oleh media online.

Belakangan, media massa berbasis online juga kudu putar otak lantaran semua individu pengguna media sosial juga bertindak sebagai penyampai kabar.

Meski sering juga mengutip dari media massa online, penyampaian kabar, pendapat dan gagasan justru salah kaprah. Soalnya, yang dikutip tidak mampu memenuhi unsur kredibilitas dan kapabilitas. Alhasil, emosi kena pancing.

Di alam demokrasi belasan tahun pasca reformasi, apapun boleh dibicarakan. Saking bebasnya, pemerintah malah kerok menghadapi jaminan kebebasan berpendapat. Betul, hoax justru jadi masalah baru.

Kelihatannya, penyampaian kabar, pendapat dan gagasan di media sosial memang jadi biang kerok kekisruhan. Tapi mau dibilang apa, kebebasan terlanjur dijamin.

Meski sering tanpa perasaan, penyampaian pesan jadi ibarat orang pegang bambu panjang. Apa saja yang kelihatan digaprak.

Mau suku kek, mau agama kek, asal bersebrangan ya disikat saja. Yang penting lontaran opini bisa raup banyak dukungan, hingga berujung kemenangan di Pemilu nanti.

Repot memang kalau pemegang bambu panjang tadi menggaprak apa saja yang kelihatan. Soalnya, dia terlanjur pro sini dan kontra sono. Alhasil, pandangan cuma pakai satu mata saja.

Rasanya, sangat berbahaya kalau soal ini terus dibiarkan. Kontrol sosial, politik juga ekonomi bisa hilang lantaran pengkritisan terhadap satu persoalan tidak obyektif.

Misalnya, kubu anu mengkritisi kinerja kubu anu. Apa saja jadi bahan. Informasi sampah dipungut, kemudian jadi pelor.

Mencari dengan satu mata sambil mengabaikan tujuannya mancing perang.

Kafir

Waktu kata ini disebutkan, hasilnya bisa nyelekit dan sungguh menusuk. Siapa yang ga marah kalau disematkan predikat kafir ?

Mudah-mudahan, kata kafir bisa dipadankan ke dalam bahasa Inggris kemudian diajak masuk ke dalam bahasa Indonesia.

Cover (kafir) yang dengan tolol saya terjemahkan sebagai pelindung, terlindung atau tertutup.

Kafir rasanya tepat juga kalau disematkan pada orang yang telinga, pikiran dan perasaannya tertutup oleh kebenaran. Padahal, lewat jalan memungut berbagai macam informasi yang bertalian dengan suatu persoalan menggunakan dua mata dan perasaan, obyektifitas bisa didapatkan.

Misalnya dalam mengkritisi tiap kebijakan pemerintah. Kalau dasarnya emang udah kaga demen, mau pegimana juga ya kaga bakal demen.

Jadi, kritik yang dilontarkan seperti pemegang bambu panjang tadi. Mau informasi valid sudah dikantongi dan seharusnya memuji kinerja pemerintah, ya kalau udah ga demen, semua yang kelihatan oleh satu mata digaprak.

Sebaliknya, kalau sudah terlanjur kontra dengan oposisi, apapun yang disuguhkan pasti salah.

Padahal, ada kebenaran yang dilontarkan oposisi ketika mengkritisi kebijakan pemerintah dan seharusnya didukung. Lagi-lagi, kalo udah ga demen, mau diapain juga ya gedeg terus.

Semua yang kelihatan oleh satu mata ya digaprak saja. Peduli setan, apalagi malaikat. Cuek aje.

Salah Cara

Sejak awal pertarungan pada 2014 lalu, cara kotor memang sudah dipakai. Segala macam isyu yang bisa ditunggangi ya dinaikin saja.

Niat awal mencapai kemenangan, malah justru mendongkrak perpecahan. Sudah berasa kok.

Pro Jokowi terus-terusan naik pitam, pendukung Prabowo juga begitu.

Sama-sama ga boleh kecowel dikit, mata langsung mendelik, jari menunjuk-nunjuk, darah langsung melesat keubun-ubun.

Coba rasakan, tiap buka media sosial, ketentraman cuma ada sedikit. Paling juga didapat waktu lihat perempuan seksi pamer belahan dada. Sisanya, panas.

Pasca pemilihan 2014 lalu, silaturahmi memang diikat lagi. Jokowi-Prabowo saling mengunjungi agar masing-masing pendukungnya menyatu sebagai Bangsa Indonesia.

Tapi, apa mau dikata, usaha keras boleh dibilang sia-sia lantaran sejumlah tokoh justru menyiram minyak ke bara api yang hampir padam.

Ga perlulah disebutkan siapa tokoh-tokoh itu. Semua sudah tahu kok.

Coba kalau komunikasi dalam hal kritik, sosialisasi kebijakan dan lain sebagainya dilakukan dengan benar, serta menggunakan dua mata sebagai alat pandang pencarian informasi, pasti keadaan ga begini.

Lantaran sering salah ucap dan berasa benar terus, Dajjal kini sudah ada bersama kita.









Komentar