Apa betul Indonesia ga boleh jadi negara maju dan makmur ? Jawabnya, bisa iya bisa juga tidak. Benarkah penjajahan di negeri ini pernah ada, lagi-lagi, bisa iya bisa juga engga.
Tergantung, suka jawaban yang mana dan kenapa.
Tahun 2004, pertama kali saya jadi mahasiswa di Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta. Entah kenapa, perasaan memilih Jurnalistik sebagai konsentrasi. Di tahun itu juga, baru tumben hak pilih dalam Pemilu dikantongi.
Saya ikut Pemilu. Memilih calon anggota legislatif, Presiden dan partai politik tentunya.
Padahal waktu itu betul-betul buta dunia begituan. Cuma lantaran pernah disambangi salah satu caleg di tempat nongkrong, saya kena hipnotis.
"Pecat saya jika korupsi," kira-kira begitu kalimat sakti yang dijual caleg waktu itu. Saya percaya begitu saja dan memilih dia.
Presiden pilihan juga menang. Cuma gara-gara sekali saja sholat di Masjid dekat rumah, saya pilih dia.
Pasca pemilihan sampai sekarang, tak pernah lagi caleg itu kelihatan batang hidung termasuk kedengeran sepak terjangnya. Hilang, sementara nasib begini-begini saja. Entah siapa yang salah.
Pemilu waktu itu, juga jadi tahun pertama saya diizinkan orang tua memiliki sepeda motor pribadi. Honda CB 100 gelatik Astuti seharga Rp 1,3 juta jadi tunggangan.
Dibilang Astuti, lantaran asli keluaran '73. Setelah melakukan sedikit perbaikan, pajak juga dibayarkan tiap tahun.
Sekedar catatan, waktu itu, separuh ongkos kuliah, didapat dari penumpang bus kota atau penikmat masakan di warung tenda yang coba dihibur dengan lagu-lagu balada.
Iwan Fals, Gombloh, Ebiet G Ade serta Franky Sahilatua, jadi favorit.
Harapan sedikit saja. Kuliah selesai, dan perbaikan nasib bisa dilakukan setelah itu.
Molor memang kuliah diselesaikan. Kalau waktu itu idealnya 3,5 tahun dengan predikat kumlot, paling tidak 4 tahunlah kudu selesai.
Tapi saya, 6,5 tahun baru selesai dengan predikat kelulusan memalukan. Untungnya, ada perusahaan pers yang mau menerima saya bergabung sejak 2011 lalu.
Pilih Yang Baik di Antara Orang Brengsek
Setelah 2004, saya enggan ikut pemilu lagi. Orang waras pasti golput, begitu kira-kira pikiran waktu itu.
Terlalu ekstrim, lalu diperhalus. Biar saja orang yang memilih. Kalau kerjanya bagus, pemilu berikut baru saya pilih dia.
Oh ya, cuma boleh dua periode. Berikutnya, Gubernur DKI Jakarta yang baru dua tahun menjabat, kepingin naik kelas jadi Presiden. Ya sudah saya kecewa mengingat janjinya tahun 2012.
Saya ga ikut milih, meski ada alternatif. Soalnya iklim kompetisi terlalu jorok.
Masih satu tahun lebih Pemilu baru digelar lagi. Tapi sejak Pilkada DKI Jakarta lalu, hawa panas kompetisi sangat berasa. Bahkan aroma busuk kecium betul.
Perasaan enggan akhirnya pelan-pelan berubah jadi Haqqul yakin.
Bagaimana kemenangan guna perbaikan bisa dicapai kalau tiap hari cuma terdengar niat mau menjabat saja. Segala macam isyu terus ditunggangi.
Satu jari menuduh, sedangkan tanpa sadar tiga lainnya menunjuk diri sendiri dan jempol cari kambing hitam.
Saya masih menunggu, ada calon pemimpin yang mengurai gagasannya lewat tulisan. Ga pentinglah kalau cuma kejar populer lewat komentar pendek tentang suatu hal.
Soalnya bukan apa-apa, setelah berkomentar pendek biasanya keadaan tambah panas. Makanya jauh lebih baik kalau urai saja gagasan bagaimana sebaiknya mengelola negara ini.
Tak perlu membuat buku kemudian dibagi-bagi jelang pemilihan. Paling isinya cuma riwayat hidup sambil mendramatisir masa lalu saat masih jadi gembel.
Sekarang, sudah ada facebook dan segala macam media sosial lainnya. Tulis saja di situ. Gratis kok. Jangan nunggu wartawan datang cuma demi citra.
Isinya bisa macam-macam, mulai dari landasan ideologi, ekonomi sampai tingkat praktek keseharian, kemudian perluasan juga pengembangan jangkauannya.
Buat apa kalau cuma teriak lantang soal Pancasila, sementara tiap hari masih jadi hamba kekuatan modal dan riba.
Sodorkan gagasan anda masing-masing agar saya dan warga negara lainnya yakin, siapa yang pantas.
Nemu
Ada kisah begini : Indonesia beserta isinya, memang sengaja terus disuruh ribut soal siapa pemimpin yang pantas.
Melalui media massa, buzzer medsos, juga lewat individu pengompor, api terus disiram minyak. Makanya hidup lebih condong harmonis pada amarah.
Ada celah kosong lantaran shaff renggang. Diam-diam, orang asing berKTP Indonesia mencuri hak paling dasar orang sini.
Dengan kekuatan duit, sumber pangan dan air minum dikuasai. Cara yang tengah berlangsung bahkan berlarut-larut, dengan melemahkan petani. Pemilik modal memasang tengkulak sebagai pion.
Harga selalu jatuh saat panen, sementara di pasar, ada saja cara biar harga terus dikerek naik.
Pendapatan cuma cukup buat bayar hutang waktu musim tanam dan kepada buruh tani pun, terpaksa menunggak pembayaran upah.
Engga sedikit petani yang nyerah lantaran tekor terus sampai akhirnya memilih jual saja sawah atau ladangnya. Siapa yang membeli? Ya orang asing berKTP Indonesia tadi.
Sementara di kota, pasca banting tulang, ketika mengkonsumsi berita, membuka media sosial, amarah terus dipancing lewat gosip yang itu-itu saja. Akhirnya, saat harga diam-diam merangkak naik, lengah.
Tulang kudu dibanting ekstra untuk menutup kebutuhan dasar dan kredit riba. Harga dan amarah terlanjur naik. Sedangkan protes cuma bawa kata nihil.
Ketika kejepit, kendaraan yang baru selesai masa cicil, terpaksa sekolah di kantor rentenir.
Siapa yang bisa menolong ? Ya cuma kios jaminan BPKB dana tunai saja. Sementara penguasa, cuma menganjurkan kerja yang keras.
Pelaku politik pragmatis beserta jajarannya, baru mau kasih senyum jelang pemilihan. Sambil menjanjikan tentunya.
Lantaran terbuai seiring emosi, lupa kalau bakal dijepit lagi. Padahal semua ada jalan keluarnya yang rasanya ga perlu tumbal.
Toh kita punya Pancasila, UUD 1945 dan Koperasi. Tapi ke mana ya tiga makhluk ini?
Komentar
Posting Komentar