Kalau cuma kain hitam biasa bertuliskan HTI yang dibakar, rasanya ga bakal menyulut heboh. Tapi kalau ada kalimat Syahadatnya, ya jangan gitulah. Situ pernah dan sering ngucapin waktu sembahyang, saya juga. Samalah kita.
Tuh tuh, di luar yang ga pernah ngucapin kalimat itu dan kebetulan hatinya dengki, lagi ngetawain kita.
Tentu bukan kebetulan yang hatinya dengki baik di dalam atau luar, menggendong agenda tertentu soal siapa yang menang untuk lima tahun ke depan pasca April 2019 nanti. Mungkin lebih jauh lagi, timeline berskala internasional sedang disutradarai guna menguasai negeri ini.
Okelah pemegang pucuk pimpinan masih orang sini juga. Tapi dia kudu manut pada siapa ? Ke hati nuraninya sendiri, atau ke si Fulan yang ongkosi ambisinya ?
Suka atau tidak, kita dipaksa maklum atas kegaduhan yang belakangan muncul lagi. Mirip-mirip pas DKI Jakarta gelar hajatan cari pimpinan tempo harilah. Nah sekarang, jelang pemilihan Presiden lho. Bukan ga mungkin kalau set up pertarungan lebih panas lagi.
Kafir
Boleh dikata, kalau pakai sudut pandang yang sempit, cuma Ahok yang "kafir". Gara-gara berani-beraninya pidato biar dipilih lagi dengan seragam PNS DKI Jakarta dan sok-sokan ngutip ayat al-Qur'an, dia yang non Islam habis. Entah sudah pulang ke rumah apa belum setelah divonis bersalah waktu itu.
Setelahnya, tak satupun "kafir" yang berani-berani masuk arena pertarungan menuju kursi nomor 1. Hari Tanoe yang sempat berhasrat minimal jadi Wapres, dan sudah kampanye kemana-mana sebagai Ketua Umum Perindo sampe masuk Masjid segala, mundur selangkah dengan beri dukungan saja ke Joko Widodo sebagai petahana.
Joko Widodo bukan kafir. Dia bisa sholat, tapi entah soal baca Qur'an fasih atau tidak, saya tak tahu persis. Jelasnya, saat berdampingan dengan Ahok pada Pilkada Jakarta 2012 lalu, juga kena tinta cap kafir.
Biar sudah menggandeng Jusuf Kalla yang asli Bugis, stempelnya tak juga hilang begitu jadi Presiden mulai tahun 2014. Malah, makin kereng begitu Ahok dikerangkeng.
Bukan cuma dituduh pura-pura Islam, Jokowi juga dibilang anak PKI dan antek Cina. Apa betul begitu ? Wallahu a'lam bissawab. Cuma dia sebagai pemilik hati dan Tuhannya yang tahu.
Agar tuduhan itu mereda, dia gandeng Kyai Haji Ma'ruf Amin, bekas ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI). Berhasil ? Tak tahu juga. Lihat saja nanti.
Begitu juga Prabowo Subianto. Dia bukan kafir sebab sudah terang benderang, mengaku Islam sebagai agemannya. Apa dia fasih membaca al-Qur'an sebagai sumber hukum utama menurut keyakinannya ? Lagi-lagi saya tak tahu persis.
Yang jelas, saya sendiri masih sering terkecoh dengan gerak luwes politis, terutama pasca insiden pembakaran sehelai kain hitam bertulis kalimat Syahadat berwarna putih di Garut, Jawa Barat, tempo hari, menjadi viral.
Siapa Yang Kafir ?
Jika saya bilang orang di luar Islam bukan kafir, ngeri juga berujung repot kalau-kalau nanti berhadapan dengan orang yang lebih fasih membaca dan menginterpretasikan isi tiap hukum dalam al-Qur'an, al-Hadist, dan fatwa ulama besar terdahulu. Tapi kalau saya bilang non Islam kafir, bagaimana dengan perasaan teman-teman beragama lain yang saya tahu persis netral, dan tak pernah berkata busuk.
Ini perlu diwaspadai. Sebab akrobat politik masih di pusaran itu-itu saja, tanpa mengurai gagasan hebat soal bagaimana Indonesia kudu dikelola. Kuatirnya, pemilih yang benar-benar mau memilih, enggan coblos orang brengsek dari yang paling brengsek. Akhirnya, dia abstain lagi.
Memang, soal gagasan hebat bakal diteriakkan. Tapi itu nanti, kalau hari pemilihan sudah sangat dekat. Dengan format perdebatan, lagi-lagi saling menjatuhkan. Dari pengalaman kemarin, justru meninggalkan gaduh sisa semalam.
Kafir, menurut pemahaman saya pribadi, adalah orang yang pikiran dan perasaannya tertutup oleh kebenaran. Siapa dia ? Ciri-cirinya, tak mampu membaca situasi, kondisi, menyaring informasi, kemudian bertoleransi menyikapi gerah yang belakangan marak lagi.
Soalnya, kalau diambil huruf konsonannya saja yakni, K F dan R, mirip dengan kata Cover dalam bahasa Inggris. C V R, yang artinya terlindung, tertutup. Jadi sebut saja kupingnya budeg, mata buta, dan hatinya membatu.
Iqra yang artinya bacalah. Sudah jelas kok perintahNYA.
Sedangkan, banyak juga cendekia yang hampir mustahil terdeteksi niatnya dalam melontarkan opini. Kalau dilihat dari kulitnya saja, boleh jadi sedang berupaya mendulang untung di tengah gaduh.
Tukang Silat
Ada dua perbedaan soal seni bela diri asli Indonesia ini. Pertama, petarung sejati yang memilih beraksi di arena demi harum nama bangsa dan negaranya. Kedua, pesilat lidah yang anda sendiri tahulah bagaimana modelnya.
Pada hajatan ASIAN Games lalu, saat Hanifah Yudani Kusumah, pesilat Indonesia berhasil rebut gelar juara, dia yang petarung sejati, sudah mewanti-wanti agar pemilu nanti berlangsung damai.
Sambil menjubahkan badan dengan merah putih, Jokowi dan Prabowo dia peluk bersamaan sambil membisikkan sesuatu. Entah apa yang dia katakan.
Mungkin dia bilang begini : "Pak yang adem ya, jangan panas lagi."
Jokowi-Prabowo antusias sekali waktu itu. Mungkin pula nuraninya tersentuh dan ogah menghadapi kondisi panas lagi. Tapi yang repot, ketika tim kreatif dibiarkan berlenggang mengkreasikan model kampanye usang.
Siapa tim kreatif itu ? Entahlah. Jelasnya, beberapa oknum Banser begitu teganya membakar kain hitam bertuliskan kalimat Syahadat yang disangka bendera HTI.
Ini pasti upaya adu propaganda dan perang urat syaraf yang didesain sedemikian rupa. Cuma demi satu kata, menang. Itu saja.
Komentar
Posting Komentar